Sudah Lolos Kedokteran Unair, Siswa ini Tetap Kejar Mimpi untuk Menjadi Polisi
GH News July 27, 2026 08:09 PM
Jakarta -

Lulus diterima di fakultas kedokteran ternyata bukan impian akhir semua orang. Bagi Muhammad Hafiz Ridwan, kuliah kedokteran bisa saja dilepas jika bisa masuk kepolisian.

Hafiz, sapaannya, sebenarnya sudah diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Namun, alih-alih fokus sebagai mahasiswa baru, ia masih punya mimpi lain yang ingin dikejar, yakni menjadi polisi.

Ayahnya yang seorang polisi, menginspirasinya untuk menekuni jalan yang sama. Ia bahkan rela melepaskan statusnya sebagai mahasiswa FK Unair jika diterima di Akademi Kepolisian (Akpol).

"Saya sebenarnya sudah terdaftar sebagai mahasiswa FK Unair. Tapi kalau saya diterima di Akpol, saya akan meninggalkan FK Unair," ucap Hafiz kepada detikcom, di lokasi Seleksi Taruna Akpol 2026 Semarang, Sabtu (25/7/2026), dikutip Senin (27/7/2027).

Pernah Berganti Cita-cita

Hafiz tumbuh di lingkungan keluarga polisi. Ayahnya merupakan seorang perwira polisi yang memiliki gelar doktor dan berpangkat AKBP.

Sebelum mengejar cita-citanya menjadi polisi, ia mengaku pernah bercita-cita menjadi dokter, pilot, insinyur, hingga pemain sepak bola. Namun, cita-cita polisi terus di pikirannya semasa SMA.

Pada akhirnya, ia memantapkan diri untuk persiapan rangkaian seleksi Akpol, sembari tetap mendaftar SNBP.

"Dari kelas 10, saya mulai latihan psikologi, jasmani, dan akademik. Di tingkat panitia daerah saya peringkat 4, tapi di tingkat pusat agak turun. Saya juga tidak tahu kenapa tesnya terasa sangat sulit," paparnya.

Di sisi lain, ia tetap aktif berorganisasi dan mengikuti perlombaan. Bahkan ia pernah meraih Gold Medal World Science Environmental and Engineering Competition 2024 di Universitas Pancasila serta Gold Medal World Science Environmental and Engineering Competition 2025 kategori kompetisi daring

Meski terbiasa dengan kompetisi, Hafiz mengakui seleksi Akpol memiliki tekanan mental tersendiri. Ia merasakan langsung tingkat kesulitan seleksi pusat yang meningkat drastis dibandingkan seleksi daerah.

"Yang paling terasa itu matematika. Soalnya bukan lagi pertanyaan dasar, tapi lebih banyak pengembangan yang membutuhkan analisis," ucapnya.

Melihat Sosok Ayah yang Terus Belajar sampai S3

Hafiz mengatakan, ia telah mendapatkan nilai jasmani tertinggi se-Polda Metro Jaya. Ia juga mendapatkan nilai kesamaptaan mencapai 93,20.

Sebagai calon taruna (catar) pengiriman Polda Metro Jaya, Hafiz mengaku semangat dengan nilai-nilainya. Ia fokus mengejar cita-citanya menjadi perwira polisi, seperti ayahnya.

Hafiz mengaku tekadnya begitu kuat karena melihat sang ayah bertugas memberikan konseling dan pendampingan psikologis kepada masyarakat. Ia menilai ayahnya sebagai sosok yang pantang menyerah yang terus mengembangkan diri.

"Lihat ayah suka menangani korban bencana dan memberikan konseling, saya melihat pekerjaannya sangat mulia karena menolong orang yang sedang kesusahan. Ayah saya bintara, tapi sekolah terus sampai S3," cerita Hafiz bangga.

"S1 dan S2 Ilmu Psikologi, S3 Ilmu Kepolisian. Sekarang Ayah berpangkat AKBP, dinas di Polda Jatim," tambahnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.