Pernah bertanya-tanya kenapa jatah bagasi kabin tiap maskapai bisa berbeda? Ada yang memperbolehkan hingga 10 kg, sementara yang lain membatasi hanya 7 kg. Ternyata, perbedaan itu bukan tanpa alasan.
Salah satu masalah yang kerap terjadi adalah ruang penyimpanan di kabin sudah penuh meski penumpang datang lebih awal ke gerbang keberangkatan. Akibatnya, awak kabin harus menyusun ulang barang bawaan atau memindahkannya ke bagasi kargo. Proses ini tak jarang membuat jadwal keberangkatan molor.
Dikutip dari , Selasa (28/7/2026), seorang mantan pilot, yang kini menjadi peneliti keselamatan penerbangan, menilai aturan bagasi kabin yang lebih tegas memang dibutuhkan. Menurutnya, terlalu banyak barang bawaan di dalam kabin bukan hanya memperlambat proses naik pesawat, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko keselamatan.
Di Australia, Virgin Australia mulai memberlakukan aturan baru untuk penerbangan domestik sejak 2 Februari 2026. Penumpang kelas ekonomi hanya diperbolehkan membawa satu tas kabin berbobot maksimal 8 kilogram yang disimpan di kompartemen atas, ditambah satu barang pribadi berukuran kecil yang dapat diletakkan di bawah kursi.
Maskapai lain juga memiliki kebijakan berbeda. Air Canada, misalnya, telah lebih dulu membatasi penumpang dengan tiket tarif dasar hanya boleh membawa satu barang pribadi pada penerbangan di Amerika Utara dan Amerika Tengah.
Perbedaan aturan ini membuat banyak penumpang kebingungan. Padahal, penumpang bisa saja terbang menggunakan tipe pesawat yang sama seperti Boeing 737, tetapi mendapat jatah bagasi kabin berbeda tergantung maskapai dan jenis tiket.
Qantas mengizinkan bagasi kabin hingga 10 kilogram, sedangkan Jetstar membatasi total bagasi kabin maksimal 7 kilogram yang dapat dibagi ke dalam dua barang. Perbedaan tersebut berkaitan dengan batas maksimum berat saat pesawat lepas landas.
Total berat pesawat tidak hanya menghitung badan pesawat dan bahan bakar, tetapi juga awak kabin, penumpang, makanan, kargo, serta seluruh barang bawaan.
Bagasi yang masuk ke bagasi kargo akan ditimbang saat check-in. Sementara untuk bagasi kabin, maskapai umumnya menggunakan perhitungan rata-rata berat penumpang.
Pada pesawat kecil yang melayani daerah terpencil, penumpang dan barang bawaannya bahkan harus ditimbang langsung sebelum terbang.
Di Australia, standar berat penumpang untuk pesawat berkapasitas 150-299 kursi seperti Boeing 737, kini ditetapkan 81,8 kilogram untuk pria dewasa dan 66,7 kilogram untuk perempuan dewasa. Sementara itu, berat bagasi kabin diasumsikan 7 kilogram per penumpang.
Meski begitu, maskapai dapat mengajukan standar sendiri kepada regulator penerbangan sehingga aturan bagasi setiap maskapai bisa berbeda.
Selain alasan keselamatan, aturan bagasi juga berkaitan dengan bisnis maskapai. Seiring berkembangnya maskapai berbiaya rendah, biaya bagasi tambahan menjadi salah satu sumber pendapatan utama.
International Air Transport Association (IATA) memperkirakan pendapatan dari layanan tambahan, termasuk biaya bagasi, mencapai USD 144 miliar (Rp 2.604 triliun) pada 2026, bahkan melampaui nilai bisnis pengiriman kargo melalui jalur udara.





