Kerajinan Bambu Desa Belega Bali Menggeliat, Permintaan Tembus Italia hingga Jepang
Putu Dewi Adi Damayanthi July 28, 2026 01:40 PM

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Desa Belega, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali, terus mempertahankan reputasinya sebagai sentra kerajinan bambu di Bali. 

Kini, mereka tidak hanya memproduksi anyaman, kursi, partisi, hingga gazebo, para perajin kini juga kebanjiran pesanan bangunan bambu skala besar yang dipasarkan hingga mancanegara.

Salah satu perajin, Kadek Sena, Selasa 28 Juli 2026 mengatakan, dirinya telah menekuni usaha konstruksi bambu selama sekitar 10 tahun. 

Menurutnya, perjalanan bisnis tersebut penuh tantangan karena permintaan pasar sangat dipengaruhi dinamika pariwisata global.

Baca juga: Kronologi Rumah Seniman di Sukawati Gianyar Bali Terbakar Saat Ditinggal Pentas PKB, Harta Ludes

"Awalnya kami membuat kursi set bambu. Karena persaingan semakin ketat, kami terus berinovasi membuat kursi gazebo hingga gazebo ukuran 1,6 x 1,6 meter. Waktu itu gazebo bambu sempat sangat diminati, namun sekarang mulai menurun," ujar Sena.

Tak ingin berhenti, Sena terus mengembangkan desain dan produk berbahan bambu. 

Hasilnya, usahanya mendapat kepercayaan mengerjakan bangunan bambu untuk gala dinner delegasi G20. 

Proyek tersebut menjadi titik balik yang membuat namanya semakin dikenal.

Kerajinan: Penampakan banguna yang menggunakan bambu dari perajin di Desa Belega, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar. Kerajinan Bambu Desa Belega Bali Menggeliat, Permintaan Tembus Italia hingga Jepang (Istimewa)

Setelah itu, ia dipercaya membangun vila bambu di Sumbawa, serta mengerjakan berbagai proyek di Karangasem, Buleleng, dan sejumlah daerah lainnya.

Kini, menurut Sena, investor akomodasi di kawasan tropis semakin tertarik menggunakan bangunan berbahan bambu. 

Salah satu produk yang paling diminati adalah unit vila bambu berukuran 4x6 meter dengan material bambu secara menyeluruh.

Satu unit vila tersebut dibanderol sekitar Rp 200 juta dalam kondisi selesai dibangun. 

Bahkan, produk bangunan bambu buatannya telah diekspor dalam bentuk knockdown ke Italia, Jepang, dan sejumlah negara lainnya.

"Asal ada desain, kami coba kerjakan. Tetapi tetap melalui perhitungan, termasuk menguji kekuatan bangunan terhadap hempasan angin," katanya.

Untuk memenuhi permintaan, Sena kini mempekerjakan 12 tenaga kerja dalam setiap proyek. 

Di balik tingginya permintaan, para perajin justru menghadapi persoalan kekurangan tenaga ahli. 

Kadek Sena mengungkapkan saat ini jumlah perajin bambu di Desa Belega diperkirakan tinggal sekitar 30 orang, sebagian besar sudah berusia lanjut.

"Yang senior atau ahli banyak yang bekerja keluar negeri. Sekitar 20 orang ada di India, beberapa lagi di Italia. Di Belega justru sekarang krisis tenaga perajin," ungkapnya.

Meningkatnya permintaan juga berdampak pada harga bahan baku. 

Bambu petung yang sebelumnya dijual sekitar Rp 140 ribu per batang kini naik menjadi Rp 200 ribu per batang. Sementara bambu lokal Bali berada di kisaran Rp 50 ribu per batang.

Pasokan bambu pun tidak lagi hanya mengandalkan Bali, tetapi juga didatangkan dari Pulau Jawa, serta sejumlah daerah seperti Tabanan dan Bangli. 

"Pemilihan bambu sangat penting. Selain harus tua, batangnya juga harus lurus dan tidak cacat. Permintaan tinggi membuat harga bambu ikut melonjak," ujarnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.