Asya Yumi Percaya Perempuan Tak Sekadar Pelengkap, Tapi Penggerak Perubahan di Politik
Feryanto Hadi July 28, 2026 12:17 AM

 

 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Dunia modeling dan ajang kecantikan identik dengan gemerlap panggung.

Namun bagi Asya Yumi, perempuan kelahiran 16 Januari 1994 itu, panggung hanyalah awal dari perjalanan panjang untuk mengabdi kepada masyarakat.

Model yang kini menyandang gelar Putri Kebudayaan Sulawesi Selatan 2026 tersebut memilih mengambil langkah yang tak biasa. Di tengah kariernya di dunia hiburan, Asya memutuskan masuk ke dunia politik.

Keputusan itu diakuinya bukan perkara mudah.

Ia sadar, politik masih dipandang sebagai dunia yang keras dan penuh tantangan, terlebih bagi perempuan muda yang berasal dari latar belakang modeling dan pageant.

Namun, lulusan Sarjana Ekonomi STiEM Bongaya Makassar itu meyakini perubahan tidak cukup hanya disuarakan melalui kampanye atau media sosial.

Menurut Asya, perubahan membutuhkan keterlibatan langsung dalam proses pengambilan keputusan.

"Bagi saya, dunia pageant dan modeling menjadi ruang untuk belajar berbicara, membangun kepercayaan diri, serta membawa pesan tentang pentingnya melestarikan budaya Indonesia. Namun saya menyadari bahwa perubahan tidak cukup hanya melalui kampanye atau edukasi. Dibutuhkan kebijakan agar gagasan yang diperjuangkan bisa diwujudkan secara nyata," ujarnya kepada Warta Kota, Senin (27/7/2026)

Kesadaran itulah yang kemudian mendorongnya memasuki dunia politik.

Ia ingin menjadi bagian dari generasi muda yang tidak hanya menyampaikan aspirasi masyarakat, tetapi juga ikut menghadirkan solusi.

Fokus perjuangannya tetap berpijak pada isu yang selama ini dekat dengan kehidupannya, yakni pelestarian budaya, pendidikan, pemberdayaan generasi muda, dan penguatan kearifan lokal.

Dunia Pageant Menjadi Bekal Berpolitik

Bagi Asya, modeling, pageant, dan politik bukanlah tiga dunia yang saling bertolak belakang.

Justru sebaliknya, ketiganya saling melengkapi.

Dunia modeling dan pageant telah mengajarkannya mengenai disiplin, etika, kemampuan berkomunikasi, hingga menjadi representasi yang baik di hadapan publik.

Sementara politik, menurutnya, merupakan ruang untuk menerapkan seluruh nilai tersebut dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Ia juga mengaku banyak belajar mengenai keberagaman ketika mengikuti berbagai kegiatan pageant.

Pengalaman bertemu masyarakat dari berbagai latar belakang membuatnya memahami pentingnya mendengar dan menghargai setiap aspirasi.

"Siapa pun, dari latar belakang apa pun, dapat berkontribusi bagi bangsa selama memiliki integritas, kompetensi, dan kepedulian," katanya.

Resmi Bergabung ke Dunia Politik

Kini Asya resmi bergabung dengan PUAN (Perempuan Amanat Nasional) dan dipercaya menjadi pengurus DPD Jakarta Timur.

Selain menjalankan tugas sebagai Putri Kebudayaan Sulawesi Selatan 2026, ia juga aktif mengembangkan advokasi Ruang Nusantara, sebuah gerakan yang berfokus pada pelestarian adat, budaya, sejarah, dan kearifan lokal Indonesia.

Melalui organisasi dan partai politik, Asya ingin menjadi jembatan antara aspirasi masyarakat dengan proses pengambilan kebijakan.

Menurutnya, politik bukan sekadar berbicara mengenai kekuasaan.

"Politik adalah jalan pengabdian. Tugas saya adalah terus belajar, mendengar aspirasi masyarakat, membangun komunikasi dengan berbagai elemen, dan menghadirkan program yang berdampak positif," tuturnya.

