Berawal dari Kisah di Medan, Hamid Nabhan Selamatkan Sejarah Aksera Lewat Sebuah Buku
Wiwit Purwanto July 28, 2026 11:32 AM

 

SURYA.CO.ID SURABAYA – Kegelisahan melihat sejarah seni yang nyaris hilang mendorong Hamid Nabhan menulis buku "Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera) dalam Sejarah dan Dinamika".

Satu dekade setelah pertama kali terbit, buku yang menjadi satu-satunya referensi khusus tentang Aksera itu kembali hadir dalam edisi cetak ulang dengan format baru.

Di balik terbitnya buku tersebut tersimpan perjalanan panjang yang penuh ketekunan.

Selama hampir 10 bulan pada 2016, Hamid mengumpulkan berbagai potongan sejarah yang tercecer dengan mendatangi para alumni, mewawancarai saksi hidup, hingga menelusuri dokumen yang tersisa.

Upaya itu dilakukan agar jejak Akademi Seni Rupa Surabaya yang melahirkan banyak seniman ternama Indonesia tidak hilang ditelan waktu.

Baca juga: Sosok Pelukis Hamid Nabhan, Terinspirasi Vincent van Gogh Rela Jelajah Eropa Demi Seni

Hamid mengatakan, ide menulis buku itu muncul setelah dirinya bertemu seorang seniman asal Medan yang bercerita tentang hilangnya sejarah Dewan Kesenian Medan karena tidak pernah didokumentasikan.

"Mula-mulanya saya bertemu dengan Seniman dari kota Medan yang bercerita tentang Dewan Kesenian Medan yang bercerita bahwa Dewan Kesenian Medan tidak pernah dicatat sejarahnya, karena para seniornya semuanya sudah tiada, waktu mereka hidup tidak sempat mencatat sejarah berdirinya Dewan Kesenian Medan."

Cerita tersebut terus membekas di benaknya. Sepulang ke Surabaya, ia teringat keberadaan Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera), sebuah institusi pendidikan seni yang pernah melahirkan banyak seniman besar, tetapi minim dokumentasi sejarah.

"Sewaktu pulang ke Surabaya saya mulai berfikir bahwa dulu pernah berdiri sebuah akademi Seni yang cukup terkenal di Surabaya yaitu Aksera yang melahirkan banyak Seniman kenamaan di Tanah Air, maka saya cari cari refrensi tentang Aksera, ternyata tidak mudah untuk menemukan dokumen dokumen tersebut."

Menelusuri Saksi Hidup hingga Cetak Ulang Edisi Baru

Kesulitan memperoleh arsip membuat Hamid memilih mendatangi satu per satu alumni Aksera. Ia mencatat nama guru, daftar mahasiswa di setiap angkatan, hingga berbagai cerita yang belum pernah terdokumentasi.

Baca juga: Pelukis Jatim Berpeluang Go Internasional, Bang Wetan Gandeng Komunitas Seni dari Xiamen

Saat itu hanya ada satu guru Aksera yang masih hidup, yakni Thea Susetia Kusumo. Hamid mewawancarainya sekaligus meminta tulisan untuk melengkapi isi buku.

"Mulailah saya berkeliling untuk mewancarai alumni Aksera tersebut, sambil menanyakan siapa siapa saja gurunya, siswa-siswi per angkatan, mulai saya catat saya data, ternyata hanya seorang guru yg waktu itu masih hidup yaitu ibu Thea yang saya datangi dan saya wawancarai."

Selain Thea, Hamid juga menghubungi mantan pegawai tata usaha Aksera bernama Prabowo atau Bowo yang tinggal di Jawa Tengah. Dari Bowo, ia memperoleh berbagai informasi mengenai administrasi dan pengelolaan Aksera yang semakin memperkaya isi buku.

Selama sekitar 10 bulan, Hamid berhasil merampungkan buku tersebut. Edisi pertama diterbitkan pada 2016 dengan dua kali cetak, masing-masing sebanyak 1.000 eksemplar, dan seluruhnya dibagikan secara cuma-cuma kepada masyarakat.

Buku yang diberi pengantar oleh Hotman M. Siahaan itu juga dilengkapi tulisan dari sejumlah tokoh seni, di antaranya Thea Susetia Kusumo, pelukis nasional Makhfoed (alm), Nurzulis Koto, dan Nunung WS, sehingga menjadi dokumentasi yang lebih utuh mengenai sejarah Aksera.

Setelah stok dua edisi awal habis dan masih banyak masyarakat yang belum sempat membacanya, Hamid memutuskan mencetak ulang buku tersebut pada 2026.

Edisi terbaru hadir dengan format berbeda, tambahan materi, dan kini diterbitkan oleh Garudha Waca yang juga memegang hak cipta buku tersebut.

Bagi Hamid, penerbitan ulang ini bukan sekadar menghadirkan kembali sebuah buku, melainkan menjaga agar sejarah Aksera tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi seniman maupun masyarakat luas yang ingin mengenal perjalanan salah satu institusi seni rupa paling berpengaruh di Surabaya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.