PROHABA.CO, YOGYAKARTA - Perebutan kursi lurah di 31 kalurahan di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), siap bertarung pada pemilihan lurah (pilur) yang dilaksanakan serentak 26 September 2026 mendatang.
Tercatat ada 99 bakal calon yang mendaftar hingga penutupan pendaftaran dilakukan.
Puluhan para bakal calon tersebut siap memperebutkan kursi lurah pada hari pemilihan tersebut dilaksanakan.
Menariknya, ada sejumlah profesi turut mewarnai kontestasi Pilur Gunungkidul 2026 pada 26 September 2026.
Di antara para bakal calon itu terdapat wartawan dan pekerja seni yang berprofesi sebagai master of ceremony (MC).
Kepala Bidang Bina Administrasi dan Aparatur Pemerintahan Kalurahan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPMKP2KB) Gunungkidul, Kriswantoro, mengatakan Kalurahan Sampang, Kapanewon Gedangsari, menjadi wilayah dengan jumlah pendaftar terbanyak, yakni 9 bakal calon lurah.
Selanjutnya, 7 bakal calon mendaftar di Kalurahan Monggol, Kapanewon Saptosari.
Kemudian, Kalurahan Mertelu, Kapanewon Gedangsari, dengan 6 bakal calon dan Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen, dengan 5 bakal calon.
"Nanti yang lebih dari 5 akan diseleksi terlebih dahulu, total ada sebanyak 99 orang di 31 kalurahan," kata Kriswantoro, saat dihubungi wartawan melalui telepon, Senin (27/6/2026).
Setelah pendaftaran ditutup, tahapan selanjutnya adalah pemeriksaan kelengkapan persyaratan para bakal calon sebelum nantinya ditetapkan sebagai calon lurah.
"Sekarang sudah ada 23 lurah petahana yang menyerahkan berkas pendaftaran," ucap dia dikutip dari Kompas.com.
Wartawan dan MC ikut andil
Salah satu bakal calon lurah yang ikut dalam kontestasi Pilur Gunungkidul 2026 adalah Suharjono.
Wartawan sekaligus pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Gunungkidul itu mendaftar sebagai bakal calon lurah di Kalurahan Ngawu.
Suharjono mengatakan telah menyiapkan visi dan misi untuk membangun kalurahannya jika terpilih sebagai lurah.
"Saya ingin siapkan Ngawu sebagai desa digital dengan mendorong lahirnya pemuda-pemuda entrepreneur berbasis digital," kata Suharjono.
Dia mengakui, saat ini kalurahan berada dalam kondisi dilematis karena dana desa dari pemerintah pusat harus dipotong.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan yang harus diselesaikan karena kemampuan fiskal di kalurahan benar-benar terbatas.
"Potensi utama di kalurahan adalah pertanian, maka harus dilakukan upaya modernisasi dan digitalisasi untuk optimalisasi," ucap dia.
Selain wartawan, pekerja seni yang berprofesi sebagai master of ceremony (MC), Adnan Yuniar Kumoro Jati, juga resmi mendaftar sebagai bakal calon lurah di Kalurahan Baleharjo, Wonosari.
Aat, panggilan akrabnya, mengatakan ingin membangun kampung halamannya secara transparan.
Menurut dia, Baleharjo yang berada di pusat Kota Wonosari seharusnya dapat berkembang bersama masyarakatnya.
Dia berharap pelaksanaan pemilihan lurah berlangsung aman dan damai serta menjunjung tinggi semangat persaudaraan dan demokrasi yang sehat.
"Saya ingin mewujudkan Baleharjo yang Maju, Guyub, Transparan, Berbudaya melalui pemerintahan yang siap melayani serta melibatkan peran warga menuju kesejahteraan bersama," kata dia.(*)