Ingin Buktikan Perempuan Mampu Memimpin

Memasuki dunia politik yang masih didominasi laki-laki bukan tanpa tantangan.

Namun Asya menegaskan tantangan terbesar bukanlah karena dirinya perempuan.

Melainkan bagaimana membuktikan bahwa perempuan juga memiliki kapasitas, integritas, dan kualitas kepemimpinan yang sama.

Ia menilai perempuan sering kali harus bekerja lebih keras agar kompetensinya diakui.

Meski demikian, perempuan memiliki keunggulan berupa empati, kemampuan membangun kolaborasi, serta kepedulian terhadap masyarakat.

"Saya ingin membuktikan bahwa kehadiran perempuan di politik bukan sekadar memenuhi kuota keterwakilan, tetapi benar-benar mampu menghadirkan solusi dan perubahan nyata," ujarnya.

Budaya Harus Menjadi Fondasi Pembangunan

Sebagai Putri Kebudayaan Sulawesi Selatan 2026, Asya ingin membawa misi pelestarian budaya hingga ke ranah kebijakan.

Baginya, budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan fondasi bagi masa depan bangsa.

Ia berharap lahir berbagai kebijakan yang melindungi situs sejarah, memberdayakan seniman, memperkuat pendidikan berbasis budaya lokal, hingga mengembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya.

"Budaya harus terus hidup dan dilestarikan, bukan hanya dikenang," katanya.

Menurutnya, pelestarian budaya juga mampu membuka peluang ekonomi melalui sektor pariwisata, UMKM, hingga industri kreatif.

Perempuan Harus Menjadi Subjek Pembangunan

Selain budaya, isu pemberdayaan perempuan menjadi perhatian utama Asya.

Ia menilai akses perempuan terhadap pendidikan, kesempatan ekonomi, perlindungan hukum, hingga ruang kepemimpinan masih perlu diperkuat.

Menurutnya, masih banyak perempuan Indonesia yang memiliki potensi besar tetapi belum memperoleh kesempatan yang setara.

Karena itu, ia ingin mendorong lahirnya kebijakan yang mendukung pelaku UMKM perempuan, memperluas akses pendidikan dan pelatihan, serta memastikan perlindungan hukum bagi perempuan dan anak berjalan efektif.

"Saya ingin perempuan Indonesia tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi menjadi subjek yang ikut menentukan arah kemajuan bangsa," tegasnya.

Politik Harus Dekat dengan Masyarakat

Dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, Asya memiliki cita-cita menjadi politisi yang dikenal bukan karena popularitas.

Ia ingin dikenal melalui integritas, kerja nyata, dan keberpihakan kepada masyarakat.

Sebagai representasi perempuan muda Indonesia, Asya berharap mampu menginspirasi lebih banyak generasi muda untuk berani mengambil peran sebagai pemimpin.

Ia juga ingin menghadirkan politik yang dekat dengan masyarakat, berakar pada budaya, dan berorientasi pada masa depan Indonesia.

Pesan untuk Perempuan Muda

Menutup perbincangan, Asya memberikan pesan kepada perempuan muda yang masih ragu memasuki dunia politik.

Menurutnya, stigma tidak boleh menjadi penghalang untuk mengabdi kepada masyarakat.

"Jangan pernah takut melangkah hanya karena stigma atau pandangan orang lain. Politik bukan ruang yang harus ditakuti, melainkan ruang pengabdian yang membutuhkan lebih banyak orang baik, berintegritas, dan peduli kepada masyarakat," katanya.

Ia mengajak perempuan Indonesia untuk terus membekali diri dengan ilmu, menjaga integritas, serta berani mengambil peran dalam kepemimpinan.

"Saya percaya perempuan bukan hanya mampu menjadi pelengkap dalam kepemimpinan, tetapi juga mampu menjadi penggerak lahirnya kebijakan yang berpihak kepada masyarakat. Masa depan Indonesia membutuhkan lebih banyak perempuan yang berani bersuara, berkarya, dan mengabdi," tutup Asya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.