TRIBUN-SULBAR.COM- Viral Seorang ayah berinisial KD tewas setelah menjadi korban pengeroyokan massa di Banjar Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, pada Jumat (24/7/2026) dini hari.
Kasus tersebut kini berbuntut panjang.
Kasus ini juga menyita perhatian publik, karena korban merupakan seorang ayah memiliki istri dan anak.
Baca juga: Berkas P21, Polda Sulbar Segera Limpahkan 2 Tersangka Dugaan Korupsi DPRD Mamuju ke Kejari
Baca juga: Sudah Dijanji Lurah Dapat Bantuan Bedah Rumah, Lansia di Polman Sedih Karena Rumah Mau Roboh
Dalam kasus ini Polres Tabanan menetapkan lima orang sebagai tersangka dan melakukan ekshumasi atau pembongkaran makam korban pada Senin (27/7/2026) untuk kepentingan penyidikan.
Kapolres Tabanan AKBP I Putu Bayu Pati mengatakan, ekshumasi dilakukan guna melengkapi alat bukti dalam penyidikan perkara.
Jenazah KD yang dimakamkan di Tempat Pemakaman Desa Adat Sidetapa, Kabupaten Buleleng, diperiksa kembali untuk memastikan penyebab kematian dan memperkuat konstruksi hukum.
"Tujuan utama ekshumasi adalah mengidentifikasi identitas mayat, mencari penyebab pasti kematian, serta mengumpulkan tanda-tanda kekerasan demi kepentingan penegakan keadilan hukum," ujarnya.
Peristiwa itu bermula ketika KD diduga kepergok mencuri seekor ayam aduan sebelum akhirnya menjadi sasaran amukan massa.
Selain mengeroyok korban hingga meninggal dunia, massa juga membakar sepeda motor yang digunakan KD.
Hingga kini, polisi telah menetapkan lima orang sebagai tersangka setelah memeriksa sejumlah saksi dan mengumpulkan rekaman CCTV.
Kelima tersangka dijerat Pasal 261 ayat (1) juncto ayat (4) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP terkait tindak pidana kekerasan yang dilakukan secara bersama-sama di muka umum.
"Untuk sementara kami fokus pada lima tersangka yang telah kami tetapkan. Jadi lima orang ini masih dalam pemeriksaan juga," kata AKBP I Putu Bayu Pati.
Polisi juga membuka kemungkinan adanya penambahan tersangka karena penyelidikan masih terus berlangsung.
Dalam penyidikan, polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti berupa pisau, ketapel, dan batu kecil.
KD diketahui meninggalkan seorang istri dan tiga anak.
Anak sulungnya telah berkeluarga, anak kedua masih duduk di bangku kelas 1 SMA, sedangkan anak bungsunya masih kelas 1 SD.
Kepala Desa Sidetapa, I Made Sutama, mengaku ikut berduka saat menjemput jenazah korban. Menurutnya, tangis anak-anak KD menjadi pemandangan yang paling menyayat hati.
"Saya sedih melihat anak-anaknya menangis kehilangan ayahnya," ujar Sutama.
Pihak keluarga mengaku telah mengikhlaskan kepergian KD dan hingga kini belum mengajukan laporan polisi terkait pengeroyokan tersebut.
"Orangnya sudah meninggal. Saya sampaikan kepada keluarga agar mengikhlaskan kepergiannya. Soal yang terjadi, biarlah menjadi urusan hukum dan Tuhan yang memberikan jalan terbaik," kata Sutama.(*)