SURYA.co.id – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menunjukkan tanda-tanda mereda setelah Presiden AS Donald Trump memutuskan menghentikan sementara serangan udara terhadap Teheran.
Sepanjang Minggu (26/7/2026), Iran kembali melewati malam tanpa laporan pemboman dari militer AS.
Pada saat yang sama, tidak ada laporan mengenai serangan balasan Iran terhadap negara-negara di kawasan Timur Tengah yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.
Jeda ini memunculkan optimisme bahwa eskalasi perang yang sempat mengkhawatirkan dunia internasional mulai memasuki fase yang lebih terkendali.
Meski demikian, situasi di kawasan masih dinilai rapuh karena kedua pihak belum benar-benar mencapai kesepakatan damai.
Menurut laporan France24, keputusan tersebut diambil ketika Washington menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari menipisnya stok amunisi pertahanan hingga meningkatnya kekhawatiran bahwa konflik dapat berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.
Langkah Trump juga muncul di tengah berbagai tekanan politik dan militer yang terus meningkat.
Sejumlah pejabat tinggi AS disebut mengingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut dapat membawa konsekuensi besar, baik bagi keamanan kawasan maupun kepentingan Amerika Serikat sendiri.
Laporan The New York Times menyebutkan bahwa rencana memperluas kampanye militer terhadap Iran ditunda karena berkurangnya persediaan senjata penting, termasuk rudal pencegat Patriot.
Selain persoalan logistik, pemerintahan Trump juga mempertimbangkan berbagai risiko lain, seperti:
Dalam pertemuan di Gedung Putih pada Jumat (24/7/2026), Wakil Presiden JD Vance bersama Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine dilaporkan menyampaikan kekhawatiran mengenai kemungkinan konflik berkembang di luar kendali.
Menurut CNN, Dan Caine menjelaskan bahwa militer AS memiliki kemampuan menjalankan opsi serangan yang tersedia.
Baca juga: Kondisi Miris Amerika Kena Serangan Balasan Iran, Hampir Ratusan Tentara AS Terluka
Namun, ia juga memberikan peringatan mengenai konsekuensi strategis yang dapat muncul apabila operasi diperluas.
Sementara itu, Axios melaporkan Pentagon sempat mengajukan rencana serangan lanjutan kepada Trump. Namun, presiden memilih tidak memberikan persetujuan dan lebih mengutamakan peluang perundingan.
Walaupun menghentikan sementara operasi militer, Trump menegaskan bahwa keputusan tersebut belum bersifat permanen.
"Kami sedang berbicara dengan mereka sekarang. Saya pikir mereka semakin serius," kata Trump kepada wartawan pada Jumat.
Namun, Trump tetap mengirimkan pesan keras kepada Teheran.
"Iran menghadapi pilihan antara kesepakatan dan serangan pada tingkat yang jauh lebih tinggi," ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Washington masih mempertahankan strategi tekanan maksimal sambil membuka ruang negosiasi apabila Iran bersedia mencapai kesepakatan.
Di sisi politik domestik, konflik yang sebelumnya diperkirakan Trump hanya berlangsung sekitar empat hingga lima pekan kini disebut mulai membebani tingkat persetujuan Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections) Amerika Serikat pada November 2026.
Di tengah jeda operasi militer AS, Iran justru mengeluarkan peringatan bahwa perang dapat meluas apabila Washington kembali melancarkan serangan udara.
Peringatan itu disampaikan menjelang kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Washington.
Juru Bicara Militer Iran Mohammad Akraminia mengatakan Teheran akan memperluas cakupan konflik apabila Amerika Serikat kembali bergabung dalam operasi militer.
"Saya percaya bahwa jika Amerika sekali lagi tertipu oleh tipu daya Zionis, atau bergerak sejalan dengan mereka, dan bersikeras untuk melanjutkan perang, khususnya melalui serangan udara, secara geografis ini akan meluas lebih jauh," tegas Akraminia kepada televisi pemerintah Iran pada Minggu.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa meskipun intensitas konflik menurun untuk sementara, ancaman eskalasi masih belum benar-benar hilang.
Sebelum jeda serangan diberlakukan, bentrokan antara kedua pihak sempat meluas hingga kawasan Selat Hormuz yang merupakan jalur pelayaran dan distribusi energi paling strategis di dunia.
Konflik kemudian berkembang menjadi serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat, jalur pelayaran regional, serta berbagai sekutu AS di kawasan Teluk.
Perkembangan tersebut membuat berbagai upaya diplomasi antara Washington dan Teheran mengalami kebuntuan sebelum akhirnya muncul keputusan penghentian sementara operasi militer.
Jeda serangan selama akhir pekan menjadi sinyal positif bahwa kedua pihak untuk sementara menahan eskalasi konflik.
Tidak adanya pemboman dari Amerika Serikat maupun serangan balasan dari Iran dapat mengurangi risiko pecahnya perang regional dalam waktu dekat.
Namun, situasi belum dapat disebut sebagai akhir konflik. Trump masih membuka kemungkinan operasi militer dilanjutkan apabila proses negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan.
Di sisi lain, Iran juga tetap mengancam akan memperluas perang jika kembali menjadi sasaran serangan udara.
Dengan demikian, kondisi saat ini lebih tepat dipandang sebagai fase jeda strategis dibandingkan perdamaian permanen.
Arah konflik selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan jalur diplomasi dalam beberapa hari atau pekan mendatang.