TRIBUNNEWS.COM - Akses yang layak dan nyaman nampaknya masih belum bisa dirasakan oleh seluruh warga Indonesia.
Masih banyak warga yang harus bertaruh nyawa hanya untuk sekadar berpindah ke desa tetangga.
Sama seperti yang dialami oleh warga Gampong (Desa) Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, Aceh.
Untuk beraktivitas sehari-hari, para warga di Dusun Durian dan Dusun Salah Sare harus mempertaruhkan nyawa dengan menyeberangi sungai menggunakan jembatan tali saja.
Akses warga mulai terkendala ini sejak banjir bandang pada November 2026 lalu.
Keuchik Gampong (Kepala Desa) Sikundo, Sulaiman mengatakan, awalnya warga bisa menikmati akses mudah setelah mendapatkan bantuan dari lembaga Buddha Tzu Chi.
"Pemerintah pun berkoordinasi dengan donatur Buddha Tzu Chi," ujar Sulaiman, Keuchik Gampong Sikundo dalam program Saksi Kata yang diunggah di Youtube Serambinews.
Jembatan tersebut bisa dilalui kendaraan roda dua dan mempermudah warga yang hendak beraktivitas sejak 2024 lalu.
Namun, petaka pun terjadi, saat banjir bandang melanda sejumlah daerah di Aceh pada November 2025 lalu.
Jembatan gantung bantuan dari organisasi internasional tersebut ikut hanyut.
Akses pun terputus hingga membuat warga kembali menggunakan seutas kabel sepanjang 150 meter yang membentang di atas sungai.
Baca juga: Anggota TNI Gugur Saat Bantu Polisi Kejar Bandar Narkoba di Bireun, Polda Aceh Ucapkan Belasungkawa
Sulaiman menceritakan, sekitar 10 orang per hari melintasi jembatan tali dari kabel tersebut.
Beruntung, tak pernah ada warga yang terjatuh selama melintasi jembatan kabel tersebut.
Meski begitu, ia berharap, pemerintah bisa segera membangun jembatan yang layak.
"Berharap kepada pemerintah hanya membangun jembatan yang layak, yang bisa diseberangi oleh siswa yang hendak berangkat sekolah," ujar Sulaiman.
Ia mengatakan, saat bencana banjir pada November 2025 lalu, pihak pemerintah sudah datang ke wilayah Sikundo dan dijanjikan akan dibangunkan jembatan.
"Tetapi kami belum tahu kapan dibangunnya," lanjut Sulaiman.
Di Sikundo sendiri, total ada 62 kepala keluarga (KK) dengan 280 jiwa.
Selain meminta jembatan, Sulaiman juga berharap pemerintah bisa memperbaiki jalan akses menuju daerahnya, supaya para wisatawan bisa berkunjung ke desanya.
Ia mengatakan, banyak tempat indah di daerahnya, seperti air terjun hingga dataran tinggi.
Sulaiman yakin, apabila akses menuju desanya lancar, pasti banyak warga dan wisatawan yang datang serta memperbaiki ekonomi warganya.
"Apalagi kalau musim durian, pasti banyak orang datang,"
"Kemarin tuh waktu banjir pun banyak orang datang," pungkasnya.
(Tribunnews.com, Muhammad Renald Shiftanto)