- DPR menegaskan hibah kapal induk dari Italia bertujuan memperkuat kedaulatan maritim, bukan untuk agresi.
Alutsista ini menjadi langkah strategis meningkatkan daya gentar TNI AL dengan tetap memegang politik bebas aktif.
Mengutip Tribunnews pada (27/7), hal ini diutarakan oleh Anggota Komisi I DPR RI, Nurul Arifin.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia membutuhkan platform maritim tangguh yang mampu berfungsi sebagai pusat komando operasional di wilayah perairan yang sangat luas.
"Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan wilayah laut yang sangat luas. Karena itu, kita membutuhkan platform maritim yang mampu beroperasi dalam waktu lama di laut sebagai pusat komando, pendukung operasi pengamanan perbatasan, bantuan kemanusiaan, pencarian dan penyelamatan, maupun evakuasi warga negara Indonesia apabila terjadi krisis di luar negeri," kata Nurul Arifin kepada media, Selasa (21/7/2026).
Kapal induk ini diproyeksikan untuk mendukung pengamanan perbatasan nasional serta memfasilitasi berbagai misi kemanusiaan seperti penanggulangan bencana dan evakuasi darurat.
Nurul Arifin menjelaskan bahwa konsep efek gentar difokuskan untuk memperlihatkan kapasitas Indonesia dalam membentengi wilayahnya sendiri secara mandiri.
"Efek gentar bukan semata-mata soal kemampuan menyerang, tetapi bagaimana negara lain melihat bahwa Indonesia memiliki kapasitas untuk menjaga wilayahnya sendiri. Kehadiran kapal ini akan meningkatkan kepercayaan diri TNI AL sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam menjaga stabilitas kawasan," ujarnya.
Keberadaan kapal tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri prajurit TNI AL sekaligus menjaga stabilitas keamanan di jalur pelayaran internasional kawasan.
Meskipun demikian, DPR mengingatkan pemerintah untuk melakukan evaluasi teknis secara mendalam mengingat usia kapal induk tersebut yang sudah mendekati empat dekade.
Proses modernisasi dan perawatan yang tepat sangat mutlak diperlukan agar kapal dapat beroperasi secara optimal dan aman saat diterjunkan ke lapangan.
"Usia kapal memang menjadi perhatian. Namun apabila kondisi teknisnya masih baik dan proses modernisasi dilakukan secara tepat, kapal ini tetap memiliki nilai strategis yang besar. Yang jauh lebih penting adalah transfer pengetahuan, pengalaman operasional, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia Indonesia dalam mengoperasikan kapal induk," kata Ketua Media dan penggalangan Opini (MPO) Partai Golkar itu.
Dari segi anggaran, penerimaan hibah senilai 54 juta euro ini dinilai jauh lebih efisien dibandingkan harus membeli kapal induk baru yang berbiaya sangat tinggi.
Selain fungsi pertahanan, pengoperasian kapal induk Giuseppe Garibaldi juga difungsikan sebagai sarana transfer teknologi bagi industri pertahanan nasional.
"Kita harus melihat hibah ini sebagai investasi strategis. Selain memperkuat kemampuan operasi maritim, kapal ini menjadi laboratorium berjalan bagi pelaut, teknisi, peneliti, hingga industri pertahanan nasional untuk mempelajari teknologi kapal induk. Pengalaman seperti ini tidak bisa diperoleh hanya melalui pendidikan di kelas," ujar Nurul Arifin.
Kapal ini diharapkan menjadi laboratorium berjalan bagi para pelaut, teknisi, dan peneliti Indonesia untuk mempelajari manajemen kapal induk secara langsung.
Indonesia dinilai belum membutuhkan kapal induk raksasa tipe penyerang, melainkan platform multifungsi yang sesuai dengan karakteristik geografis negara.
"Yang kita perlukan bukan kemampuan proyeksi kekuatan untuk menyerang negara lain, melainkan kemampuan menjaga laut Indonesia, memperkuat kehadiran negara di wilayah perbatasan, dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai ancaman nontradisional maupun bencana. Dalam konteks itulah kapal ini memiliki nilai strategis bagi Indonesia," kata Nurul Arifin.
Dengan target kedatangan pada September 2026, hibah kapal induk dari Italia ini menjadi investasi strategis demi memperkuat pertahanan laut serta kesiapsiagaan nasional.