Rumoh Rapai Pase Dideklarasikan dalam Duel Akbar 50 Rapai Warisan Indatu dan Gen Z
Ansari Hasyim July 26, 2026 10:20 PM

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin | Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Rumoh Rapai Pase resmi dideklarasikan dalam Pertunjukan Budaya Duel Akbar 50 Rapai Pase yang mempertemukan kubu Blah Nou Krueng dan Blah Deh Krueng di Seung (Arena Uroeh), Gampong Dayah Meuria, Kecamatan Syamtalira Aron, Kabupaten Aceh Utara, Sabtu (25/7/2026) malam.

Deklarasi tersebut menjadi tonggak penting dalam upaya pelestarian Rapai Pase. Kehadiran Rumoh Rapai Pase diharapkan menjadi wadah yang memperkuat riset, dokumentasi, regenerasi, pembelajaran, hingga promosi salah satu warisan budaya khas Aceh Utara.

Mengusung tema "Gemuruh Warisan, Harmoni Peradaban", pertunjukan budaya ini menghadirkan 50 Rapai Pase. Sebagian besar merupakan rapai pusaka peninggalan indatu dari abad ke-18 dan ke-19 yang diwariskan secara turun-temurun, sementara tujuh lainnya merupakan karya generasi muda (Gen Z).

Sebanyak 25 rapai memperkuat kubu Blah Nou Krueng (wilayah Tengah-Barat Aceh Utara) dan 25 rapai lainnya berasal dari Blah Deh Krueng (wilayah Tengah-Timur Aceh Utara).

Pertemuan dua kubu dalam satu arena bukan sekadar menjadi ajang pertandingan Rapai Pase, tetapi juga melambangkan persatuan dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya Aceh.

Bupati Aceh Utara, H Ismail A Jalil MM, yang diwakili Sekretaris Daerah Aceh Utara, Dayan Albar MAP, secara resmi membuka Pertunjukan Budaya Duel Akbar 50 Rapai Pase sekaligus mendeklarasikan Rumoh Rapai Pase.

Dalam sambutan tertulis Bupati yang dibacakan Sekda, disampaikan petuah Aceh:

"Adat bak Poteumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana."

Baca juga: Tujuh Rapai Generasi Muda dan Puluhan Rapai Pase Pusaka Siap Gentarkan Malam Duel Akbar Aceh Utara

Menurut Bupati, petuah tersebut mengandung makna bahwa kehidupan masyarakat Aceh dibangun di atas keseimbangan antara adat, syariat, aturan, dan kebijaksanaan.

"Karena itu, menjaga budaya bukan hanya mempertahankan sebuah kesenian, tetapi juga menjaga sendi-sendi peradaban yang diwariskan para leluhur kepada generasi berikutnya," demikian isi sambutan tersebut.

Bupati juga menegaskan, masyarakat yang hadir malam itu tidak hanya menyaksikan sebuah pertunjukan seni, tetapi juga menjadi saksi sejarah agar warisan leluhur tetap hidup dan menjadi napas kebudayaan bagi generasi penerus.

Ia turut mengapresiasi panitia, para syekh, awak Rapai Pase, tokoh masyarakat, generasi muda, dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan.

Menurutnya, Duel Akbar 50 Rapai Pase bukan hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi, memperkuat persatuan, menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya daerah, serta menjadi sarana pembinaan bagi generasi muda agar semakin mencintai seni tradisi Aceh.

Selain menjadi ajang pertunjukan budaya, malam itu juga menjadi momentum deklarasi Rumoh Rapai Pase sebagai wadah bersama bagi pelaku budaya, akademisi, generasi muda, dan masyarakat untuk melakukan pelestarian, riset, dokumentasi, edukasi, regenerasi, hingga promosi Rapai Pase.

Keberadaan wadah tersebut diharapkan mampu memperkuat pendokumentasian sejarah, nama, silsilah, serta pengetahuan para syekh dan perajin Rapai Pase yang selama ini sebagian besar diwariskan melalui tradisi lisan.

"Pemerintah Kabupaten Aceh Utara akan terus mendukung berbagai upaya pelestarian seni, budaya, dan adat istiadat sebagai aset masa depan yang mampu memperkuat jati diri masyarakat serta mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif," ujar Dayan Albar saat membacakan sambutan Bupati.

Usai sambutan, Sekda Aceh Utara secara resmi membuka Pertunjukan Budaya Duel Akbar 50 Rapai Pase dan mendeklarasikan Rumoh Rapai Pase dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim.

Duel Akbar kali ini memiliki daya tarik tersendiri karena mempertemukan rapai-rapai pusaka peninggalan indatu dengan karya baru generasi muda, sehingga memperlihatkan kesinambungan tradisi dari masa lalu hingga masa kini.

Sementara itu, Ketua Panitia sekaligus Tim Rumoh Rapai Pase, Jafaruddin, mengatakan Duel Akbar 50 Rapai Pase merupakan bagian dari program Pelestarian Warisan Rapai Pase melalui Riset, Pertunjukan Budaya, Dokumentasi Buku, dan Promosi Digital.

Program tersebut digagas Tim Rumoh Rapai Pase yang melibatkan dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh bersama pelaku budaya, komunitas pecinta budaya Aceh, dan jurnalis.

Kegiatan ini mendapat dukungan Dana Indonesiana yang dikelola LPDP bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

"Melalui rangkaian kegiatan ini, Rapai Pase tidak hanya kembali bergemuruh di arena uroeh, tetapi juga didokumentasikan melalui riset, buku, video, dan media digital sebagai upaya meninggalkan jejak pengetahuan bagi generasi mendatang," kata Jafaruddin.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya kegiatan, khususnya BPMA-MedcoEnergi, PGE, Bank Syariah Indonesia (BSI), Bank Aceh, Perta Arun Gas, serta para donatur lainnya.

"Dukungan para mitra bukan hanya membantu terlaksananya pertunjukan budaya ini, tetapi menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menjaga, merawat, mendokumentasikan, dan mewariskan Rapai Pase kepada generasi berikutnya," pungkasnya.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.