Syekh Yusuf al-Makassari dan Mata Rantai Dakwah Sayyid Jamaluddin Akbar Tosora
Ari Maryadi July 26, 2026 10:05 PM

Catatan Ekspedisi Ziarah Ulama Sulawesi Selatan (Bagian 2)

Fadly Ibrahim
Sekretaris Yayasan Haji Ahmad Surur

 

HISTORIOGRAFI Islam Sulawesi Selatan selama ini hampir selalu menempatkan tahun 1605 sebagai titik awal islamisasi, ketika Datuk ri Bandang, Datuk Patimang, dan Datuk ri Tiro berhasil mengislamkan kerajaan-kerajaan besar di jazirah Sulawesi Selatan. Peristiwa ini memang merupakan tonggak penting karena sejak saat itu Islam memperoleh legitimasi politik dan diintegrasikan ke dalam sistem pangadereng melalui pembentukan parewa syara', yang terdiri atas qadhi, imam, katte, dan amil. Namun, penekanan yang terlalu besar pada momentum politik tersebut kerap membuat fase-fase awal islamisasi seolah menghilang dari ingatan sejarah. Akibatnya, proses panjang yang mempersiapkan penerimaan Islam di tengah masyarakat tidak memperoleh perhatian yang memadai.

Tradisi lokal dan sejumlah sumber silsilah justru mencatat kehadiran Sayyid Jamaluddin Akbar al-Husaini di Tosora, Wajo, jauh sebelum kedatangan tiga datuk. Dakwah yang beliau lakukan memang belum mengubah Islam menjadi agama resmi kerajaan, tetapi telah menanamkan fondasi awal bagi tumbuhnya komunitas-komunitas Muslim yang kemudian berkembang pada masa berikutnya. Dengan kata lain, islamisasi Sulawesi Selatan tidak lahir secara tiba-tiba pada 1605, melainkan merupakan puncak dari proses sosial-keagamaan yang telah berlangsung jauh sebelumnya.

Warisan dakwah Sayyid Jamaluddin Akbar tidak berhenti pada sosoknya. Melalui jaringan keturunan dan murid-muridnya, estafet dakwah terus berlangsung melintasi generasi dan wilayah. Sebagian keturunannya tampil sebagai ulama, sebagian lainnya mengemban amanah sebagai parewa syara', bahkan ada pula yang menjadi penguasa. Salah satu mata rantai penting dapat ditelusuri melalui garis keturunannya di Cirebon, yakni Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Dari jalur inilah lahir Sultan Ageng Tirtayasa, yang putrinya, Syarifah Ratu Aminah, dipersunting oleh Syekh Yusuf al-Makassari. Dari pernikahan tersebut lahir Maulana Jalaluddin Daengta ri Unita. Pertautan genealogis ini memperlihatkan bahwa dakwah Islam Nusantara berkembang melalui perjumpaan antara sanad keilmuan, ikatan keluarga, dan hubungan antarkerajaan. Genealogi, dalam konteks ini, bukan sekadar silsilah keluarga, melainkan medium transmisi ilmu, otoritas, dan kepemimpinan keagamaan.

Dalam perspektif tersebut, Syekh Yusuf al-Makassari menjadi simpul penting yang menghubungkan warisan dakwah Sayyid Jamaluddin Akbar dengan perkembangan Islam di Sulawesi Selatan pada fase-fase berikutnya. Melalui jaringan keturunan, murid, dan otoritas keilmuannya lahir banyak ulama, qadhi, dan pemegang otoritas keagamaan yang meneruskan tradisi Islam di berbagai wilayah. Karena itu, menempatkan Syekh Yusuf hanya sebagai ulama besar, tokoh tarekat, atau pejuang antikolonial belumlah cukup. Ia juga merupakan penghubung penting dalam mata rantai panjang islamisasi yang memperlihatkan kesinambungan antara fase awal dakwah komunitas dengan pelembagaan Islam pada masa kerajaan.

