Kelemahan AS Dibuka Komandan Perangnya Sendiri, Trump Diminta Berhenti Lawan Iran: Senjata Menipis!
Galuh Palupi July 27, 2026 08:08 PM

 

TRIBUNSTYLE.COM - Kondisi Amerika Serikat yang tidak diuntungkan dalam konflik melawan Iran dibongkar oleh orang dalam, komandan perang dari Komando Pusat AS (CENTCOM) buka suara.

Komandan CENTCOM, Brad Cooper, sampai harus mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk segera menghentikan perlawanan ke Iran karena negaranya mulai kekurangan amunisi.

Permintaan Cooper ini dilaporkan oleh media AS, Axios, dikutip pada Senin (27/7/2026).

Tak hanya Cooper, usulan yang sama juga disampaikan oleh Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine.

Caine mendesak pemerintahan Trump agar segera menghentikan perang dengan Iran.

KONFLIK TIMUR TENGAH - Komandan perang Amerika Serikat minta Donald Trump berhenti lawan Iran karena amunisi senjata menipis (YouTube/Tribunnews)

Cooper menilai kampanye pemboman harian AS telah mencapai batas efektivitasnya.

Baca juga: Makin Berani! Iran Kini Ancam Inggris dan Ukraina Gegara Bantu Amerika Serikat: Target yang Sah

Militer AS dilaporkan hampir menghabiskan daftar target strategis yang dirancang tanpa melakukan operasi tempur darat skala besar. 

Sementara Caine memberi peringatan akan akibat fatal jika AS tetap melanjutkan pemboman dalam skala besar secara terus-menerus.

Pasalnya, tindakan itu justru membuat logistik AS terus menipis. 

Dilaporkan cadangan rudal pencegat Patriot dan amunisi pertahanan udara lain milik AS di Timur Tengah mulai menyusut. 

Selain logistik, penasihat Gedung Putih juga menyoroti efek domino dari perang terbuka. 

Perang tersebut berisiko memperkeruh stabilitas ekonomi global, serta meretakkan hubungan diplomatik AS dengan negara-negara sekutu di Teluk Persia.

Bos CIA Nilai AS Gagal Tundukkan Iran

Mantan Menteri Pertahanan Amerika Serikat sekaligus mantan Direktur CIA, Leon Panetta, menilai Washington belum berhasil mencapai tujuan dalam konflik militernya dengan Iran. 

Ia pun memperingatkan Presiden Donald Trump mengenai dampak jangka panjang yang bisa muncul apabila perang terus berlangsung tanpa penyelesaian yang jelas.

Dikutip dari Al Mayadeen pada Minggu (27/7/2026), Panetta menyebut Amerika Serikat kini berada dalam posisi sulit setelah hampir lima bulan terlibat konflik militer dengan Iran.

"Sejarah mengajarkan kita bahwa perang yang berkepanjangan tidak akan berakhir baik," ungkap Panetta jujur.

Panetta kemudian mengingatkan kembali pengalaman Amerika Serikat dalam Perang Vietnam. Konflik berkepanjangan tersebut pada akhirnya memberikan hasil buruk bagi Washington.

Menurut Panetta, kondisi yang dihadapi AS saat ini memiliki kemiripan ketika berhadapan dengan Iran. 

Baca juga: Inilah Syarat Tegas Iran Tak Lagi Bombardir Pangkalan Militer AS, Benarkah Sulit Dipatuhi Trump?

KONFLIK TIMUR TENGAH - Mantan Direktur CIA sebut Amerika Serikat gagal tundukkan Iran. Ia memperingatkan perang dengan Iran bisa berakhir seperti Perang Vietnam
KONFLIK TIMUR TENGAH - Mantan Direktur CIA sebut Amerika Serikat gagal tundukkan Iran. Ia memperingatkan perang dengan Iran bisa berakhir seperti Perang Vietnam (YouTube/Tribun Video)

Serangkaian operasi militer yang dilancarkan Washington dinilai belum mampu membuat Teheran menyerah.

Di sisi lain, konflik yang terus berlanjut justru memberikan dampak terhadap kondisi ekonomi masyarakat Amerika Serikat. 

Lonjakan harga minyak dan meningkatnya biaya hidup disebut mulai dirasakan oleh publik di dalam negeri.

