Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan dokter SZM, yang tengah menjalani program internship memiliki riwayat gangguan kesehatan jiwa dan menjalani terapi obat secara rutin. Kemenkes juga tidak menemukan adanya pelanggaran dalam tata pelaksanaan program internship yang dijalani dokter SZM.
"Kami mendapatkan informasi dari hasil kegiatan investigasi kami bahwa saudara SZM ini memiliki permasalahan kesehatan jiwa dan diberikan terapi obat secara teratur," kata Inspektur Investigasi Kemenkes, Hendra Teja, Rabu (29/7/2026).
Menurut Hendra, kondisi kesehatan menjadi perhatian utama dari Kemenkes. Sebab, dari aspek lain pelaksanaan program internship, tidak menunjukkan adanya penyimpangan. Proses investigasi dilakukan dengan meminta keterangan berbagai pihak terkait, seperti pihak rumah sakit, teman, keluarga, dan pendamping.
Selain itu, Kemenkes juga tidak menemukan adanya kelebihan jam kerja atau overtime maupun beban kerja yang berlebihan. Sebaliknya, lingkungan kerja di Rumah Sakit Sentra Medika Depok, tempat dokter SZM menjalani internship, dinilai sangat supportif dan saling mendukung.
Menurutnya, ketika dokter SZM mengalami sakit, izin untuk tidak bekerja dapat diberikan dengan mudah tanpa perlu kewajiban untuk mengganti jadwal tersebut.
"Kita melihat lingkungan kerja beliau itu suportif ketika beliau misalnya sakit, kemudian merasa tidak bisa masuk, kemudian berkomunikasi kepada teman-temannya dan juga pada dokter pendampingnya, itu kita melihat teman-temannya dan dokter pendampingnya itu mendukung," ucap Hendra.
Sebelumnya, seorang dokter internship, dr. SZM ditemukan meninggal dunia setelah diduga melompat dari lantai 18 Apartemen Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan pada Minggu, 26 Juli 2026. Polisi turun tangan melakukan penyelidikan untuk mengetahui motif di balik aksi nekat korban.
Kapolsek Pancoran, Kompol Mansur, mengatakan berdasarkan penyelidikan sementara, korban tinggal berdua bersama ibunya di unit apartemen tersebut.
Sebelum kejadian, sang ibu mengajak korban pergi ke mal. Namun ajakan itu ditolak. Korban memilih tetap berada di apartemen.
"Korban tinggal berdua sama ibunya. Saat itu ibunya mengajak pergi ke mal, tetapi korban tidak mau dan tetap di unit," kata Mansur saat dihubungi, Senin (27/7/2026).
Setelah ibunya pergi, korban mengunci pintu apartemen dari dalam. Tak lama kemudian, korban diduga melompat dari jendela apartemen yang berada di lantai 18.
"Setelah ibunya pergi, pintu dikunci dari dalam oleh korban. Di situlah korban diduga melompat dari jendela untuk mengakhiri hidupnya," ujarnya.Mansur mengatakan, korban sempat tersangkut di balkon sebelum akhirnya jatuh. Polisi yamg menerima laporan langsung melakukan olah tempat kejadian perkara.
Jenazah korban kemudian dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati untuk keperluan pemeriksaan lebih lanjut.