Pengaruh keturunan Syekh Yusuf al-Makassari tampak sangat dominan dalam perkembangan dakwah Islam di Gowa dan sekitarnya sejak abad ke-17, dan pengaruh yang sama juga menjangkau kerajaan-kerajaan Bugis. Dua anak Maulana Jalaluddin Daengta ri Unita, yaitu Siti Habibah dan Siti Aisyah, menikah dengan La Temmassonge, Raja Bone. Dari garis keturunan ini lahir We Mida Arung Lapanning yang kemudian melahirkan We Banri Gau, tokoh yang menjadi simpul bagi lahirnya rumpun ulama di Wajo, Soppeng, Sidrap, Sinjai dan Bulukumba. Dari jaringan inilah muncul nama-nama ulama berpengaruh, seperti Syekh Abdul Aziz, Syekh Abdul Majid, Syekh Zainal Abidin, Syekh Abdurahman Sinjai, AGH. Muhammad As'ad, AGH. Daud Ismail, hingga  AGH. Muin Yusuf Kali Sidenreng dan AGH. Abdul Karim Kali Tanete Buluklumba .

Pada jalur keturunan lainnya, We Seno Datu Citta melahirkan rumpun ulama yang berkembang di Pinrang dan Barru, di antaranya AGH. Ali Yafie dan AGH. Djamaluddin Aliyah. Sementara itu, di Bone, Sayyid al-Faqih Amrullah yang dikenal sebagai qadhi pertama Kerajaan Bone mewariskan tradisi keulamaan yang secara turun-temurun dipercaya mengemban jabatan qadhi. Keturunan keluarga ini kemudian menjalin hubungan perkawinan dengan keturunan La Temmassonge sehingga memperkuat jejaring ulama Bone. Terdapat juga sosok La Genni Arung Mampu yang bertemu kembali dengan garis La Temmassonge melahirkan rumpun ulama berpengaruh, antara lain AGH. Abduh Safa beserta putra-putranya. Tampaknya pada simpul arung mampu ini juga bertemu dengan leluhur AGH. Nasaruddin Umar.

Deretan nama tersebut bukan dimaksudkan sekadar menunjukkan luasnya hubungan genealogis, melainkan memperlihatkan pola keberlanjutan dakwah yang diwariskan lintas generasi. Hampir seluruh pusat keulamaan Bugis pada abad-abad berikutnya saling terhubung melalui jaringan keluarga dan sanad keilmuan yang berakar pada Syekh Yusuf al-Makassari. Fakta ini menunjukkan bahwa islamisasi Sulawesi Selatan tidak berhenti ketika kerajaan-kerajaan memeluk Islam, tetapi terus dipelihara oleh keluarga-keluarga ulama yang menjaga pendidikan, otoritas keagamaan, dan kehidupan sosial masyarakat.

Karena itu, historiografi Islam Sulawesi Selatan perlu dibaca dengan perspektif yang lebih luas. Penulisan sejarah tidak cukup hanya menyoroti momentum konversi kerajaan pada 1605 sebagai sebuah peristiwa politik, tetapi juga perlu memberi ruang bagi sejarah jaringan ulama yang bekerja dalam rentang waktu panjang. Perspektif jaringan (network history) memungkinkan kita melihat bahwa keberhasilan islamisasi tidak hanya ditentukan oleh keputusan para raja, melainkan juga oleh kesinambungan sanad keilmuan, hubungan genealogis, dan institusi keagamaan yang memelihara Islam setelah momentum politik berlalu.

Pada akhirnya, Syekh Yusuf al-Makassari merupakan simpul yang menyambungkan dakwah awal Sayyid Jamaluddin Akbar dengan perkembangan Islam Sulawesi Selatan pada masa-masa berikutnya. Dari simpul inilah lahir jejaring ulama yang membentuk lanskap keislaman Bugis-Makassar hingga era modern.

Membaca kembali mata rantai tersebut, sebagau upaya melengkapi historiografi dan ikhtiar untuk memahami bahwa kekuatan Islam di Sulawesi Selatan bertumpu pada kesinambungan tradisi keilmuan, jaringan sosial, dan kepemimpinan ulama yang diwariskan dari generasi ke generasi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.