TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Upaya menurunkan prevalensi stunting di Indonesia tidak hanya bergantung pada ketersediaan pangan bergizi, tetapi juga pemahaman orang tua dalam memilih dan memberikan asupan yang sesuai bagi anak.
Literasi gizi menjadi salah satu faktor penting karena menentukan kemampuan keluarga memahami kebutuhan nutrisi anak sesuai usia dan tahap tumbuh kembangnya.
Di tengah semakin beragamnya produk pangan dan minuman yang beredar di pasaran, masih banyak orang tua yang belum memahami perbedaan fungsi setiap jenis produk susu.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi menyebabkan kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi secara optimal, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang menjadi fase penting dalam mencegah stunting.
Baca juga: Rajin Minum Vitamin tapi Belum Ada Hasil? Ini Faktor Penentu Penyerapan Nutrisi Menurut Pakar
Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, dr Lovely Daisy, menegaskan setiap produk susu memiliki kandungan dan fungsi yang berbeda sehingga masyarakat perlu memahami peruntukannya sebelum diberikan kepada anak.
Menurut Lovely, susu kental manis tidak disusun sebagai sumber gizi utama untuk memenuhi kebutuhan nutrisi balita pada masa pertumbuhan.
Ia menjelaskan tingginya kandungan gula pada produk tersebut berfungsi sebagai pengawet alami sehingga masa simpannya lebih panjang.
"Gula ini sengaja ditambahkan sebagai pengawet alami agar produk memiliki masa simpan yang lama, sehingga sebagian besar kalori yang dihasilkan oleh kental manis berasal dari karbohidrat atau gula," ujar Lovely dikutip, Minggu (26/7/2026).
Karena itu, ia menilai peningkatan literasi gizi masyarakat menjadi sama pentingnya dengan upaya memperluas akses terhadap pangan bergizi.
Orang tua perlu memahami kandungan, sasaran usia, hingga cara penyajian produk agar kebutuhan nutrisi anak dapat terpenuhi secara optimal.
Kondisi tersebut masih ditemui di Kabupaten Pringsewu, Lampung.
Meski berbagai produk susu, mulai dari susu pertumbuhan hingga susu UHT, mudah diperoleh masyarakat, kemudahan akses belum selalu diikuti dengan pemahaman mengenai jenis produk yang sesuai untuk mendukung tumbuh kembang anak.
Bidan Desa Blitar Rejo, Catur Yuli Megawati, mengatakan tantangan yang dihadapi bukan semata-mata keterbatasan ekonomi, melainkan rendahnya literasi gizi.
Menurut dia, banyak anak lebih menyukai minuman susu dengan rasa manis dibandingkan susu tanpa tambahan rasa.
"Kalau dikasih susu biasa, banyak yang tidak mau. Akhirnya kami cari cara lain, misalnya dibuat puding supaya anak-anak tetap mau mengonsumsinya," kata Catur.
Ia menilai edukasi kepada orang tua tidak cukup hanya mendorong konsumsi susu, tetapi juga perlu menjelaskan jenis produk yang sesuai dengan kebutuhan anak, cara penyajian yang benar, serta membangun kebiasaan makan sehat sejak usia dini.
Persoalan serupa dialami warga Desa Blitar Rejo, Eka Saryati.
Karena anaknya tidak memperoleh ASI, ia memberikan susu pertumbuhan sejak bayi.
Namun, selama ini ia mengaku belum mengetahui cara penyeduhan yang benar sehingga berpotensi memengaruhi kualitas nutrisi yang diterima anak.
"Saya baru tahu kalau cara menyeduh saya salah ternyata," ujar Eka.
Setelah mendapatkan pendampingan dari kader kesehatan, cara penyajian susu diperbaiki dan orang tua memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai pemenuhan gizi anak.
Ketua PW Aisyiyah Lampung, Pristi Wahyu Diawati, mengatakan pemahaman masyarakat mengenai berbagai produk susu mulai mengalami perubahan berkat edukasi yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut dia, masyarakat kini mulai memahami bahwa tidak semua produk yang dikenal sebagai susu memiliki fungsi yang sama dalam mendukung pertumbuhan anak.
Meski demikian, Pristi menilai edukasi harus terus dilakukan agar masyarakat mampu memilih produk sesuai usia dan kebutuhan anak serta tidak lagi dipengaruhi kebiasaan atau persepsi yang telah berkembang selama bertahun-tahun.
"Dulu banyak yang menganggap susu kental manis itu memang susu untuk pertumbuhan. Sekarang pemahamannya sudah mulai berubah, tetapi edukasi tetap harus dilakukan dengan pendekatan kekeluargaan agar masyarakat tidak merasa disalahkan," katanya.
(Tribunnews.com/ Eko Sutriyanto)