TRIBUNJOGJA.COM - Belakangan ini musik orkestra Jawa semakin digemari, terutama oleh kalangan anak muda di Yogyakarta.
Bahkan, beberapa konser yang digelar di kawasan Keraton Yogyakarta selalu dipadati penonton hingga tiketnya cepat habis.
Salah satu lagu yang kerap dibawakan dalam pertunjukan Yogyakarta Royal Orchestra adalah Tak Lelo Ledung.
Tembang Jawa yang berasal dari Jawa Tengah ini dikenal memiliki alunan yang lembut dan menenangkan.
Di balik melodinya, lagu tersebut ternyata menyimpan sejarah serta makna yang begitu dalam, sehingga masih terus dinyanyikan dari generasi ke generasi.
Lantas, bagaimana sejarah, makna, dan fakta menarik di balik lagu Tak Lelo Ledung? Berikut penjelasannya.
Menurut berbagai literatur musik Jawa, Tak Lelo Ledung merupakan tembang pengantar tidur yang berasal dari budaya Jawa.
Lagu ini kemudian dipopulerkan oleh musisi Markasan, seorang pemimpin Orkes Keroncong Aneka Warna pada era 1960-an, sebelum akhirnya semakin dikenal luas berkat penyanyi keroncong legendaris Waljinah.
Markasan mengadaptasi tradisi lisan masyarakat Jawa yang sejak dahulu terbiasa menyanyikan tembang saat menimang anak.
Markasan kemudian mengemasnya menjadi sebuah lagu tanpa menghilangkan nuansa khas budaya Jawa.
Sekilas, Tak Lelo Ledung memang terdengar seperti lagu untuk menidurkan anak. Namun, menurut kajian mengenai sastra lisan Jawa, tembang ini sebenarnya berisi doa dan harapan orang tua kepada buah hatinya.
Melalui lirik-liriknya, orang tua memohon agar anak kelak tumbuh menjadi pribadi yang sehat, hidup mulia, berbudi pekerti baik, serta mampu mengharumkan nama keluarga.
Karena itu, lagu ini bukan hanya berfungsi untuk menenangkan anak, tetapi juga menjadi cara orang tua menyampaikan doa dengan penuh kasih sayang.
Selain berisi doa, lirik Tak Lelo Ledung juga mengajarkan berbagai nilai kehidupan.
Di dalamnya terdapat harapan agar sang anak tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, menghormati orang tua, dan berguna bagi masyarakat maupun bangsa.
Menurut para pemerhati budaya Jawa, penyampaian nilai moral melalui tembang merupakan salah satu cara pendidikan karakter yang telah dilakukan masyarakat Jawa sejak dahulu.
Baca juga: Fakta Tentang Gending Kebo Giro, Gending Jawa yang Identik dengan Vibes Keraton Yogyakarta
Banyak orang, terutama generasi muda, mengaku merinding ketika mendengar Tak Lelo Ledung. Padahal, lagu ini sama sekali bukan lagu horor.
Ada beberapa alasan mengapa kesan tersebut muncul.
Pertama, lagu ini menggunakan tangga nada gamelan Jawa yang terdengar lembut dan mendayu.
Bagi orang yang belum terbiasa mendengarnya, nuansa tersebut sering diasosiasikan dengan suasana sunyi pada malam hari.
Kedua, banyak film horor Indonesia menggunakan tembang Jawa sebagai musik latar. Akibatnya, sebagian orang secara tidak sadar mengaitkan lagu-lagu tradisional Jawa dengan suasana mistis, meskipun makna aslinya sama sekali berbeda.
Selain itu, terdapat lirik yang menyebut sosok butho atau raksasa. Dalam konteks budaya Jawa, bagian tersebut bukan untuk menakut-nakuti secara harfiah, melainkan cara orang tua mengalihkan perhatian anak agar berhenti menangis dan segera tertidur.
Popularitas Tak Lelo Ledung kembali meningkat setelah dimasukkan dalam proyek musik Wonderland Indonesia karya Alffy Rev pada tahun 2021.
Dalam karya tersebut, tembang ini dibawakan oleh sinden Indah Rokhana dengan aransemen modern yang dipadukan bersama musik orkestra dan unsur budaya Nusantara.
Penampilan tersebut membuat banyak generasi muda kembali mengenal Tak Lelo Ledung sebagai salah satu warisan budaya Jawa yang kaya akan makna.
Pada salah satu bagian lirik terdapat kalimat yang menyebut slendang batik kawung.
Dalam filosofi Jawa, motif batik Kawung melambangkan kesucian hati, kebijaksanaan, pengendalian diri, dan harapan agar seseorang selalu membawa kebaikan bagi orang lain.
Karena itu, penyebutan batik Kawung dalam lagu ini bukan sekadar pelengkap lirik, tetapi juga menjadi simbol doa agar anak tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana dan berbudi luhur.
Meski telah berusia puluhan tahun, Tak Lelo Ledung masih sering dibawakan dalam berbagai pertunjukan budaya, termasuk konser Yogyakarta Royal Orchestra
Hal ini karena tembang tersebut tidak hanya memiliki melodi yang indah, tetapi juga mengandung nilai kasih sayang dan harapan orang tua kepada anak.
Nilai-nilai itulah yang membuat Tak Lelo Ledung terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tak lelo lelo lelo ledung
Mari kutimang-timang engkau anakku
Cup menenga aja pijer nangis
Cup cup, jangan menangis terus
Anakku sing ayu (bagus) rupane
Anakku yang cantik/ganteng
Yen nangis ndak ilang ayune (baguse)
Kalau menangis nanti hilang cantik/gantengnya
Tak gadang bisa urip mulyo
Kudoakan supaya engkau bisa hidup mulia
Dadiyo wanito (priyo) kang utomo
Jadilah orang yang utama (orang sukses)
Ngluhurke asmane wong tuwa
Meninggikan nama orang tua
Dadiyo pandekaring bangsa
Jadilan pendekar bangsa
Wis cup menenga anakku
Sudah, jangan menangis anakku
Kae mbulane ndadari
Lihat, bulannya bersinar terang
Kaya butho nggegilani
Seperti buta yang mengerikan
Lagi nggoleki cah nangis
Sedang mencari anak yang sedang menangis
Tak lelo lelo lelo ledung
Kutimang-timang anakku
Enggal menenga ya cah ay u (bagus)
lekaslah diam wahai anakku
Tak emban slendang batik kawung
Kupakai selendang batik kawung
Yen nangis mundak ibu bingung
Kalau menangis, ibu tambah bingung
(MG ABIL PRAMUDYA)