LK Ara, Penyair Gayo Terima Penghargaan Penyair Adiluhung Hari Puisi Indonesia
Budi Fatria July 27, 2026 11:54 AM

TribunGayo.com, JAKARTA - Usia boleh senja, tetapi bagi penyair Gayo, LK Ara, puisi tidak pernah mengenal kata berhenti.

Pada usia 88 tahun, penyair kelahiran 12 November 1937 itu menerima penghormatan penting dalam perjalanan panjang karier kepenyairannya.

LK Ara dianugerahi penghargaan Penyair Adiluhung dalam puncak perayaan Hari Puisi Indonesia 2026 yang berlangsung di Graha Utama Gedung A Lantai 3 Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jalan Sudirman, Jakarta, Minggu (26/7/2026).

LK Ara hadir langsung menerima penghargaan tersebut. Piala, sertifikat, dan uang tunai Rp40 juta diserahkan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

Penghargaan itu menempatkan nama LK Ara dalam jajaran penyair besar Indonesia yang sebelumnya juga menerima penghormatan serupa.

Pada 2020, penghargaan Penyair Adiluhung diberikan kepada Sapardi Djoko Damono.

Baca juga: Ketika Tubuh Tua LK Ara Mengayun di Sungai Kala Ili, Ia Berteriak "O Kala Ili"

Setahun kemudian, 2021, penghargaan itu diberikan kepada Sutardji Calzoum Bachri.

Selanjutnya, pada 2023, penghargaan diterima Abdul Hadi WM, dan pada 2024 diberikan kepada D. Zawawi Imron.

Pengumuman penghargaan tersebut disampaikan Ahmadun Yosi Herfanda salah seorang dewan pembina Yayasan Hari Puisi Indonesia.

Dewan juri terdiri atas Rida K Liamsi, Sutardji Calzoum Bachri, dan Ahmadun Yosi Herfanda.

LK Ara dipilih karena kesetiaannya kepada puisi. Ia telah melahirkan lebih dari 40 buku.

Di sepanjang perjalanan hidupnya, puisi bukan sekadar karya yang ditulis, tetapi menjadi cara untuk terus hidup dan bernapas.

“Menulis bagi saya seperti ikan membutuhkan air untuk bernapas,” kata LK Ara dalam suatu percakapan terpisah. 

Kalimat itu barangkali menjadi kunci untuk memahami perjalanan panjangnya.

Dalam usia senja, ketika banyak orang mulai meninggalkan aktivitas yang membutuhkan ketekunan, LK Ara justru terus menulis. Ia tidak pernah berhenti.

Bagi LK Ara, menulis bukan pekerjaan yang dilakukan sesekali. Menulis adalah kebutuhan. Seperti ikan dengan air. Seperti manusia dengan udara.

Dari Gayo, ia terus menyumbangkan suara bagi kesusastraan Indonesia.

Puluhan buku yang telah dilahirkannya menjadi jejak panjang pengabdian seorang penyair yang tidak pernah memisahkan hidupnya dari kata-kata.

Puisi, Chairil Anwar, dan Identitas Kebangsaan

Perayaan Hari Puisi Indonesia 2026 juga diisi dengan pembacaan puisi dan diskusi kebudayaan.

Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, membacakan puisi “Tanah Air Mata” di hadapan para undangan yang hadir di Graha Utama Gedung A Lantai 3 Kemendikdasmen, Jakarta.

Selain itu, digelar talkshow bertema “Menebalkan Makna Pada Segala”.

Diskusi tersebut membahas puisi, Chairil Anwar, dan identitas kebangsaan.

Talkshow menghadirkan Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri dan Staf Khusus Menteri Kebudayaan Nissa Rengganis, dengan Sihar Ramses Simatupang sebagai moderator.

Ketua Panitia Hari Puisi Indonesia 2026, Ariyani Isnamurti, menyampaikan laporan pelaksanaan perayaan tersebut. Perayaan juga dimeriahkan denga  pembaca puisi penyair dan tokoh dan duta besar. Pidato Kebudayaan disampaikan Fadli Zon. (Fikar W. Eda) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.