SURYA.co.id, PALU — Tragedi pembunuhan satu keluarga di Kelurahan Duyu, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Minggu (26/7/2026) malam, menewaskan seorang ayah dan anak balitanya, sementara sang istri kritis. Kasus ini menggemparkan warga dan kini menjadi fokus penyelidikan aparat kepolisian yang masih memburu pelaku.
Peristiwa berdarah itu terjadi di rumah korban yang baru dua pekan ditempati dan juga digunakan sebagai tempat pengolahan ayam potong. Sekitar pukul 22.00 Wita, tetangga mendengar suara gaduh dari dalam rumah.
Dikutip dari laporan Tribun Palu, Bahtiar, tetangga korban, mengaku awalnya mengira suara tersebut berasal dari anak-anak yang sedang bermain. Namun, ia kemudian mendengar teriakan minta tolong. “Saya dengar ada yang berteriak, ‘tolong saya, jangan bunuh saya’,” ujarnya kepada Tribun Palu
Tak lama kemudian, ia mendengar tangisan seorang anak. Situasi semakin mencurigakan ketika terdengar suara benturan keras dari dalam rumah.
Bahtiar juga mendengar suara pria yang diduga pelaku berkata, “anak kecil menangis,” lalu suara lain berbisik, “kasi diam itu anak.”
Merasa ada yang tidak beres, Bahtiar berusaha membuka pintu rumah korban. Ia kembali mendengar suara perempuan yang diduga istri korban berteriak meminta pertolongan.
Ia segera kembali ke rumah untuk mengambil telepon seluler, menghubungi rekannya yang anggota kepolisian, memanggil Ketua RT, serta membawa martil untuk membongkar pintu.
Setelah Ketua RT dan beberapa warga tiba, mereka bersama-sama mendobrak pintu rumah. “Pas kami masuk, korban sudah bersimbah darah,” kata Bahtiar.
Korban pria, Jamil (30), ditemukan terlentang di dekat pintu masuk dengan luka tebas dan tusukan. Anak korban, Riski (2), ditemukan meninggal di atas tempat tidur. Sang istri, Nurhanisa (23), ditemukan masih hidup dengan luka di kaki dan punggung.
Bahtiar menduga anak korban tewas akibat dibekap. Ia juga mengungkapkan keluarga tersebut baru sekitar dua pekan tinggal di rumah itu.
Menurut informasi yang diterimanya, pelaku diduga memiliki hubungan pekerjaan dengan korban. Dugaan sementara, peristiwa ini dipicu persoalan dendam antarsesama pekerja.
Meski demikian, dugaan tersebut belum dapat dipastikan karena motif maupun hubungan antara korban dan pelaku masih menunggu hasil penyelidikan kepolisian.
Nurhanisa, satu-satunya korban selamat, kini menjalani perawatan intensif di RS Bhayangkara Palu. Kondisinya berangsur membaik dan ia mulai memberikan kesaksian.
Ia menceritakan detik-detik mencekam saat melihat pelaku berinisial AK masuk ke rumah dengan membawa dua bilah pisau jagal. “Saya berteriak menanyakan maksud kedatangannya, tapi dia justru menggertak agar saya diam,” ujarnya dikutip dari Tribun Palu
Nurhanisa berusaha melarikan diri, namun pelaku berhasil mengejarnya dan menusuk tubuhnya berulang kali. Meski bersimbah darah, ia tetap berusaha mencari telepon genggam untuk meminta pertolongan.
Dalam kondisi kritis, ia akhirnya berteriak hingga terdengar oleh tetangga. Warga yang panik mendobrak pintu dan mendapati Nurhanisa terkulai tak berdaya.
Kapolresta Palu Kombes Pol Hari Rosena melalui Kasat Reskrim AKP Ismailboby membenarkan kasus tersebut sebagai tindak pidana pembunuhan.
“Kami masih dalam pengejaran tersangka sehingga belum bisa memberikan keterangan lebih rinci. Mohon doa agar pelaku segera ditangkap,” katanya.
Polisi telah melakukan olah TKP, memeriksa saksi, dan mengamankan barang bukti berupa ayam, golok, serta tas berisi peralatan.
Hingga kini, identitas pelaku belum diumumkan secara resmi. Polisi mengimbau masyarakat tidak berspekulasi dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat.
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid kepada Tribun Palu menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. “Semoga almarhum Jamil dan ananda Riski mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, sementara Ibu Nurhanisa diberikan kekuatan dan kesembuhan,” ujarnya.
Ia menegaskan kasus ini merupakan tindak kejahatan yang sangat keji karena turut merenggut nyawa seorang anak berusia dua tahun.
Karena itu, ia meminta Polda Sulawesi Tengah dan Polresta Palu mengerahkan seluruh kemampuan untuk mengusut tuntas perkara tersebut. “Saya meminta aparat kepolisian bergerak cepat, mengusut tuntas kasus ini, dan segera menangkap pelakunya agar rasa keadilan bagi keluarga korban dapat ditegakkan,” tegasnya.
Anwar juga mengajak masyarakat yang mengetahui informasi terkait peristiwa tersebut untuk membantu proses penyelidikan dengan melaporkannya kepada pihak kepolisian.
Menurutnya, dukungan masyarakat sangat dibutuhkan agar pelaku segera ditemukan dan tidak menimbulkan keresahan di tengah warga.
“Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah akan terus mendukung langkah aparat penegak hukum dalam mengungkap kasus ini hingga tuntas. Semoga pelaku segera ditangkap, keluarga korban memperoleh keadilan, dan kejadian serupa tidak pernah terulang kembali,” katanya.
Hingga saat ini, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku dan motif di balik pembunuhan yang menggemparkan warga Kelurahan Duyu tersebut.