Oleh: Hapsoro A. Widyatama, Pamong Budaya BP Kebudayaan Maluku
TRIBUNAMBON.COM - Georg Eberhard Rumpf, atau yang lebih dikenal dengan nama latin Georgius Everhardus Rumphius, lahir akhir tahun 1627 di Kota Hanau, Hessen, Jerman.
Ibunya berasal dari Cleve, sebuah kota di tepi Sungai Rhine yang terletak di perbatasan Jerman dan Belanda.
Ayahnya sendiri adalah seorang insinyur pembangun benteng yang kelak mewariskan pengetahuan arsitektur perbentengan kepadanya.
Georg muda mengenyam pendidikan yang baik dan menamatkan studi di Gymnasium, sekolah tingkat lanjutan yang cukup bergengsi di Jerman kala itu.
Pada tahun 1646, Georg mendaftar sebagai tentara bayaran di bawah West Indian Company (Kongsi Dagang Belanda untuk wilayah Barat).
Ia menaiki kapal “Swarte Raef” (Gagak Hitam) dengan tujuan awal Brasil, namun kapalnya ditangkap pihak Portugis dan ia terpaksa bertugas di militer Portugal.
Di sanalah ia banyak mendengar kisah tentang dunia Timur.
Ia kembali ke Hanau pada 1649 selama beberapa tahun, sebelum akhirnya berlayar meninggalkan Belanda pada hari Natal 1652 sebagai adelborst (perwira pertama) di bawah panji VOC.
Pada akhir 1653, ia mendarat di Pulau Ambon, tempat yang kelak Ia tinggali hingga akhir hayatnya.
Karir kemiliterannya beralih ke jalur sipil pada 1657, ketika ia diangkat menjadi Onderkoopman (juru dagang muda) yang mengurus administrasi dan perdagangan.
Ia ditempatkan di Larike, di pesisir barat Jazirah Leihitu. Di pos yang tenang ini ia mulai mempelajari alam dan menikahi Susanna, penduduk setempat, yang kelak namanya diabadikan pada spesies anggrek Flos susannae (Anggrek Susanna).
Kariernya berubah ketika ia dipromosikan menjadi Koopman (saudagar) dan pindah dari Larike ke Hila pada 1660.
Di Hila, kariernya terus naik hingga ia diangkat menjadi Opperkoopman alias Saudagar Kepala pada 1662 dengan gaji 24 rixdollars per bulan (jika dikonversi dengan mempertimbangkan inflasi saat ini, setara dengan 12.000 Euro atau 200 juta rupiah), jumlah yang besar untuk masanya.
Ia hidup berkecukupan dengan pasokan daging rusa segar, ikan, domba, dan unggas. Ia memiliki kuda dengan kekang perak murni, sebuah kapal bersenjata yang didayung 40 orang, serta membangun kebun botani dan kebun binatang kecil.
Namun gempa dan tsunami 1674 merenggut nyawa istri dan putrinya, disusul kebakaran dan kebutaan yang ia alami, namun sang “Plinius Indicus” tetap melanjutkan karya-karyanya di Ambon hingga wafat pada 1702.
Jejak Rumah Rumphius di Benteng Amsterdam
Kisah Rumphius di Hila tak lepas dari keberadaan Benteng Amsterdam, yang terletak di pesisir utara Pulau Ambon. Pada tahun 1600, Laksamana Steven van der Hagen mengawasi pembangunan benteng Belanda di lokasi ini, yang diberi nama ”Kasteel van Verre”.
Berdirinya benteng ini menandai awal pengambilalihan perdagangan rempah oleh Belanda di wilayah tersebut, dari penguasaan Portugis.
Pada 1633, saudagar VOC Johan Ottens merobohkan pos perdagangan lama di Hila dan memerintahkan pembangunan sebuah redoubt (kubu pertahanan kecil) berbahan batu yang dikelilingi pagar kayu di lokasi tersebut.
Namun, bangunan ini rusak berat akibat gempa bumi pada 1644. Atas perintah Gubernur Arnold de Vlaming van Oudsthoorn pada 1648, dilakukan perbaikan sekaligus perluasan benteng.
Pagar kayu diganti dengan tembok batu berbentuk segi empat lengkap dengan dua bastion, dan kubu pertahanan itu diperbesar.
Pada 1674, Benteng Amsterdam kembali diguncang gempa bumi kuat, disusul tsunami. Dari 40 orang yang bertugas di benteng, 28 di antaranya tewas, sementara banyak lagi penduduk di permukiman sekitar turut kehilangan nyawa.
Benteng ini diperbaiki kembali setelah bencana tersebut. Gambar dan sketsa dari abad ke-17 dan ke-18 memberi gambaran tentang wujud blokhuis tiga lantai yang terus berfungsi sebagai benteng pertahanan untuk melindungi kepentingan dagang Belanda.
Di kompleks perbentengan inilah Rumphius menghabiskan tahun-tahun penting hidupnya. Bukti visual sejarah turut memperkuat gambaran ini. Lukisan karya Francois Valentijn dalam bukunya "Oud en Nieuw Oost-Indiën" (1724), berjudul ”Hila en de Fortress Amsterdam”, menggambarkan sebuah bangunan rumah yang menempel pada gerbang utama benteng.
Sementara itu, sebuah litografi bergaya awal abad ke-19 karya G.J. Scheurleer bertajuk ”De Kerk, het Residentiehuis en het Blokhuis te Hila” memperlihatkan benteng tersebut berdampingan dengan sebuah gereja dan sebuah residentiehuis (rumah kediaman) yang terpisah dari bangunan utama blokhuis.
Kedua sumber ini menjadi petunjuk penting bahwa kehidupan Rumphius di kompleks tersebut difasilitasi oleh bangunan hunian khusus bagi pejabat administrasi VOC.
Nilai Penting Rumah Rumphius di Hila
Petunjuk sejarah ini sejalan dengan temuan arkeologis terbaru. Ekskavasi Penyelamatan Benteng Amsterdam oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX (sekarang Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku) pada 2023 membuktikan bahwa Benteng Amsterdam historis jauh lebih kompleks dari sekadar blokhuis yang dikelilingi tembok. Di Sektor B (sisi selatan benteng), arkeolog menemukan sisa fondasi bangunan yang membentang lebih dari 7 meter ke arah utara-selatan dan 6 meter ke arah timur-barat.
Fondasi berbahan batu karang, dan bata merah ini ternyata berlanjut hingga ke luar batas pagar hasil pemugaran tahun 1991–1994.
Temuan ini menunjukkan bahwa dinding pagar selatan yang kita lihat saat ini kemungkinan besar hanyalah dinding bagian tengah dari bangunan hunian masa lalu, yang kurang tepat direkonstruksi sebagai pagar keliling.
Pecahan keramik dan botol kaca Eropa yang diangkat dari kotak ekskavasi memperkuat bukti adanya aktivitas hunian di lokasi ini. Arsip foto Tropenmuseum (sekitar 1920) turut memberi keterangan pada reruntuhan di kompleks ini sebagai ”jarenlang het woonhuis van Rumphius” (diterjemahkan bebas: ’selama bertahun-tahun menjadi rumah tinggal Rumphius’).
Peninggalan ”Sumur Rumphius” yang terletak sekitar 50 meter di selatan benteng turut menegaskan jejak sang ilmuwan di area pemukiman ini.
Upaya Merawat Ingatan Bersama
Kini, tugas melestarikan kompleks hunian bersejarah ini diemban oleh BP Kebudayaan Maluku. Setiap temuan baru, dari lembar arsip lama hingga serpihan bata di bawah tanah, menambah bobot pada satu simpulan yang sama. Hila bukan sekadar situs benteng militer, melainkan tempat di mana pengetahuan ilmiah pertama Nusantara pernah tumbuh, ditulis, dan dijaga oleh seorang pendatang yang memilih untuk tidak pernah pulang.
Merawat rumah Rumphius, bukan hanya soal menyelamatkan fondasi batu yang tersisa. Ini soal mengembalikan Hila pada posisinya yang selayaknya, bukan catatan kaki dalam sejarah kolonial, melainkan salah satu titik lahirnya ilmu pengetahuan modern di Bumi Nusantara. Selama sumur itu masih ada, selama fondasi itu masih bisa digali, cerita ini belum selesai, dan setiap upaya pelestarian adalah cara kita melanjutkannya.(*)