Debit Air Menurun, Permintaan Air Bersih di Belu Melonjak Saat Musim Kemarau
Oby Lewanmeru July 27, 2026 03:19 PM

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Agustinus Tanggur

POS-KUPANG.COM, ATAMBUA - Memasuki musim kemarau, debit air di sejumlah sumber pengambilan air di Kabupaten Belu mengalami penurunan, sementara kebutuhan masyarakat justru terus meningkat. 

Kondisi ini membuat para penyedia jasa mobil tangki air harus mengantre selama berjam-jam untuk mendapatkan pasokan sebelum didistribusikan kepada pelanggan.

Yandri salah seorang penyedia jasa mobil tangki air di Atambua, Senin (27/7/2026), mengatakan salah satu sumber air di kawasan Kelurahan Tenukiik, Kecamatan Kota Atambua yang selama ini dimanfaatkan mulai berkurang karena hanya mengandalkan resapan dari Kali sekitar. 

"Debit air mulai menurun. Di sini sumber air berasal dari resapan Kali. Kalau kali sudah tidak mengalir, otomatis kami juga tidak mendapatkan air. Akhirnya kami harus mengambil air ke wilayah Lalosuk atau wilayah Sadi," ujarnya.

Baca juga: Dukung Proses Pemulihan Korban Kekerasan Perempuan dan Anak, DP3AP2KB Belu Hadirkan Rumah Aman

Ia menjelaskan, akibat berkurangnya debit air, para pengusaha mobil tangki harus mengantre selama berjam-jam di lokasi pengambilan air.

Karena itu, masyarakat yang membutuhkan air bersih diminta melakukan pemesanan lebih awal.

"Untuk pelanggan yang ingin memesan air sebaiknya pesan lebih dulu karena kami juga harus antre lama untuk mendapatkan air. Sekarang antreannya cukup panjang," katanya.

Di tengah keterbatasan pasokan, permintaan air bersih dari masyarakat justru mengalami peningkatan signifikan. 

Ia mengakui jika saat musim hujan rata-rata hanya melayani dua hingga tiga mobil tangki setiap hari, kini jumlah pesanan meningkat hingga delapan bahkan sepuluh tangki per hari.

"Kalau musim panas seperti sekarang permintaannya sangat banyak. Pesanan terus bertambah setiap hari. Bahkan kami sudah tidak bisa menerima semua permintaan karena kapasitas pelayanan terbatas," ungkapnya.

Menurutnya, peningkatan kebutuhan air bersih mulai terasa sejak Mei dan terus berlangsung hingga sekarang. Apabila kondisi musim kemarau masih berlanjut, tingginya permintaan diperkirakan akan bertahan hingga penghujung tahun.

Dari sisi harga, tarif pengiriman air relatif tidak mengalami perubahan. Untuk satu tangki berkapasitas sekitar 7.500 liter, harga berkisar antara Rp100.000 hingga Rp120.000 untuk wilayah yang dekat. 

Sementara biaya pengiriman ke lokasi yang lebih jauh disesuaikan dengan jarak tempuh, panjang selang yang digunakan, serta tingkat kesulitan pengisian ke bak penampung milik pelanggan.

"Kalau daerahnya jauh atau harus menggunakan selang yang lebih panjang, tentu biayanya menyesuaikan. Tetapi secara umum harga masih sama seperti sebelumnya," jelasnya.

Ia juga menyebut, kemampuan pengambilan air di sumber Tenukiik kini semakin terbatas. 

"Dalam sehari disini hanya mampu melayani sekitar lima hingga enam mobil tangki. Jika ingin memenuhi lebih banyak pesanan, para pengusaha harus mencari pasokan tambahan dari sumber air lain," tuturnya. 

Melihat kondisi tersebut, ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian serius terhadap persoalan krisis air bersih yang mulai dirasakan masyarakat Belu selama musim kemarau.

"Kami berharap pemerintah bisa melihat kondisi masyarakat. Saat ini kebutuhan air bersih sangat tinggi, sementara sumber air semakin berkurang. Masyarakat Belu benar-benar membutuhkan solusi agar pasokan air bersih tetap tersedia," harapnya. (gus)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.