Panetta menilai beban ekonomi ini bakal menjadi persoalan tambahan bagi pemerintah AS.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump memperkirakan operasi militer hanya akan berlangsung sekitar empat hingga lima minggu. 

Namun, konflik telah berjalan hampir lima bulan dan belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian yang pasti.

Situasi tersebut, menurut Panetta, semakin menyulitkan Washington dalam mewujudkan tujuan politik yang ingin dicapai melalui operasi militer melawan Iran.

Sejumlah politisi dari Partai Republik juga mengakui adanya kejenuhan di tengah masyarakat AS akibat konflik yang berlangsung terlalu lama.

Meski mengkritik jalannya perang, Panetta tetap menawarkan strategi lain untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran. 

Salah satunya adalah dengan menguasai Selat Hormuz, jalur penting dalam perdagangan energi dunia.

Panetta menilai penguasaan kawasan strategis tersebut dapat digunakan Washington sebagai alat tawar dalam proses negosiasi dengan Teheran.

Namun, langkah ini juga memiliki risiko. Upaya menguasai Selat Hormuz berpotensi memicu eskalasi baru di kawasan Timur Tengah yang hingga kini masih berada dalam situasi tegang.

Iran Klaim Hancurkan Sejumlah Aset Militer AS

Di tengah konflik yang masih berlangsung, Iran mengklaim telah memberikan kerugian besar terhadap militer Amerika Serikat.

Selama dua minggu melancarkan serangan sejak 8 Juli 2026, Iran menyebut telah menghancurkan 11 pesawat militer AS. 

Sejumlah aset militer andalan Washington disebut Iran menjadi sasaran serangan. Di antaranya satu jet tempur F-15 dan satu pesawat patroli maritim P-8 Poseidon.

Baca juga: Penyebab AS Tiba-tiba Stop Bombardir Iran, Benarkah Trump Kebingungan Strategi dan Habis Amunisi?

Militer Teheran juga mengklaim berhasil melumpuhkan satu pesawat angkut C-17 Globemaster serta delapan pesawat pengisi bahan bakar di udara.

Tidak hanya pesawat berawak, Iran juga menyatakan telah menembak jatuh 17 drone tempur dan pengintai milik AS. Delapan di antaranya diklaim merupakan bagian dari armada pesawat nirawak generasi terbaru.

KONFLIK TIMUR TENGAH - Thumbail YouTube Tribun Video soal drone milik Iran serang tiga barak militer Amerika Serikat
KONFLIK TIMUR TENGAH - Thumbail YouTube Tribun Video soal drone milik Iran serang tiga barak militer Amerika Serikat (YouTube/Tribun Video)

Serangan Iran juga menyasar sistem pertahanan dan fasilitas militer Amerika Serikat. Enam unit sistem pertahanan udara Patriot serta puluhan stasiun radar canggih diklaim turut menjadi target.

Sejumlah fasilitas strategis dilaporkan mengalami kerusakan. Iran menyebut tujuh pusat komando dan tiga sistem komunikasi satelit milik pihak lawan ikut terdampak serangan.

Dari sisi logistik, IRGC mengklaim berhasil menghancurkan sejumlah depot bahan bakar dan gudang penyimpanan amunisi.

Beberapa peluncur roket HIMARS serta area parkir jet tempur Amerika Serikat telah menjadi sasaran rudal Iran.

Klaim itu disampaikan IRGC setelah militer AS dilaporkan menghentikan sementara operasi serangan udara yang dilakukannya.

IRGC Klaim 200 Tentara AS Tewas

Kerugian yang diklaim Iran tidak hanya berkaitan dengan peralatan dan fasilitas militer. IRGC menyebut sekitar 200 tentara Amerika Serikat tewas selama rangkaian serangan Teheran.

Klaim ini disampaikan Juru Bicara IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Mohebi.

Ia menyatakan jumlah korban yang diumumkan pemerintah Washington dinilai jauh lebih rendah dibandingkan kondisi sebenarnya di lapangan.

IRGC bahkan menantang pemerintah AS membuka akses bagi jurnalis internasional untuk mengunjungi dan memeriksa pangkalan militer yang disebut menjadi sasaran serangan.

Namun, hingga saat ini, berbagai klaim terkait kerusakan alutsista maupun jumlah korban jiwa dari pihak Amerika Serikat masih belum mendapatkan konfirmasi resmi dari pemerintah AS. (Tribun Style/Tribun Video)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.