Tribunlampung.co.id, Palu - Satu-satunya korban selamat dari tragedi pembunuhan berdarah di Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, perlahan menceritakan detik-detik horor yang dialaminya.
Baca juga: Jerit Pilu Seorang Ibu Minta Tolong Sebelum Suami dan Balitanya Ditemukan Tewas
Dengan tangan yang masih bergetar dan luka-luka bekas jahitan di tubuhnya, Nurhanisa memecah keheningan. Setelah melewati masa kritis dan menjalani perawatan intensif di RS Bhayangkara Palu, kondisi fisik Nurhanisa kini berangsur membaik.
Namun, duka tak peri Peri harus ia tanggung sewaktu ingatan tentang malam mencekam itu kembali membayang.
Dikutip dari TribunPalu.com, malam yang semula tenang mendadak berubah menjadi mimpi buruk saat Nurhanisa terbangun untuk buang air kecil, di kediamannya di Jalan PDAM, Kelurahan Duyu, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Minggu (26/7/2026) malam.
Melangkah keluar dari kamar mandi, pandangannya menangkap gerakan mencurigakan di area tempat penggilingan ayam.
Di balik remang kegelapan, berdiri sosok pria berinisial AK yang tak asing baginya. Namun malam itu, pemandangan mencekam tersaji, AK memegang dua bilah pisau jagal berukuran besar di kedua tangannya.
Kaget dan syok melihat senjata tajam mematikan tersebut, Nurhanisa berteriak menanyakan maksud kedatangan pelaku.
Bukannya menjawab, AK justru membalas dengan gertakan dingin yang memerintahkannya untuk diam.
Dipacu rasa panik yang membakar dada, Nurhanisa berbalik arah dan berlari sekuat tenaga menuju kamar untuk berlindung.
Nahas, langkah pelaku jauh lebih cepat. AK menerobos masuk, mencengkeram tangan Nurhanisa, lalu tanpa belas kasihan menghujamkan pisau ke tubuhnya.
Meski tubuhnya bersimbah darah dan digerogoti rasa sakit luar biasa, naluri ibu dan istri untuk bertahan hidup tak padam.
Begitu pelaku menjauh usai melancarkan aksinya, Nurhanisa mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk merayap di lantai, berusaha mencari ponsel demi menghubungi keluarga.
Ponsel tak kunjung ditemukan, sementara tubuhnya kian terkulai lemas tak sanggup berdiri.
Dalam kondisi kritis, ia mengumpulkan seluruh napasnya yang tersisa untuk berteriak memecah malam.
Rintihan pilunya terdengar oleh tetangga di sebelah rumah. Saat tetangga bertanya dari luar, Nurhanisa membalas dengan jeritan yang memilukan, memohon pertolongan, karena tubuhnya telah ditusuk dan tak sanggup lagi bergerak.
Warga yang panik bergerak cepat mendobrak gembok pintu rumah. Mereka mendapati Nurhanisa terkulai tak berdaya sebelum akhirnya melarikannya ke rumah sakit demi menyelamatkan nyawanya.
Secara medis, tindakan cepat tim dokter berhasil menyelamatkan nyawa Nurhanisa dari ancaman pendarahan fatal.
Namun, kenyataan pahit menunggunya saat ia terbangun di ruang perawatan.
Nurhanisa harus menerima kenyataan memilukan bahwa sang suami, Jamil, beserta buah hati mereka yang baru berusia dua tahun, tewas mengenaskan di lokasi kejadian akibat aksi keji pelaku.
Kini, kesaksian emosional dari Nurhanisa menjadi petunjuk terang bagi Satreskrim Polresta Palu untuk mengejar AK yang tengah berstatus buron, demi memberikan keadilan utuh bagi keluarga yang telah terpecah belah tersebut.