TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai belum mengguncang fondasi perekonomian nasional. Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Borneo Tarakan (UBT), Dr Margiyono, menilai kondisi ekonomi Indonesia masih berada dalam situasi yang stabil karena selama ini kebijakan moneter Bank Indonesia dijalankan secara hati-hati dan konsisten menjaga stabilitas.
Menurut Margiyono, salah satu indikator yang menunjukkan kondisi ekonomi masih terjaga adalah tingkat inflasi yang hingga kini masih berada dalam kisaran ideal berdasarkan teori ekonomi.
"Inflasi kita memang naik sedikit, tetapi sebenarnya masih berada di bawah target. Berdasarkan teori ekonomi, inflasi yang paling toleran itu berada pada kisaran 2 sampai 4 persen per tahun," ujarnya kepada TribunKaltara.com.
Ia menjelaskan, inflasi pada kisaran tersebut justru memberikan stimulus positif terhadap aktivitas ekonomi. Kenaikan harga yang masih terkendali akan mendorong pelaku usaha meningkatkan produksi karena prospek keuntungan yang lebih baik.
Baca juga: Mundurnya Perry Warjiyo Dinilai Buat Pasar Terkejut, Akademisi UBT: Ada Dinamika Fiskal dan Moneter
Menurutnya, peningkatan produksi tidak hanya berdampak pada sektor industri, tetapi juga mendorong petani, pelaku perdagangan, hingga sektor usaha lainnya untuk memperluas aktivitas ekonomi. Kondisi tersebut kemudian akan diikuti meningkatnya kebutuhan bahan baku, bahan penolong, serta penyerapan tenaga kerja.
Karena itu, Margiyono menilai harapan terhadap peningkatan kesempatan kerja masih tetap terbuka dan stabilitas ekonomi nasional secara umum masih dapat dipertahankan.
"Ekonomi kita masih stabil, harapan kita tentang bagaimana penyerapan tenaga kerja masih tetap ada," katanya.
Selain menyoroti kondisi ekonomi, Margiyono juga menilai pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia tidak perlu disikapi secara berlebihan. Menurutnya, deputi gubernur senior yang kini menjalankan roda organisasi memiliki pengalaman yang cukup sehingga tetap memberikan harapan terhadap keberlanjutan kebijakan moneter.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pelaku pasar dalam beberapa waktu ke depan masih akan terus mencermati setiap perkembangan yang terjadi di Bank Indonesia.
Hal paling penting yang menurutnya harus dijaga adalah independensi bank sentral.
"Hal yang paling tabu di dalam Bank Sentral itu adalah intervensi," tegasnya.
Margiyono berharap pemerintah tidak melakukan langkah-langkah yang dapat dipersepsikan pasar sebagai bentuk intervensi terhadap Bank Indonesia. Sebab, yang menjadi penilaian utama bukan semata tindakan pemerintah, melainkan bagaimana pasar memandang tindakan tersebut.
Ia menjelaskan, apabila pasar menilai terdapat campur tangan dari luar terhadap Bank Indonesia, maka sentimen negatif berpotensi muncul dan memengaruhi berbagai indikator ekonomi.
Baca juga: Bank Indonesia Edukasi Wartawan Kaltara soal Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah
Dampaknya dapat dirasakan pada indeks harga saham, nilai tukar rupiah, hingga stabilitas arus modal. Kondisi tersebut pada akhirnya akan bermuara pada terganggunya stabilitas ekonomi nasional.
"Mudah-mudahan tidak ada hal-hal yang dilakukan di luar sistem Bank Indonesia yang dinilai negatif oleh pasar," ujarnya.
Sebagai akademisi ekonomi, Margiyono menegaskan Bank Indonesia harus tetap menjadi lembaga yang independen sebagaimana konsep awal pembentukannya. Menurutnya, independensi bank sentral merupakan syarat penting agar setiap kebijakan moneter dapat diambil berdasarkan mekanisme pasar dan pertimbangan ekonomi yang rasional.
Ia mengatakan mekanisme pasar bekerja berdasarkan sentimen permintaan dan penawaran yang terbentuk secara alami. Oleh karena itu, segala bentuk intrik maupun pendekatan yang berpotensi mengurangi independensi Bank Indonesia harus dihindari.
Menurut Margiyono, pasar akan menganggap intervensi terhadap bank sentral sebagai tindakan yang tidak efisien. Penilaian tersebut kemudian akan memunculkan sentimen negatif yang berdampak terhadap pasar modal, nilai tukar rupiah, hingga pergerakan modal.
Karena itu, penyelesaian persoalan ekonomi sebaiknya tetap dilakukan melalui pendekatan ekonomi, tanpa membawa kepentingan politik maupun kepentingan lain yang dapat memengaruhi independensi Bank Indonesia.
"Jadi kita serahkan kepada mekanisme yang dimiliki oleh Bank Indonesia agar bisa mengambil keputusan yang paling efisien sesuai pertimbangan pasar," katanya.
Margiyono juga menilai selama memimpin Bank Indonesia, Perry Warjiyo telah berhasil menjaga stabilitas ekonomi melalui sinergi yang baik dengan pemerintah, khususnya dalam koordinasi kebijakan fiskal dan moneter.
Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan ekonomi saat ini lebih banyak berasal dari faktor eksternal. Konflik Rusia-Ukraina maupun ketegangan di Selat Hormuz masih memberikan tekanan terhadap keseimbangan pasokan energi dunia, harga minyak global, hingga kemampuan fiskal banyak negara dalam memberikan subsidi.
Menurutnya, situasi tersebut membuat seluruh negara, termasuk Indonesia, harus semakin berhati-hati dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Di tengah ketidakpastian global tersebut, Margiyono mengajak pemerintah dan Bank Indonesia terus memperkuat sinergi tanpa mengurangi independensi masing-masing.
Ia menilai soliditas pemerintah dari sisi fiskal dan Bank Indonesia dari sisi moneter menjadi modal penting agar perekonomian nasional tetap mampu menghadapi tekanan global.
"Kedua-duanya sebaiknya melakukan kolaborasi dan sinergi dengan tidak melakukan intervensi. Karena kalau intervensi ditangkap negatif oleh pasar, maka responsnya juga akan negatif," jelasnya.
Di akhir keterangannya, Margiyono mengajak seluruh pihak tetap optimistis menghadapi dinamika ekonomi yang terjadi. Menurutnya, stabilitas ekonomi juga dipengaruhi oleh kepercayaan masyarakat dan pelaku usaha terhadap kondisi yang ada.
"Kita harus menjaga optimisme, menjaga positive thinking dan menjaga soliditas di tengah konflik global yang belum usai," tutupnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah