SURYA.CO.ID SURABAYA - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak para insinyur yang tergabung dalam Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur memperkuat kontribusi untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
Optimalisasi irigasi tersier dinilai menjadi kunci menjaga produktivitas pertanian di tengah ancaman musim kemarau.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan pangan nasional, peran insinyur dinilai semakin strategis.
Tak hanya menghadirkan inovasi teknologi, para insinyur juga diharapkan mampu melahirkan solusi konkret yang mendukung sektor pertanian, memperkuat infrastruktur, dan menjaga keberlanjutan pembangunan di Jawa Timur.
Ajakan tersebut disampaikan Khofifah saat menghadiri pelantikan Pengurus Wilayah Persatuan Insinyur Indonesia (PW PII) Jawa Timur masa bakti 2026–2029 yang dipimpin Ketua Umum PII Ilham Akbar Habibie di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (27/7/2026).
Baca juga: Tembus Pasar Hong Kong, Khofifah Ajak UMKM Jatim Garap Ritel Global Lewat Jejaring Diaspora
Menurut Khofifah, peran insinyur menjadi semakin penting seiring visi Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara yang bertumpu pada pembangunan berbasis inovasi, penguasaan teknologi, dan kolaborasi lintas sektor.
"Sejalan dengan visi Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara, pembangunan daerah diarahkan untuk memperkuat konektivitas, mempercepat hilirisasi industri, mendorong transformasi ekonomi, serta memperkuat inovasi di berbagai sektor," katanya.
"Seluruh agenda tersebut memerlukan dukungan sumber daya manusia yang unggul, termasuk para insinyur yang memiliki kompetensi, integritas, dan kemampuan menghadirkan solusi atas berbagai tantangan pembangunan," imbuh Khofifah.
Ia menilai kontribusi para insinyur sangat dibutuhkan untuk mempertahankan posisi Jawa Timur sebagai salah satu penyangga utama perekonomian nasional sekaligus lumbung pangan Indonesia.
Khofifah mengungkapkan, selama tujuh tahun terakhir Jawa Timur konsisten menjadi provinsi dengan produksi padi tertinggi di Indonesia. Hingga Semester I 2026, produksi padi Jawa Timur kembali meningkat sekitar 5,49 persen.
Baca juga: Menhub Dudy dan Khofifah Siapkan Jurus Bongkar Macet Ketapang-Gilimanuk, Kapal Besar hingga Dermaga
Meski demikian, menurutnya masih terdapat pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama terkait optimalisasi jaringan irigasi tersier agar pasokan air bagi lahan pertanian tetap terjaga saat musim kemarau.
"Saya ingin menggarisbawahi bidang ketahanan pangan. Kekuatan Jawa Timur sesungguhnya luar biasa. Selama tujuh tahun berturut-turut sejak kami mendapat mandat memimpin Pemerintah Provinsi Jawa Timur, produksi padi Jawa Timur selalu menjadi yang tertinggi di antara seluruh provinsi di Indonesia. Bahkan hingga Semester I tahun ini, produksi padi Jawa Timur kembali menjadi yang tertinggi dengan kenaikan sekitar 5,49 persen," ujarnya.
"Persoalan yang masih kita hadapi adalah bagaimana memaksimalkan irigasi tersier. Di sinilah peran para insinyur sangat dibutuhkan untuk menghadirkan solusi sehingga pada musim kemarau pasokan air tetap dapat terpenuhi. Ini menurut saya menjadi pekerjaan penting yang harus kita kerjakan bersama," imbuhnya.
Khofifah juga meminta PII Jawa Timur menjadikan ketahanan pangan sebagai salah satu fokus utama dalam program organisasi.
"Saya juga sudah menyampaikan kepada Ketua PII Jawa Timur agar bidang ketahanan pangan menjadi salah satu penguatan program organisasi. Jawa Timur memiliki potensi yang sangat besar untuk memperkuat sektor pangan," ujarnya.
Menurutnya, Jawa Timur tidak hanya menjadi produsen padi terbesar nasional, tetapi juga menjadi penyumbang produksi jagung terbesar dengan kontribusi sekitar 28,39 persen terhadap produksi nasional, serta menjadi salah satu sentra produksi susu nasional.
"Pada posisi inilah saya melihat kekuatan PII sangat besar untuk memberikan pendampingan terhadap berbagai program prioritas pemerintah, terutama yang berkaitan dengan ketahanan pangan," jelasnya.
Selain sektor pangan, Khofifah menilai tantangan pembangunan ke depan akan semakin dipengaruhi perkembangan teknologi, mulai dari kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), transisi energi, hilirisasi industri, hingga pembangunan infrastruktur yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Karena itu, ia berharap para insinyur tidak hanya memiliki kemampuan teknis yang kuat, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi, menjunjung tinggi etika profesi, serta mampu memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha.
"Keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya yang dimiliki, tetapi juga oleh kualitas kolaborasi, inovasi, dan integritas seluruh elemen bangsa," tegasnya.
Khofifah turut mengucapkan selamat kepada jajaran Pengurus Wilayah PII Jawa Timur periode 2026–2029. Ia berharap kepengurusan baru mampu memperkuat peran PII sebagai mitra strategis pemerintah dalam menghadirkan inovasi dan solusi atas berbagai tantangan pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.