TRIBUN TIMUR, MAKASSAR – Setiap Sabtu pagi, ketika sebagian warga masih menikmati waktu libur, Sumardi Supriadi (34), justru telah berada di jalan lingkungan RT 02 RW 05 Kelurahan Bara-Baraya, Kecamatan Makassar, Kota Makassar, Sulsel.
Dengan sapu di tangan dan senyum yang tak pernah lepas, ia menyapa satu per satu warga yang datang untuk bergotong royong membersihkan lingkungan.
Bagi Sumardi, jabatan Ketua RT bukan sekadar mengurus administrasi kependudukan atau menandatangani surat pengantar.
Amanah tersebut dimaknainya sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, bukan sekadar menjalankan tugas administratif.
Ia ingin setiap program pemerintah benar-benar dirasakan manfaatnya sekaligus memperkuat kebersamaan di tengah warga.
Wilayah yang dipimpinnya memang tidak terlalu luas.
RT 02 memiliki 40 rumah yang dihuni 78 kepala keluarga (KK) dengan total 263 jiwa.
Rinciannya 134 laki-laki dan 129 perempuan.
Di kawasan tersebut juga berdiri UPT SPF SD Negeri 1 Bara-Baraya, yang menjadi salah satu fasilitas pendidikan bagi masyarakat sekitar.
Pria berdarah Kabupaten Enrekang itu dipercaya memimpin RT 02 RW 05 Kelurahan Bara-Baraya.
Di sela kesibukannya sebagai Ketua RT, ia juga aktif sebagai pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kecamatan Makassar.
Pengalaman aktif di organisasi kepemudaan membentuk kemampuan Sumardi dalam berkomunikasi dan membangun kedekatan dengan berbagai kalangan.
Bekal itulah yang kini ia terapkan saat memimpin lingkungan tempat tinggalnya.
“Alhamdulillah sejak diamanahkan menjadi Ketua RT, saya berusaha menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya. Yang paling penting adalah bagaimana warga bisa kompak dan saling peduli,” ujar Sumardi saat berbincang dengan Tribun Timur, Minggu (26/7/2026).
Semangat itu kemudian diwujudkannya melalui sejumlah program yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat.
Salah satu yang paling rutin adalah Sabtu Bersih, kegiatan gotong royong yang digelar setiap pekan.
Sejak pagi, warga bersama-sama menyapu lorong, membersihkan saluran drainase, memangkas rumput liar, hingga mengangkut sampah yang menumpuk di sudut-sudut lingkungan.
Menurut Sumardi, kerja bakti bukan hanya bertujuan menciptakan kawasan yang bersih.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahmi yang mempertemukan warga di tengah padatnya aktivitas perkotaan.
Ia menyadari banyak tetangganya bekerja sebagai buruh lepas maupun pekerja harian yang berangkat sejak pagi dan baru pulang menjelang malam.
Kesibukan itu membuat mereka jarang memiliki waktu untuk sekadar berbincang dengan tetangga.
Karena itu, Sabtu Bersih menjadi cara sederhana untuk menghidupkan kembali budaya gotong royong yang mulai memudar.
“Kalau lingkungan bersih itu memang tujuan utama. Tapi yang lebih penting lagi, warga saling mengenal, saling membantu, dan semakin akrab satu sama lain,” katanya.
Tidak berhenti pada kebersihan lingkungan, Sumardi juga mengajak masyarakat memanfaatkan lahan kosong dan pekarangan rumah melalui program urban farming.
Sedikit demi sedikit, warga mulai menanam sayuran dan tanaman produktif yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga.
Menurutnya, program tersebut bukan hanya mempercantik lingkungan, tetapi juga menjadi langkah kecil membangun ketahanan pangan keluarga.
“Urban farming sudah mulai berjalan. Kami ingin warga terbiasa memanfaatkan lahan yang ada sehingga lingkungan menjadi lebih hijau dan produktif,” ujarnya.
Belakangan, perhatian Sumardi juga tertuju pada persoalan pengelolaan sampah.
Sumardi juga aktif menyosialisasikan gerakan pilah sampah kepada warga.
Edukasi tersebut dilakukan menjelang penerapan kebijakan baru Pemkot Makassar yang mewajibkan pemilahan sampah dari rumah mulai 1 Agustus 2026.
Dari rumah ke rumah, Sumardi menjelaskan jenis-jenis sampah yang harus dipisahkan.
Mulai dari sampah organik, anorganik, residu, hingga limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
Ia menerangkan bahwa nantinya hanya sampah residu yang akan diangkut menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Sedangkan sampah organik maupun anorganik diharapkan dapat dikelola terlebih dahulu di tingkat rumah tangga.
“Kalau masyarakat memahami cara memilah sampah sejak dari rumah, volume sampah yang dibuang ke TPA akan jauh berkurang. Ini yang terus kami sosialisasikan,” jelasnya.
Menurut Sumardi, warga menyambut baik kebijakan tersebut.
Meski membutuhkan penyesuaian, masyarakat mulai memahami pentingnya mengubah kebiasaan dalam mengelola sampah.
Ia menilai perubahan perilaku memang tidak bisa dilakukan dalam semalam, tetapi harus dibangun melalui edukasi yang berkelanjutan.
Selain mengawal program lingkungan, Sumardi juga berkomitmen memberikan pelayanan kepada masyarakat secara terbuka dan transparan.
Ia menegaskan menolak segala bentuk gratifikasi maupun pungutan liar dalam memberikan pelayanan administrasi.
Bahkan ketika ada warga yang membutuhkan bantuan, ia berusaha selalu hadir memberikan pendampingan.
Mulai dari membantu pengurusan administrasi hingga memfasilitasi kebutuhan warga sesuai kewenangannya.
Baginya, menjadi Ketua RT berarti harus siap melayani kapan pun masyarakat membutuhkan.
Di wilayah yang dipimpinnya, sebagian besar warga bekerja sebagai buruh lepas.
Sebagian keluarga juga masih masuk dalam kategori kemiskinan ekstrem.
Karena itu, Sumardi ikut mengawal penyaluran bantuan sosial agar tepat sasaran.
Ia menyebut sekitar 25 kepala keluarga telah menerima bantuan pemerintah.
Sementara sejumlah warga lain masih terus diusulkan agar memperoleh bantuan sesuai ketentuan.
“Masih ada warga yang kami usulkan karena memang layak menerima bantuan. Mudah-mudahan semuanya bisa terakomodasi,” katanya.
Bagi Sumardi, membangun lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan anggaran pemerintah.
Yang paling penting adalah menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan sesama.
Bagi Sumardi, kekuatan sebuah lingkungan terletak pada kepedulian warganya.
Bahkan perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Cukup dengan menyapu bersama, menanam di pekarangan, memilah sampah.
Yang terpenting baginya adalah saling peduli antartetangga, lingkungan perlahan akan berubah menjadi lebih baik.
Itulah yang terus ia lakukan di RT 02 RW 05 Kelurahan Bara-Baraya.
“Menurut saya, menjadi Ketua RT bukan hanya mengurus administrasi, tetapi kita juga wajib menjaga kebersamaan agar tetap hidup di tengah masyarakat,” pungkasnya.(*)