LGBT Bisa Kembali Normal, Kisah Dokter Taufik Menangani LGBT di Banyumas
rival al manaf July 28, 2026 10:11 PM

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Penyimpangan seksual Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) dapat kembali normal menjadi heteroseksual dengan rehabilitasi medis.

Hal itu diungkapkan oleh dr Taufik Hidayanto Sp KJ, yang merupakan dokter spesialis kesehatan jiwa RSUD Banyumas. 

Taufik menjelaskan, orang yang memiliki orientasi seksual LGBT sangat bisa sembuh dengan proses rehabilitasi medis.

Rehabilitasi yang dilakukan dengan pendekatan psikodinamik dan psikoanalitik.

Baca juga: Ruang Kelas SDN Sendangmulyo 03 Roboh Tertimpa Pohon, Kepala Disdik Semarang Janji Perbaikan Cepat

Baca juga: Mahasiswa KKN UIN Walisongo Latih Pembuatan Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah

Dalam proses ini, psikiater, psikolog atau dokter kesehatan jiwa akan menggali kehidupan pasien dari kecil sampai mengalami kondisi tersebut. 

"Istilah singkatnya, kondisi psikologis seseorang saat ini merupakan akibat proses-proses yang dialami di masa lalu.

Dari situ, kita akan tahu secara struktur konstitusi kepribadiannya. Kita maping kepribadiannya, kelemahannya dan kekuatannya," katanya kepada tribunbanyumas.com, Selasa (28/7/2026).

Taufik mengatakan, penyimpangan LGBT terjadi karena proses bertahap dengan waktu yang tidak singkat.

Mereka yang terjerumus maka penyimpangannya sudah terbentuk pola dalam otak dan kepribadian.

Mereka menikmati dan memiliki dorongan insting seksual yang menyimpang. 

Sehingga proses mengembalikan menjadi normal atau heteroseksual membutuhkan waktu dan keseriusan. 

"Tapi bukan berarti gak mungkin. Sangat mungkin. Butuh pendampingan, konseling, dan support," ungkapnya. 

Tangani Pasien LGBT 

Taufik mengungkapkan, dia pernah menangani rehabilitasi sejumlah pasien dengan penyimpangan orientasi seksual LGBT.

Hasilnya membaik dan sembuh meskipun membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Tetapi mereka yang rehabilitasi juga harus kontinyu karena kondisinya bisa naik turun.

"Saya pernah menangani pasien sembuh. Tapi dia menang konseling terus. Sekarang kondisinya lebih baik, karena ingin normal, survive dan ingin hidup," ujarnya. 

Hal yang lebih penting, menurut Taufik, harus ada kemauan dari orang tersebut untuk berobat. 

Dia menilai, orang dengan LGBT ini ada dua jenis, yaitu egosintonik dan egodistonik.

Egosintonik adalah mereka yang memang menikmati dan tidak mau berubah, sedangkan egodistonik adalah mereka yang menikmati tapi ingin normal dan mau berubah.

"Artinya jika dia egosintonik, dia harus berubah dulu jadi egodistonik. Bisa disadarkan atau dia sendiri yang berinisiatif," jelasnya. 

Tanggapi Raperda 

Taufik sempat diundang dalam Public Hearing bersama Pansus 7 DPRD Kabupaten Banyumas membahas Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Penanggulangan Penyakit Sosial Masyarakat. 

Dalam pembahasan asusila, LGBT masuk dalam draf Raperda. 

Taufik menilai, Raperda tersebut harus lebih fokus terhadap pencegahan penyebaran LGBT.

Dia mencontohkan seperti menggencarkan kampanye pencegahan jangan sampai ada orang dengan LGBT mencari mengajak orang normal atau lugu.

"Jadi harus ada upaya-upaya pencegahan dan ketegasan. Jangan sampai LGBT berani terang-terangan mengajak seseorang untuk memenuhi hasrat seksualnya baik secara langsung maupun sosial media," katanya. 

Taufik menilai, upaya rehabilitasi LGBG juga perlu dimasukan dalam Raperda tentang Penanggulangan Penyakit Sosial Masyarakat. 

"Jadi rehabilitasi perlu dimasukan. Jadi kita memfasilitasi mereka agar kembali kepada orientasi seksual yang normal atau heteroseksual," ungkapnya. (fba)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.