Ini Sambutan LK Ara saat Menerima Anugerah Adiluhung Hari Puisi Indonesia
Budi Fatria July 27, 2026 01:54 PM

TribunGayo.com, JAKARTA - Penyair berdarah Gayo LK Ara menerima Anugerah Penyair Adiluhung pada Perayaan Puncak Hari Puisi Indonesia 2026 di Graha Utama Gedung A lantai tiga Kemendikdasmen, Jakarta, Minggu (26/7/2026).

Penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam bentuk Piagam, piala dan uang tunai Rp 40 juta. 

LK Ara, lalu diminta naik ke panggung dan menyampaikan pidato.

Ia mengenakan kemeja berhiaskan motif kerawang Gayo.

Baca juga: LK Ara, Penyair Gayo Terima Penghargaan Penyair Adiluhung Hari Puisi Indonesia

Kepalanya ditutup topi. Sebagai latar, backdrope panggung menampilkan wajah penyair senior berusia 88 tahun ini. 

Dari podium, LK Ara menyampaikan pidatonya, disimak dengan serius oleh segenap hadirin, termasuk Menteri Fadli Zon. 

Pidato LK Ar dan Pusi

Berikut ini adalah kutipan lengkap pidato LK Ar: 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ’alamin.

Dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT, saya menerima Anugerah Adiluhung ini sebagai amanah, bukan sebagai penanda bahwa perjalanan telah selesai.

Ada beberapa lirik yang saya tulis, dan malam ini izinkan saya membacakannya.

Bukan piala yang membuat puisi hidup.

Puisi tetap berjalan, meski penyairnya tak pernah dipanggil ke panggung.

Hadirin yang saya muliakan, selama puluhan tahun saya hanya berusaha setia kepada puisi.

Saya percaya, penyair bukanlah orang yang paling pandai berkata-kata, melainkan orang yang terus belajar mendengarkan suara kemanusiaan, suara kebudayaan, dan suara Tuhannya.

Karena itu, ketika hari ini saya berdiri di hadapan Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian, saya teringat kembali larik yang saya tulis.

Yang mereka hormati bukan diriku, melainkan kesetiaan untuk terus menulis, meski dunia tak selalu sempat membaca.

Anugerah ini saya persembahkan kepada keluarga, para guru, para sahabat sastra, masyarakat Gayo dan Aceh, serta seluruh pembaca yang telah menemani perjalanan kepenyairan saya.

Saya percaya, penghargaan hanya singgah pada seorang penyair, tetapi sastra harus tetap tinggal di tengah masyarakat sebagai cahaya yang menjaga martabat manusia.

Izinkan saya menutup sambutan ini dengan lirik terakhir dari puisi tersebut.

Anugerah ini bukan akhir perjalanan.

Ia hanya sebuah lampu kecil, agar langkah berikutnya lebih berhati-hati.

Sebab puisi yang sesungguhnya, bukan yang dipuji manusia, melainkan yang tetap diterima oleh nurani.

Terima kasih kepada lembaga yang telah memberikan kepercayaan ini. Semoga Allah SWT membimbing kita semua agar tetap berkarya dengan jujur, rendah hati, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (Fikar W Eda)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.