Antrean BBM Mengular di Sejumlah SPBU Pontianak, Warga Beralih ke Pertamax Imbas Pertalite Kosong
Faiz Iqbal Maulid July 28, 2026 01:32 AM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Antrean kendaraan tampak mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Pontianak, Senin 27 Juli 2026.

Panjangnya antrean terjadi di beberapa titik, di antaranya SPBU di Jalan MT Haryono dan Jalan Pancasila.

Berdasarkan pantauan TribunPontianak.co.id, antrean kendaraan roda dua maupun roda empat di SPBU Jalan MT Haryono memanjang hingga ke badan jalan.

Bahkan, sejumlah pengendara memilih membatalkan niat mengisi BBM setelah melihat antrean yang begitu panjang.

Kondisi semakin diperparah setelah stok BBM subsidi jenis Pertalite di SPBU tersebut habis sejak sore hari.

Akibatnya, banyak pengendara terpaksa beralih mengisi Pertamax agar kendaraan tetap bisa digunakan.

Untuk mengurai kepadatan, petugas SPBU membuka dua jalur pengisian, masing-masing untuk kendaraan roda dua dan roda empat.

• Polda Kalbar Dalami Keluhan Sopir Soal BBM Subsidi, Siap Masuk Penyidikan

Salah seorang warga yang mengantre, Ical mengaku awalnya berniat mengisi Pertalite.

Namun karena stok telah habis, ia memilih membeli Pertamax meski harganya lebih mahal.

“Awalnya mau isi Pertalite, tapi ternyata sudah kosong. Mau tidak mau sementara beralih ke Pertamax. Walaupun harganya di atas Pertalite, yang penting motor masih bisa dipakai. Saya juga sudah antre lama,” ujarnya.

Menurut Ical, motornya digunakan setiap hari untuk menunjang aktivitas sehingga ia tidak memiliki banyak pilihan selain membeli BBM nonsubsidi.

Ia berharap kondisi kelangkaan BBM seperti ini tidak kembali terulang. Pasalnya, dalam beberapa waktu terakhir, kejadian serupa sudah terjadi dua kali dan memicu kepanikan masyarakat.

“Kalau kondisi seperti ini orang pasti panic buying. Sekarang saja pengecer Pertalite sudah pada kosong karena ramai dibeli orang,” katanya.

Ia pun berharap pemerintah segera mengambil langkah tegas dan menyiapkan solusi jangka panjang agar distribusi BBM tetap berjalan normal sehingga masyarakat tidak kembali mengalami kesulitan mendapatkan bahan bakar.

Sementara itu, antrean panjang juga terjadi di SPBU Jalan Pancasila. Kendaraan roda dua dan roda empat terlihat mengular di sepanjang badan jalan menuju area pengisian BBM.

Berbeda dengan SPBU di Jalan MT Haryono, stok Pertalite di SPBU Jalan Pancasila masih tersedia.

Meski demikian, tingginya jumlah kendaraan yang datang membuat antrean tetap panjang. Petugas SPBU juga membuka dua jalur pengisian untuk mempercepat pelayanan.

Seorang pengendara, Wati, mengatakan dirinya mengantre untuk mengisi Pertalite karena sepeda motor yang digunakannya merupakan sarana utama untuk bekerja sekaligus memenuhi kebutuhan rumah tangga.

“Tidak ada pilihan. Kalau tidak antre di SPBU, kami juga tidak bisa beli di eceran karena sudah pada kosong,” ujarnya.

• Antrean SPBU di Kalbar Dipicu Kapal BBM Menunggu Air Pasang di Sungai Kapuas

Wati mengaku dalam kondisi normal dirinya memang lebih sering mengisi BBM di SPBU.

Namun biasanya antrean berlangsung lancar dan tidak sepanjang yang terjadi pada hari ini.

Ia berharap situasi tersebut segera kembali normal agar masyarakat tidak perlu menghabiskan waktu lama hanya untuk mendapatkan bahan bakar.

Fraksi PAN DPRD Pontianak Desak Pertamina Percepat Solusi

Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) DPRD Kota Pontianak, Zulfydar Zaidar Mochtar menilai fenomena antrean panjang kendaraan beli BBM ini harus segera diantisipasi agar tidak berdampak terhadap aktivitas masyarakat maupun perekonomian di Kalimantan Barat.

Menurutnya, keterlambatan pasokan BBM juga dirasakan masyarakat yang menggunakan kapal-kapal kecil untuk menunjang aktivitas ekonomi.

"Saya kira ini kaitan dengan kebijakan dan harus dapat dicarikan jalan keluar. Jangan sampai perekonomian ini lambat gara-gara tidak diberikan solusi, kaitannya dengan kapal-kapal kecil yang menggunakan BBM sebagai alat untuk memajukan perekonomian Kalimantan Barat," ujar Zulfydar saat dikonfirmasi tribunpontianak.co.id, Senin 27 Juli 2026.

Ia mengatakan, persoalan antrean BBM bukan kali pertama terjadi.

Karena itu, Pertamina dinilai seharusnya mampu melakukan antisipasi berdasarkan kondisi yang berpotensi menghambat distribusi BBM, termasuk faktor kedangkalan alur sungai yang dapat menghambat kapal pengangkut bersandar.

"Pertamina harus mampu mengantisipasi kejadian ini dan mengetahui keadaan alur sungai yang memang terjadi terus. Kalau kelemahannya di dasar, terjadinya kedangkalan, ini yang dimaksud bagaimana antisipasinya," katanya.

Zulfydar menegaskan pemerintah dan Pertamina harus dapat membaca situasi secara cepat, termasuk ketika kondisi air sungai surut yang berpotensi menghambat kapal pengangkut BBM masuk ke depot.

"Kalau seandainya airnya kering terus, berarti BBM tidak masuk, kan itu jadi masalah. Ini harus diantisipasi. Pertamina harus mampu menjelaskan ini. Kita tidak mau hal demikian terjadi perlambatan dan menjadi masalah sosial di tengah masyarakat," tegasnya.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.