- Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC mengungkap strategi utama yang diklaim digunakan saat menghadapi militer Amerika Serikat.
Strategi tersebut bukan langsung menghancurkan pangkalan, melainkan lebih dulu membutakan kemampuan tempur lawan.
Juru bicara IRGC, Hossein Mohebi, mengatakan sasaran utama Iran adalah melumpuhkan sistem komando, intelijen, dan pengawasan milik AS.
"Poros strategis pertama adalah membutakan musuh, melumpuhkan pikiran operasionalnya, menghancurkan kemampuan pengawasannya, dan menghilangkan kemampuan komando operasionalnya, sehingga membuatnya berada dalam keadaan kebingungan dan syok," kata Mohebi dikutip Viory pada Minggu (26/7/2026)
Menurutnya, langkah itu membuat musuh kehilangan kemampuan membaca situasi serta mengambil keputusan di medan perang.
Selama 15 hari operasi, Iran mengklaim menyerang tujuh pusat komando dan kendali milik AS.
IRGC juga mengklaim menghancurkan sistem komunikasi satelit, radar Patriot, radar peringatan dini, hingga radar pertahanan udara.
Mohebi menyebut penghancuran sistem tersebut bertujuan melemahkan kemampuan deteksi serta koordinasi pasukan AS.
Dengan strategi itu, Iran mengklaim operasi militer lawan menjadi lebih lambat dan sulit merespons serangan lanjutan.
Selain radar dan pusat komando, Iran juga mengklaim menghantam fasilitas perawatan pesawat, gudang senjata, serta instalasi bahan bakar militer.
Enam peluncur rudal, pusat komunikasi intelijen, pusat data, dan fasilitas logistik juga disebut menjadi sasaran serangan.
IRGC bahkan mengklaim sebuah pusat kecerdasan buatan milik Amazon di Bahrain hancur total akibat serangan tersebut.
Menurut Mohebi, fasilitas itu digunakan untuk mendukung pengolahan data operasi militer AS di kawasan Timur Tengah.
Ia menegaskan target Iran bukan sekadar bangunan.
Melainkan pusat informasi yang disebut menjadi otak berbagai operasi militer AS.
Hingga kini Amazon maupun pemerintah AS belum memberikan tanggapan atas klaim kerusakan yang disampaikan IRGC.
Sementara itu, Bahrain menuduh Iran menyerang fasilitas sipil.
Sedangkan Yordania dan Kuwait mengaku berhasil mencegat sejumlah rudal dan drone Iran.
Ketegangan kedua negara pun terus meningkat setelah gencatan senjata yang sempat disepakati kembali gagal dipertahankan.
Kedua pihak juga saling menuding telah melanggar kesepakatan.