China Ungkap Skenario Hancurkan Kapal Induk AS dari Jarak 3.000 Km Pakai AI hingga Rudal Hipersonik
Ansari Hasyim July 29, 2026 06:23 PM

SERAMBINEWS.COM – Sejumlah ilmuwan militer China mengungkap skenario yang diklaim mampu melumpuhkan kelompok kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) dari jarak sekitar 1.865 mil atau hampir 3.000 kilometer.

Strategi tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Tactical Missile Technology dan dipimpin oleh Associate Professor Gao Tianyun dari National University of Defense Technology China. Isi penelitian itu pertama kali mendapat sorotan media South China Morning Post.

Dalam kajian tersebut, para peneliti memaparkan langkah demi langkah serangan jarak jauh yang mengombinasikan satelit, kecerdasan buatan (AI), rudal hipersonik, serta serangan terkoordinasi untuk menghadapi armada tempur AS, termasuk aset militer yang berada hingga kawasan Guam.

Penelitian itu membahas konsep Distributed Maritime Operations (DMO) yang diterapkan Departemen Pertahanan Amerika Serikat untuk menyebarkan kapal-kapal perang agar tidak menjadi sasaran mudah.

Baca juga: China Diduga Main Belakang Pasok 400 Rudal ke Iran Lewat Pakistan

Namun, menurut para peneliti China, strategi penyebaran tersebut masih dapat ditembus melalui serangan yang dirancang secara masif dan berlapis.

Dalam skenario yang dipaparkan, serangan awal dilakukan secara mendadak menggunakan kapal selam yang meluncurkan rudal anti-kapal hipersonik ke kapal perusak Aegis milik AS yang ditempatkan di garis depan.

Setelah itu, gelombang rudal dalam jumlah besar diluncurkan secara bersamaan untuk membanjiri sistem pertahanan Amerika.

Menurut penelitian tersebut, serangan semacam itu berpotensi menguras kapasitas radar, menghabiskan persediaan rudal pencegat, hingga mengganggu kemampuan sistem pertahanan dalam mengidentifikasi sasaran secara akurat.

Jika strategi itu berhasil, lapisan pertahanan berjenjang milik AS—mulai dari kapal perusak Aegis, sistem rudal pencegat, peperangan elektronik, umpan (decoy), hingga sistem senjata jarak dekat—diklaim bisa kewalahan menghadapi serangan.

Penelitian ini muncul di tengah meningkatnya persaingan militer antara Beijing dan Washington di kawasan Indo-Pasifik.

Belakangan, citra satelit juga menunjukkan China membangun replika kapal induk dan kapal perusak Amerika Serikat di kawasan Gurun Taklamakan sebagai target latihan rudal.

Replika yang dibuat menyerupai kapal perang AS tersebut diyakini digunakan untuk meningkatkan akurasi simulasi serangan terhadap armada Amerika apabila terjadi konflik di masa depan.

Sejumlah analis menilai persiapan itu berkaitan dengan kemungkinan konflik di sekitar Taiwan, yang hingga kini masih menjadi titik panas hubungan China dan Amerika Serikat.

Meski Washington belum secara resmi menyatakan akan mengerahkan kekuatan militer apabila Taiwan diserang, banyak pengamat meyakini AS berpeluang memberikan dukungan kepada pulau yang memiliki pemerintahan sendiri tersebut jika konflik benar-benar pecah.

Hingga saat ini, isi penelitian tersebut merupakan analisis dan simulasi akademik yang dipublikasikan oleh peneliti China. Belum ada bukti bahwa skenario tersebut telah diuji dalam operasi militer nyata maupun tanggapan resmi dari pemerintah atau militer Amerika Serikat terkait klaim tersebut.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.