Dinsos P3A Buleleng Dampingi Istri dan Anak Korban Pengeroyokan, Alami Trauma dan Gangguan Tidur
Facundo Chrysnha Pradipha July 28, 2026 03:20 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah tokoh nasional hingga influencer menyoroti kasus pengeroyokan maling ayam di Banjar Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali.

Bantuan uang tunai, sembako hingga pendidikan anak disalurkan para tokoh melalui perwakilan.

Tercatat ada bantuan dari Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin serta Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Pria berinisial KD tewas meninggalkan seorang istri serta tiga anak.

Dua anak perempuan KD masih sekolah yakni D yang duduk di bangku SMK serta K yang masih SD.

Keluarga KD tinggal di Desa Adat Sidetapa, Kabupaten Buleleng, Bali.

Sedangkan aksi pengeroyokan terjadi sekitar 38 kilometer dari rumah korban.

Baca juga: Momen Terakhir Terduga Pencuri Ayam di Bali Sebelum Tewas, Sempat Serahkan Uang Sekolah Anak

Buleleng merupakan kabupaten terluas di Bali yang membentang di sepanjang pesisir utara pulau.

Wilayah ini menawarkan sisi Bali yang lebih tenang dan kaya akan sejarah dibandingkan kawasan Bali Selatan.

Psikolog Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Buleleng, Tasya Yumika, mengaku masih memberi pendampingan psikologis untuk anggota keluarga yang ditinggalkan.

Pihaknya mendatangi rumah duka untuk memberikan penanganan awal.

Sesi pendampingan intensif yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut berfokus pada tiga anggota keluarga utama, yaitu istri korban serta dua anak korban yang masing-masing masih sekolah.

Intervensi yang dilakukan mengutamakan asesmen kondisi emosional serta pemberian rasa aman.

"Kami melakukan pendekatan konseling dan asesmen wawancara mendalam untuk ibunya."

"Sedangkan untuk anak-anak, kami memfokuskan upaya pada pemulihan rasa aman agar mereka merasa terlindungi di tengah situasi yang sangat sulit ini," ucapnya, dikutip dari YouTube TribunBali.com program Saksi Kata pada Senin (27/7/2026).

Baca juga: Komunikasi Terakhir Maling Ayam di Bali sebelum Ditemukan Tewas, Sempat Menghilang 3 Hari

Mengingat rentang usia anak-anak korban yang berbeda, tim psikolog menerapkan metode khusus yang disesuaikan dengan perkembangan psikologis masing-masing anak.

Untuk anak SMK, pendampingan dilakukan melalui wawancara psikologis berbasis konseling personal untuk membantu mengekspresikan emosi duka secara sehat.

Sedangkan usia anak SD dengan media gambar.

Metode ekspresi visual ini dipilih karena anak usia sekolah dasar umumnya kesulitan mengungkapkan rasa takut, marah, dan bingung melalui kata-kata.

Dari hasil asesmen awal, tim penanganan mendapati bahwa seluruh anggota keluarga menunjukkan gejala trauma psikis.

Gejala yang paling menonjol di antaranya adalah kecemasan tinggi serta gangguan tidur yang signifikan.

Anak-anak korban dilaporkan sering terbangun pada waktu subuh akibat memikirkan ingatan tentang almarhum ayahnya.

"Tim psikolog berfokus menciptakan rasa aman serta menjaga kondisi emosional anak agar siap kembali beraktivitas secara bertahap."

"Pendampingan tidak berhenti dalam satu kali sesi, melainkan akan terus berlanjut disesuaikan dengan perkembangan kondisi psikis dan lingkungan anak," pungkasnya.

(Tribunnews.com/Mohay)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.