TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Sosok guru dari wilayah perbatasan kembali menorehkan prestasi membanggakan.
Hikmah Wahyuni Nasution, guru SDN 006 Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, berhasil lolos seleksi Indonesia-Korea Teacher Exchange (IKTE) Program Tahun 2026.
Indonesia-Korea Teacher Exchange (IKTE) adalah program kerja sama bilateral pertukaran guru antara pemerintah Indonesia (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah) dan Korea Selatan (APCEIU UNESCO) yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi global, memperluas wawasan pedagogik, serta memperkuat pemahaman budaya antar kedua negara.
Keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Hikmah.
Ia akan membawa semangat pendidikan dari wilayah perbatasan Sebatik, untuk belajar dan berkolaborasi dengan dunia pendidikan di Korea Selatan.
Perempuan kelahiran Padang Sidempuan, 13 Juli 1995 itu, mengaku bersyukur mendapat kesempatan mengikuti program internasional tersebut.
“Saya merasa sangat bersyukur, bahagia, dan bangga mendapatkan kesempatan ini.
Bagi saya, ini bukan hanya kesempatan untuk belajar, tetapi juga sebuah tanggung jawab untuk membawa nama SDN 006 Sebatik Tengah, dan Kalimantan Utara ke tingkat internasional,” ujar Hikmah Wahyuni Nasution, kepada TribunKaltara.com, Senin (27/7/2026).
Baca juga: Pesta Buah, Cara SMAN 1 Sebatik Tengah Meriahkan Hari Anak Nasional di Perbatasan RI-Malaysia
Hikmah akan mengikuti program pertukaran guru tersebut selama kurang lebih tiga bulan, mulai 24 Agustus hingga 21 November 2026 di Korea Selatan.
Hikmah mengatakan, motivasi terbesarnya mengikuti program ini adalah keinginannya untuk terus belajar dan berkembang sebagai seorang guru.
Ia berharap dapat membawa pulang pengalaman, wawasan, serta praktik baik pendidikan Korea Selatan, yang nantinya dapat diterapkan sesuai dengan kondisi sekolah di Sebatik.
“Sebagai guru dari wilayah perbatasan, saya percaya bahwa keterbatasan geografis bukanlah batas untuk terus belajar dan bermimpi,” kata Hikmah Wahyuni Nasution.
Selama mengikuti program selama tiga bulan di Korea Selatan, Hikmah Wahyuni Nasution ingin mempelajari berbagai inovasi pendidikan, terutama bagaimana guru-guru di Korea menciptakan pembelajaran yang aktif, disiplin, dan menyenangkan.
Ia juga tertarik mempelajari penguatan karakter dan kemandirian siswa, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, pengelolaan kelas, hingga strategi sekolah dalam mengembangkan potensi peserta didik secara menyeluruh.
Sebelum berangkat, Hikmah Wahyuni Nasution telah melakukan berbagai persiapan.
Mulai dari menyiapkan materi pembelajaran, meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, mempelajari bahasa Korea dasar, hingga memahami budaya dan kebiasaan masyarakat Korea.
“Perbedaan bahasa dan budaya mungkin menjadi tantangan.
Namun, saya melihatnya sebagai kesempatan untuk belajar dan beradaptasi,” ungkap Hikmah Wahyuni Nasution.
Selain belajar sistem pendidikan Korea Selatan, Hikmah Wahyuni Nasution juga ingin memperkenalkan budaya Indonesia, khususnya budaya Kalimantan Utara sebagai daerah perbatasan.
Ia berencana memperkenalkan berbagai budaya lokal seperti lagu tradisional Bebilin, tari kreasi Bebilin, cerita rakyat Bulu Tengon, pakaian adat, hingga permainan tradisional masyarakat.
“Saya berharap terjadi pertukaran budaya, sehingga masyarakat Korea dapat mengenal Indonesia lebih dekat, dan saya juga dapat belajar tentang budaya Korea,” ujarnya.
Sepulang dari Korea Selatan, Hikmah Wahyuni Nasution berharap pengalaman yang diperolehnya dapat memberikan manfaat bagi siswa, sekolah, dan pendidikan di Kalimantan Utara.
Ia ingin membawa pulang praktik baik seperti pembelajaran berbasis proyek, pemanfaatan teknologi, serta pembelajaran yang lebih aktif dan menyenangkan untuk diterapkan sesuai kebutuhan siswa di SDN 006 Sebatik Tengah.
Hikmah juga menitipkan pesan bagi para guru dan generasi muda di daerah.
“Jangan pernah merasa minder karena berasal dari daerah atau wilayah perbatasan.
Kita harus berani bermimpi, terus belajar, dan mengambil setiap kesempatan untuk berkembang,” tuturnya.
Menurutnya, guru dari daerah juga memiliki peluang untuk berprestasi hingga tingkat internasional.
“Meski berasal dari wilayah perbatasan, kita tetap bisa belajar, berkolaborasi, dan membawa nama daerah ke tingkat dunia,” pungkas Hikmah Wahyuni Nasution.
(*)
Penulis: Fatimah Majid