Laporan Muhammad Azzam
TRIBUNBEKASI.COM, KARAWANG- Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Stella Christie, A.B., Ph.D., mengingatkan bahwa AI menyimpan konsekuensi besar terhadap lingkungan karena mengonsumsi listrik dan air dalam jumlah masif.
Karena itu, mahasiswa diminta tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga memanfaatkannya secara bijak.
Pesan tersebut disampaikan Stella saat menyampaikan Orasi Ilmiah dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) di Aula Syekh Quro pada Senin (27/7/2026).
Menurut Stella, setiap pertanyaan yang diajukan ke platform AI seperti ChatGPT diproses di pusat data atau data center yang membutuhkan energi listrik dan air bersih untuk menjaga suhu perangkat tetap stabil.
"Setiap kali kalian mengetik di ChatGPT atau Claude, itu harus dihitung oleh komputer di data center, dan itu memakan energi, listrik, dan air," ujarnya.
Ia memaparkan, kebutuhan listrik AI terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2025, konsumsi listrik pusat data AI diperkirakan setara dengan penggunaan listrik negara Latvia. Angka itu diproyeksikan meningkat menjadi setara Rumania pada 2026, Ceko pada 2027, Italia pada 2028, hingga Inggris pada 2029.
Tak hanya listrik, AI juga membutuhkan air bersih dalam jumlah besar untuk sistem pendingin pusat data. Stella menyebut, GPT-4 saja diperkirakan menghabiskan air bersih setara kebutuhan sekitar 1,2 juta orang, sementara konsumsi listriknya setara dengan sekitar 325 universitas atau 50 rumah sakit besar.
"AI itu sangat rakus. Padahal sejauh ini yang baru kita lihat hanyalah potensinya. AI belum menyembuhkan kanker, belum menulis novel terlaris dunia, dan belum membangun perusahaan Fortune 500," katanya.
Meski demikian, Stella menegaskan bahwa AI bukan untuk ditolak, melainkan dimanfaatkan secara kritis dan bertanggung jawab. Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya bergantung pada AI untuk menyelesaikan tugas, tetapi tetap mengembangkan kemampuan berpikir dan menghasilkan pengetahuan baru.
Stella juga menekankan tiga peran yang harus dijalankan perguruan tinggi agar tetap relevan di era AI, yakni Creation of Knowledge (menciptakan pengetahuan), Transmission of Knowledge (mentransmisikan pengetahuan), dan Curation of Knowledge (mengurasi pengetahuan).
"Tugas kita bukan menghentikan perkembangan AI, karena itu tidak mungkin. Yang bisa kita lakukan adalah mengembangkan diri agar memiliki kemampuan yang tidak mudah tergantikan oleh AI," kata dia. (MAZ)