Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini
TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Ciamis membawa sejumlah gagasan strategis menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur pada Agustus 2026 mendatang.
Salah satu yang menjadi sorotan ialah harapan lahirnya figur ulama visioner yang mampu menjadi panutan masyarakat sekaligus memperkuat peran NU dalam menjawab tantangan kebangsaan.
Selain menyiapkan agenda organisasi, PCNU Ciamis juga membawa sejumlah aspirasi yang akan disampaikan dalam forum tertinggi NU tersebut, mulai dari penguatan ekonomi umat hingga harapan lahirnya figur ulama yang mampu menjadi panutan bangsa.
Ketua PCNU Kabupaten Ciamis, KH. Arief Ismail Chowas, mengatakan Muktamar merupakan agenda lima tahunan yang tidak hanya menjadi ajang memilih kepengurusan baru, tetapi juga momentum mengevaluasi program organisasi dan merumuskan arah perjuangan NU ke depan.
"Persiapannya dimulai dari menghimpun aspirasi warga Nahdliyin. Karena Muktamar adalah kewajiban organisasi yang dilaksanakan setiap lima tahun sebagai evaluasi, menyusun program, sekaligus memilih kepengurusan baru," kata KH Arief di Kantor PCNU Ciamis, Senin (27/7/2026).
Baca juga: Wawan Ruhyat Ajak Mahasiswa KKN INU Ciamis Berkolaborasi dengan Pemerintah Desa
Menurutnya, PCNU Ciamis berharap aspirasi dari daerah dapat dibawa ke tingkat nasional, terutama terkait kebutuhan menghadirkan kepemimpinan NU yang memiliki kapasitas keilmuan serta mampu menjawab tantangan bangsa.
Ia menilai Indonesia membutuhkan figur ulama yang tidak hanya mumpuni dalam ilmu agama, tetapi juga mampu menjadi rujukan masyarakat sekaligus mitra pemerintah dalam menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Kita mengharapkan lahir figur-figur kiai yang memiliki kelebihan dalam keilmuan. Bangsa ini membutuhkan ulama panutan yang mampu menjadi rujukan masyarakat," ujarnya.
KH Arief juga menyinggung pentingnya pendampingan spiritual bagi para pemimpin bangsa.
Menurutnya, Presiden membutuhkan sosok ulama yang dapat menjadi mitra dalam memberikan pandangan keagamaan dan kebangsaan.
Di sisi lain, ia menilai perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) bukan menjadi ancaman bagi NU, melainkan peluang untuk memperluas dakwah.
"Itu bukan tantangan, justru peluang. Warga NU harus mampu mengisi ruang digital dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga mampu menciptakan inovasi," katanya.
Ia pun mengajak warga Nahdliyin, khususnya generasi muda, aktif memanfaatkan media digital sebagai sarana menyebarkan dakwah Islam yang moderat.
Terkait pelaksanaan Muktamar, KH Arief menekankan pentingnya mengedepankan musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan.
"Perbedaan pendapat itu hal yang wajar dalam musyawarah. Namun ketika sudah menjadi keputusan bersama, semuanya harus menjalankannya dengan rapi, elegan, dan penuh hikmah," ucapnya.
Selain itu, PCNU Ciamis juga akan mengusulkan penguatan ekonomi umat melalui pengembangan badan usaha milik NU.
Menurut KH Arief, sektor ekonomi perlu mendapat perhatian lebih, selain pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial yang selama ini telah berjalan.
Ia menambahkan, PCNU Ciamis juga mendorong agar nilai-nilai keagamaan semakin memperkuat implementasi Pancasila sebagai dasar negara.
"Yang kita dorong bukan mengubah Pancasila, tetapi memperkuatnya dengan ruh nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah sehingga kehidupan berbangsa semakin kokoh," katanya.
KH Arief berharap Muktamar NU ke-35 mampu menghasilkan keputusan-keputusan terbaik yang membawa kemajuan bagi organisasi sekaligus memberikan kontribusi nyata dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara.(*)