Empat Dekade Perjuangkan Energi Gelombang Laut, Zamrisyaf Masih Menanti Dukungan Negara
Muhammad Afdal Afrianto July 26, 2026 08:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Empat puluh tahun lalu, Zamrisyaf SY pernah dicap urang boco oleh sebagian warga kampungnya di Nagari Sitalang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. 

Dalam bahasa Minang, sebutan itu ditujukan kepada orang yang dianggap terlalu banyak berkhayal.

Saat banyak orang masih memikirkan bagaimana listrik bisa masuk ke kampung, Zamrisyaf justru berbicara tentang energi angin, mikrohidro, hingga gelombang laut sebagai sumber energi masa depan.

Kini, empat dekade telah berlalu. Rambutnya mulai memutih, tetapi satu hal tidak pernah berubah: mimpinya menghadirkan listrik dari gelombang laut.

Berawal dari Teknologi Sederhana

Jauh sebelum energi baru terbarukan menjadi isu nasional, Zamrisyaf telah mengabdikan dirinya pada pengembangan teknologi energi alternatif.

Baca juga: Saat Listrik Padam, Masjid Buya Syafii Maarif di Sijunjung Tetap Terang Berkat PLTS

Pada era Gubernur Hasan Basri Durin, ia dikenal sebagai salah satu pelopor pengembangan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) di Sumatera Barat. 

Baginya, energi bukan sekadar membuat lampu menyala, tetapi menjadi jalan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di daerah terpencil.

Ia meyakini teknologi tidak harus mahal. Yang lebih penting adalah mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Seiring waktu, perhatian Zamrisyaf beralih ke laut. 

Menurutnya, garis pantai Sumatera Barat yang menghadap langsung ke Samudra Hindia menyimpan potensi energi gelombang yang sangat besar, namun hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal.

"Kalau negara lain bisa memanfaatkan gelombang laut sebagai sumber energi, mengapa kita tidak?" menjadi gagasan yang terus ia suarakan selama bertahun-tahun.

Empat Dekade Menunggu Dukungan Nyata

Perjalanan panjang itu tidak selalu berjalan mulus.

Selama puluhan tahun menekuni dunia energi terbarukan, Zamrisyaf mengaku telah berkali-kali mempresentasikan gagasannya kepada berbagai pihak. 

Banyak yang memberikan apresiasi, memuji idenya, bahkan menjanjikan dukungan.

Namun, menurutnya, sebagian besar berhenti sebatas wacana.

Proposal yang disusun tidak sedikit yang berakhir menjadi tumpukan dokumen. Riset selesai sebagai laporan akademik, tetapi belum berkembang menjadi teknologi yang benar-benar dimanfaatkan masyarakat.

Baginya, tantangan terbesar pengembangan energi terbarukan di Indonesia bukan pada kurangnya peneliti, melainkan minimnya keberanian membawa hasil riset menuju tahap implementasi.

Baca juga: METI Sumbar Resmi Terbentuk, Siap Kawal Transisi Energi Bersih

Membangun Kolaborasi Lewat METI Sumbar

Berangkat dari pengalaman tersebut, Zamrisyaf ikut menggagas berdirinya Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Wilayah Sumatera Barat.

Ia menilai pengembangan energi bersih tidak bisa lagi dilakukan secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, dunia usaha, dan masyarakat agar inovasi mampu diterapkan secara nyata.

Menurutnya, masa depan energi tidak cukup dibangun melalui seminar atau diskusi, melainkan melalui riset yang didukung kebijakan dan pendanaan yang memadai.

Harapan kepada DPD RI

Di tengah perjuangannya, Zamrisyaf kini menaruh harapan kepada Anggota DPD RI asal Sumatera Barat, Muslim M. Yatim.

Ia berharap pemerintah memberi perhatian lebih terhadap riset energi baru terbarukan, khususnya pengembangan teknologi energi gelombang laut.

"Bantulah membuka jalan. Minimal melalui dukungan dana riset di universitas-universitas di Sumatera Barat. Selama ini penelitian sudah banyak, tetapi dampaknya terhadap pengembangan teknologi masih sangat minim," ujarnya.

Menurut Zamrisyaf, perguruan tinggi di Sumatera Barat memiliki sumber daya manusia yang mumpuni. Namun, keterbatasan anggaran membuat banyak hasil penelitian belum mampu berkembang menjadi teknologi yang siap diterapkan.

Menanggapi hal tersebut, Muslim M. Yatim menilai Zamrisyaf merupakan aset bangsa yang patut mendapat dukungan.

Menurutnya, Zamrisyaf telah menunjukkan dedikasi selama puluhan tahun dalam pengembangan energi terbarukan. Ia juga telah menerima penghargaan Kalpataru serta memiliki dua hak paten di bidang teknologi energi gelombang laut.

"Tokoh seperti Pak Zamrisyaf sudah membuktikan dedikasinya sejak puluhan tahun lalu. Beliau pernah menerima penghargaan Kalpataru, memiliki dua lisensi hak paten di bidang teknologi pengembangan energi gelombang laut, dan terus konsisten berkarya meski dengan berbagai keterbatasan. Orang-orang seperti ini semestinya mendapat ruang dan dukungan untuk terus berkarya bagi bangsa," ujar Muslim.

Ia menambahkan, pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan dunia industri perlu membangun kolaborasi agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi berkembang menjadi teknologi yang dapat diterapkan.

"Potensi energi laut Indonesia sangat besar. Sumatera Barat memiliki garis pantai yang panjang dan karakter gelombang yang layak diteliti. Saya berharap ada sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan para inovator seperti Pak Zamrisyaf sehingga gagasan ini dapat diwujudkan menjadi program nyata," katanya.

Bagi Zamrisyaf, dukungan nyata itulah yang telah lama dinantikannya.

Bukan sekadar pujian atau tepuk tangan, melainkan keberpihakan terhadap para inovator daerah yang memilih menempuh jalan sunyi inovasi.

Empat dekade sejak dijuluki urang boco, mimpi itu masih ia pelihara. Ia percaya, suatu hari nanti listrik yang berasal dari gelombang laut bukan lagi sekadar gagasan, melainkan menjadi bagian dari masa depan energi Indonesia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.