Anak Perempuan Menangisi Nasib Ayahnya Meninggal Dikeroyok, Keluarga Anggap Musibah
Robertus Didik Budiawan Cahyono July 27, 2026 07:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bali -  Seorang anak perempuan hanya bisa menangisi nasib ayahnya yang meninggal dunia karena dikeroyok. Momen anak tersebut menangis sempat terekam video hingga viral di media sosial.

Ketika itu, jenazah ayah dari anak perempuan itu sedang bersiap untuk upacara pemakaman di Desa Sidetapa, Kabupaten Buleleng, Bali. Ternyata si ayah merupakan korban dikeroyok massa seusai tepergok diduga mencuri ayam.

Peristiwa amuk massa tersebut terjadi di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali Jumat (24/7/2026) dini hari.

I Made Sutama, Kepala Desa (Kades) Sidetapa menyayangkan peristiwa yang berujung pada hilangnya nyawa tersebut.

"Kesalahan orang pasti ada, tetapi janganlah gara-gara hanya mencuri ayam sampai menghilangkan nyawa orang," kata Sutama, dihubungi Minggu (26/7/2026) dikutip dari Kompas.com.

Diduga Curi Ayam Aduan

Berdasarkan informasi kepolisian, pria tersebut diduga tepergok mencuri seekor ayam aduan milik warga. Kemarahan massa disebut dipicu keresahan masyarakat yang selama ini kerap kehilangan ternak ayam.

Meski memahami keresahan warga, Sutama menegaskan tindakan kekerasan hingga menyebabkan kematian tidak dapat dibenarkan.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara hukum sehingga setiap orang yang diduga melakukan tindak pidana harus diproses sesuai ketentuan yang berlaku.

"Kalau semua orang mempunyai pemikiran seperti itu, tentu akan banyak orang meninggal hanya karena persoalan pencurian. Negara kita adalah negara hukum," ujarnya.

Sutama mengatakan, apabila masyarakat memergoki seseorang diduga melakukan pencurian, yang bersangkutan cukup diamankan dan diserahkan kepada polisi. Menurut dia, tindakan tersebut jauh lebih tepat dibandingkan melakukan pengeroyokan yang berpotensi menimbulkan korban jiwa.

Peristiwa ini juga meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban.

Kesedihan

Sutama mengaku terpukul saat menjemput jenazah korban dan menyaksikan langsung kesedihan anak-anak yang kehilangan sosok ayah. "Sedih sekali melihat anak-anaknya menangis," kata dia.

Korban diketahui meninggalkan tiga orang anak. Anak pertama telah berkeluarga, sementara anak kedua masih duduk di bangku kelas 1 SMA, dan anak bungsunya masih bersekolah di kelas 1 SD.

Di tengah duka tersebut, Sutama menyebut, pihak keluarga memilih menerima peristiwa itu sebagai musibah. Dia mengatakan, pihak keluarga tidak berencana menempuh langkah hukum terkait pengeroyokan yang menyebabkan korban meninggal dunia.

Berdasarkan informasi polisi, aksi massa tersebut dipicu kemarahan warga yang resah karena dalam beberapa waktu terakhir kerap terjadi kasus kehilangan ayam aduan di lingkungan setempat. Selain mengeroyok terduga pelaku hingga meninggal dunia, massa juga membakar sepeda motor yang digunakan korban.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.