SURYA.CO.ID SURABAYA – Divisi Neonatologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), menghadirkan dua pakar pediatri asal Belanda dalam kegiatan Clinical Research and Scientific Publication sebagai upaya meningkatkan kualitas riset serta publikasi ilmiah peneliti muda.
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari, Sabtu (25/7/2026) hingga Minggu (26/7/2026), didanai Nutricia Research Foundation dan diikuti mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), PPDS Konsultan, mahasiswa S1, hingga mahasiswa kebidanan.
Dua narasumber yang dihadirkan ialah Prof. Pieter J.J. Sauer dari Groningen, yang juga merupakan Visiting Professor Unair sejak 2016 dengan H-index 56, serta Prof. Jacques Bindels dari Utrecht University, pakar Pediatric Nutrition sekaligus Wakil Ketua Nutricia Research Foundation dengan H-index lebih dari 30.
Ketua Penyelenggara, dr. Mahendra dari Divisi Neonatologi FK Unair, menegaskan peningkatan kualitas layanan kesehatan harus ditopang oleh riset yang berkelanjutan.
Baca juga: Sosok Danial Habri Arsyi Lulusan FK UNAIR, Tembus 4 Kampus Top Dunia Sebelum Resmi Bergelar Dokter
"Suatu pelayanan kesehatan itu hanya bisa bagus kalau ada penelitian. Tanpa adanya riset berkelanjutan, kualitas pelayanan kesehatan tidak akan pernah maksimal," ujar dr. Mahendra.
Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi mulai dari penyusunan pertanyaan penelitian, penyusunan proposal, etika penelitian, menjaga integritas ilmiah, strategi memilih jurnal internasional, hingga teknik merespons masukan editor.
Peserta juga dibekali pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk mempercepat penulisan manuskrip tanpa mengabaikan etika akademik.
Salah satu keunggulan program ini adalah adanya pendampingan pascapelatihan. Empat proposal penelitian terbaik akan memperoleh mentoring langsung dari Prof. Pieter J.J. Sauer dan Prof. Jacques Bindels hingga proses publikasi.
Kedua pakar tersebut bahkan bersedia menjadi penulis pendamping (co-author) bagi para peneliti muda.
Baca juga: FK Unair Skrining TBC di Surabaya Pakai AI, Ada Sanksi Bagi Pasien Bandel
"Dengan joint writing antara peneliti muda kita dan peneliti kelas dunia, kualitas riset dan publikasi akan meningkat secara signifikan. Hal ini tentu akan memperkuat reputasi Unair di kancah global," tambah dr. Mahendra.
Menurutnya, melimpahnya kasus klinis di Rumah Sakit Universitas Airlangga menjadi modal besar bagi mahasiswa dan peneliti untuk menghasilkan berbagai penelitian yang bermanfaat bagi dunia kesehatan.
Dalam pelatihan tersebut, kedua pakar asal Belanda juga membagikan lima langkah praktis bagi peneliti pemula dalam memulai riset medis.
Langkah pertama adalah membiasakan diri mengajukan pertanyaan "why" dari setiap persoalan yang ditemui. Kedua, memperbanyak membaca literatur ilmiah untuk mengetahui perkembangan penelitian yang telah dilakukan.
Ketiga, menemukan research gap atau celah penelitian yang belum terjawab. Keempat, memastikan penelitian memiliki manfaat nyata bagi dokter, tenaga kesehatan, pasien, maupun negara. Terakhir, peneliti dianjurkan tidak ragu meminta bimbingan kepada mentor atau senior yang berpengalaman.
Dekan FK Unair, Prof. Dr. dr. Eighty Mardiyan Kurniawati, SpOG, Subsp Urogin-RE, mengatakan seorang dokter tidak boleh berhenti belajar karena pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
"Pelatihan ini untuk meningkatkan kapasitas kita sebagai seorang peneliti agar apa yang kita teliti itu bisa lebih berkualitas," katanya.
Prof. Eighty juga menekankan pentingnya membangun jejaring kolaborasi dalam menghasilkan penelitian yang berdampak luas.
"Penelitian terbaik sering kali lahir dari kolaborasi yang bermakna antarlembaga, antardisiplin ilmu, bahkan antarnegara," tandasnya.