Diterjemahkan oleh
Keputusan tersulit: apakah sudah tiba waktunya Al-Nassr berpisah dengan Cristiano Ronaldo?
Badai krisis melanda Al Alami
Al-Nassr sedang menjalani salah satu periode tergelap dalam sejarah modern mereka. Krisis keuangan telah menaungi masa depan klub Arab Saudi itu, dan keadaan ini bisa mengguncang seluruh proyek olahraga mereka.
Di tengah kabar soal utang besar dan kesulitan menuntaskan perekrutan anyar, nama Cristiano Ronaldo kembali menjadi sorotan. Kali ini yang dibahas bukan gol atau angka-angkanya, melainkan pertanyaan yang lebih berani dari sebelumnya: apakah sudah waktunya ia pergi?
Singkirkan dulu nilai historis Ronaldo dan apa yang ia berikan di lapangan. Dengan utang Al-Nassr yang mencapai 800 juta riyal, keberlanjutan kebersamaannya membuat situasi ini menjadi bencana dalam arti yang paling utuh.
Proyek yang menguras anggaran
Ronaldo telah mengubah citra liga Arab Saudi di mata dunia, serta meningkatkan nilai pemasaran Al-Nassr secara belum pernah terjadi sebelumnya. Namun sebagai gantinya, ia memimpin proyek yang dianggap sebagai yang termahal dalam sejarah klub.
Gaji besar yang diterima bintang Portugal itu, bersama berbagai fasilitas yang melekat pada kontraknya, menjadi beban finansial yang luar biasa. Semua itu terjadi saat Al-Nassr sedang mengalami krisis yang jelas, yang membuat mereka tak mampu menuntaskan kesepakatan baru atau bahkan menyelesaikan berkas perpanjangan kontrak sejumlah pemain mereka.
Pembicaraan mengenai utang besar pun mulai mencuat. Maka pertanyaannya menjadi logis: bisakah Al-Nassr melanjutkan proyek ini dengan biaya yang sama?
Sepak bola tidak dibangun di atas satu pemain
Proyek-proyek besar dalam sepak bola telah menunjukkan satu hal: kesuksesan yang bertahan lama tidak pernah bertumpu pada satu bintang saja. Ia bertumpu pada sistem pemain yang utuh, seorang pelatih, dan manajemen yang stabil.
Mengakhiri proyek Ronaldo akan membuka ruang finansial yang sangat besar bagi Al-Nassr. Setelah itu, manajemen bisa menuntaskan lebih dari satu transfer yang berdampak dan menyelesaikan sebagian kewajiban finansial mereka, alih-alih menuangkan sebagian besar anggaran pada satu pemain saja.
Baca juga: Federasi Arab Saudi terbangun: 5 juta menyulut pasar transfer dan mengunci kesepakatan Portugal
Pertanyaannya, jadi, bukan soal nilai teknis Ronaldo. Yang dipertimbangkan adalah biaya keseluruhan proyek dibandingkan dengan hasil olahraga yang sejauh ini berhasil diraih tim.
Bagaimana jika ia tetap bertahan?
Namun, Ronaldo tidak bisa memikul seluruh kesalahan atas krisis ini sendirian. Ia tetap menghasilkan angka-angka yang mengesankan, menjaga profesionalismenya, terus mencetak gol dan membuat perbedaan, sementara daya tarik komersialnya memberi klub sumber pendapatan yang sangat penting.
Mempertahankan sang pemain, bagaimanapun, juga berarti menunaikan komitmen finansial yang sangat besar. Itu bisa menghambat upaya manajemen untuk membangun ulang skuad, terutama jika krisis keuangan ini ternyata lebih dalam daripada yang diperkirakan siapa pun.
Keputusan ini, pada akhirnya, tidak akan murni soal olahraga. Ini juga akan menjadi keputusan ekonomi, yang mengaitkan langsung masa depan Ronaldo dengan kemampuan Al-Nassr untuk keluar dari krisis yang mereka hadapi saat ini.
SUKA DENGAN CERITA INI?
Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak laporan kami
Keputusan tersulit
Jika tujuan mereka hanya untuk bersaing merebut gelar musim ini, mempertahankan Ronaldo mungkin masih masuk akal. Tetapi membangun proyek berkelanjutan yang mengembalikan Al-Nassr ke puncak selama bertahun-tahun ke depan bisa memaksa manajemen mengambil keputusan tersulit dalam sejarah modern mereka.
Kepergian Ronaldo tidak akan berarti akhir bagi Al-Nassr, sama seperti kehadirannya juga tidak menjamin apa pun. Satu hal yang pasti: krisis saat ini telah membuka pintu yang tak pernah dibayangkan akan terbuka. Apakah mengakhiri proyek Ronaldo kini menjadi solusi untuk menyelamatkan Al-Nassr?