Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Anggota DPRD Provinsi Maluku, Anos Yeremias, memastikan lembaganya akan mengawal pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN) Blok Masela agar tidak menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan laut maupun aktivitas perikanan di WPPNRI 718.
Menurutnya, pengawasan terhadap proyek gas raksasa tersebut tidak cukup hanya pada tahapan perizinan, tetapi harus berlangsung sejak konstruksi hingga masa produksi.
Anos menyebut sedikitnya lima aspek utama yang akan menjadi perhatian DPRD Provinsi Maluku.
Baca juga: Blok Masela di Jantung WPP 718, Aleg DPRD Maluku Minta Migas Tak Ganggu Lumbung Ikan Nasional
Baca juga: Poskesdes Persiapan Namalomin SBT Terbengkalai Sejak 2010, Warga Harus Menyeberang Laut tuk Berobat
Pertama, memastikan seluruh perusahaan mematuhi dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) beserta pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan secara konsisten.
Kedua, memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Maluku, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Kabupaten Maluku Barat Daya, pelaku usaha migas, hingga instansi kelautan dan perikanan.
Ketiga, menjamin perlindungan terhadap nelayan tradisional, termasuk kepastian akses ke wilayah penangkapan ikan apabila terdapat pembatasan operasional.
Keempat, melakukan monitoring berkala terhadap kualitas lingkungan laut agar potensi pencemaran dapat dideteksi sedini mungkin.
Kelima, memastikan manfaat ekonomi proyek benar-benar dirasakan masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja lokal, pemberdayaan UMKM, serta program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Langkah tersebut dinilai penting, mengingat Laut Arafuru merupakan salah satu kawasan laut paling sensitif secara ekologis.
Berbagai kajian menyebut wilayah ini menjadi jalur migrasi mamalia laut, memiliki ekosistem terumbu karang bernilai tinggi, serta menjadi salah satu pusat produksi perikanan nasional.
“Lokasi Blok Masela yang berada di Laut Arafura memiliki keterkaitan dengan Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 718, yang merupakan salah satu kawasan perikanan paling produktif di Indonesia. Karena itu, aktivitas eksplorasi maupun produksi migas harus dilaksanakan dengan standar perlindungan lingkungan yang ketat agar tidak mengganggu ekosistem laut, daerah penangkapan ikan, maupun mata pencaharian nelayan,” kata Anos saat diwawancarai reporter TribunAmbon.com, Senin (27/7/2026).
Diketahui, Lapangan Abadi di Blok Masela sendiri merupakan lapangan gas Laut Dalam dengan cadangan gas terbesar di Indonesia.
Lokasinya berada kurang lebih 180 km lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura dengan kedalaman laut 400-800 meter.
Sisi Selatan Blok Masela beririsan dengan perbatasan wilayah laut Indonesia-Australia dengan letak Blok seluruhnya berada di wilayah Indonesia.
Blok Masela diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$ 20,95 miliar atau sekitar Rp. 376 triliun (kurs Rp. 17.950).
Proyek ini dikembangkan oleh konsorsium yang dipimpin INPEX bersama PT. Pertamina Hulu Energi dan PETRONAS melalui skema produksi gas alam cair (LNG), gas pipa, serta penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS).
Dengan besaran kepentingan yang dimiliki yakni, INPEX Masela, Ltd 65,0 persen, Pertamina 20,0 persen, Petronas 15,0 persen.
Jenis kontrak pembagian bagi hasil produksi hingga 15 November 2055.
Lapangan dengan cadangan gas terbesar di Indonesia ini direncanakan menghasilkan 9,5 Juta Ton per Tahun (MTPA) LNG, 150 Juta Kaki Kubik Standar per Hari (MMSCFD) gas pipa, dan 35.000 barel/hari kondensat.
Konsep pengembangan lapangan hijau yang kompleks mencakup sistem pengeboran dan produksi bawah laut, Floating Production Storage and Offloading (FPSO), pipa gas ekspor sekitar 175 km dan Kilang LNG darat.
Blok Masela direncanakan menghasilkan LNG bersih melalui penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mendukung program Pemerintah dalam mengurangi emisi karbon dan mendukung keberlanjutan di era transisi energi. (*)