TRIBUNDEPOK-Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai marah atas kematian pria di Bali yang tewas usai dikeroyok massa karena diduga mencuri ayam.
Pigai menyebut kematian pria di Bali yang dikeroyok massa itu ada andil dari pejabat daerah yang membuat sayembara menangkap begal.
Tanpa menyebut nama, Pigai mengimbau para pejabat untuk menghentikan vigilantisme.
Vigilantisme adalah tindakan penegakan hukum atau keadilan yang dilakukan oleh individu atau kelompok warga biasa tanpa memiliki wewenang resmi dari negara. Praktik ini sering juga disebut sebagai aksi "main hakim sendiri"
Pigai pun mengimbau agar Komnas HAM untuk memanggil pejabat yang bersangkutan agar menarik kembali pernyataan soal sayembara menangkap begal.
“Saya sudah ingatkan soal vigilantisme. Kita juga akan menyaksikan banyak peristiwa seperti ini karena justru diperbolehkan oleh para pejabat bahkan bikin Sayembara. Kalau Komnas HAM seperti jaman Saya,”
“Saya sudah panggil para pejabat yang menentang kemanusiaan dengan mengabaikan proses hukum yang ada,” jelasnya.
Diketahui warga Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, meninggal dunia usai menjadi sasaran amuk massa di Kabupaten Tabanan.
Peristiwa itu terjadi setelah KD diduga kepergok mencuri seekor ayam aduan di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, pada Jumat (24/7/2026) dini hari.
Kabar duka tersebut menyisakan kesedihan mendalam bagi keluarga.
Perbekel Desa Sidetapa, I Made Sutama, mengaku ikut terpukul ketika menjemput jenazah korban.
Momen yang paling membekas baginya adalah saat melihat anak-anak KD menangis kehilangan ayah mereka.
Baca juga: Curanmor Bersenjata Api Keliaran di Depok, Sempat Terekam CCTV
Korban diketahui meninggalkan tiga orang anak. Anak sulung telah berkeluarga, sementara anak kedua masih duduk di bangku kelas 1 SMA dan anak bungsunya masih bersekolah di kelas 1 SD.
"Saya sedih melihat anak-anaknya menangis kehilangan ayahnya," ujar Sutama, Sabtu (25/7/2026).
Menurut Sutama, apa pun kesalahan yang diduga dilakukan seseorang, penyelesaiannya seharusnya tetap melalui jalur hukum, bukan dengan tindakan yang menghilangkan nyawa.
Sebelumnya sayembara menangkap begal juga pernah diutarakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Hadiahnya fantastis hingga mencapai Rp 50 juta atau sekitar 21 kali lipat upah minimum provinsi di Jabar bagi warga yang menyerahkan pelaku begal kepada polisi.
Sayembara itu berpotensi memperkuat partisipasi warga melawan kejahatan jalanan. Di sisi lain, kebijakan tersebut juga dikhawatirkan memicu aksi main hakim sendiri.
Dedi pertama kali mengumumkan sayembara melalui akun Instagram pribadinya, Kamis (23/7/2026). Dia mengaku prihatin dengan kasus begal yang marak terjadi dan ramai dibicarakan warganet. Dedi menyebut, hadiahnya diambil dari koceknya sendiri.