Soroti Satpam Tewas, Dedi Mulyadi Sesalkan Waduk Jatiluhur Minim CCTV
Laksmi Anindita July 28, 2026 10:44 PM

TRIBUNWOW.COM - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti sistem keamanan di kawasan Waduk Jatiluhur, Purwakarta, menyusul kasus tewasnya petugas keamanan Sumarna yang ditemukan dalam kondisi kedua tangan terborgol.

Sorotan itu disampaikan Dedi saat berdialog dengan kepala desa setempat mengenai fasilitas pengamanan di area waduk.

Dalam percakapan tersebut, kepala desa mengungkapkan bahwa di sekitar lokasi kejadian tidak terdapat kamera pengawas (CCTV) dan penerangan dinilai masih minim.

"CCTV enggak ada di sekitar lokasi. Makanya saya juga berharap dibantu gubernur CCTV diadain. Penerangan kurang," ujar kepala desa, dikutip dari kanal YouTube Dedi Mulyadi, Senin (27/7/2026).

Mendengar penjelasan tersebut, Dedi mempertanyakan sistem keamanan di kawasan yang merupakan objek vital nasional.

"Ya itu kan Jatiluhur, Pak. Artinya kan itu keamanan Jatiluhur, itu kan daerah vital. PJT (Perum Jasa Tirta II) daerah vital, bendungan, tanggul. Di tanggulnya enggak dipasang CCTV? Ya Allah Ya Rabbi," kata Dedi.

Menurutnya, penyediaan CCTV seharusnya menjadi tanggung jawab pengelola kawasan, bukan pemerintah provinsi.

"Bukan tolong dibantu gubernur, tapi PJT. Institusi yang menghasilkan listrik, menghasilkan pendapatan," ujarnya.

Kepala desa juga menyampaikan bahwa penerangan di sekitar lokasi kejadian masih kurang memadai.

"Penerangan juga saya rasa kurang. Kalau lihat dari atas ke tempat kejadian itu, kemarin saya sekitar jam 4 subuh ke sana gelap," katanya.

Dedi kembali mempertanyakan minimnya fasilitas pengamanan di kawasan strategis tersebut.

Baca juga: Viral Video Asusila Tampil di Videotron Pemkab Melawi, Diskominfo Usut Insiden

"PJT masa tidak punya seluruh ini daerah strategic, daerah vital yang menyangkut keamanan Indonesia. Produksi listrik masa enggak bisa menerangi tempat dia," ucapnya.

Ia menilai keberadaan petugas keamanan harus didukung dengan sarana yang memadai.

"Kan tujuan ada sekuriti di situ kan menjaga keamanan tanggul agar tidak ada orang yang melakukan tindakan kejahatan terhadap tanggul. Tapi di tanggulnya tidak dipasang CCTV dan penerangan. Ya Allah ya Rabbi," katanya.

Dedi kemudian menanyakan jumlah petugas yang berjaga pada malam hari.

"Hanya dijaga oleh berapa satpam?" tanya Dedi.

"Satu orang ini, yang almarhum," jawab kepala desa.

Jawaban tersebut membuat Dedi kembali menyampaikan keprihatinannya.

"Jadi kalau malam-malam disergap, kemudian diletakkan bom selesai tuh. Kalau ada orang jahat, disergap, diletakkan bom, ditinggalin, meledak. Jangankan mengamankan, yang jaga aja belum aman," ujarnya.

Sebelumnya, Sumarna ditemukan meninggal dunia mengambang di Waduk Jatiluhur pada Jumat (24/7/2026) sekitar pukul 11.00 WIB.

Saat ditemukan, korban masih mengenakan seragam dinas satpam dengan kedua tangan terborgol ke belakang.

Hingga kini, Polres Purwakarta masih menyelidiki penyebab pasti kematian korban.

Penyidik telah memeriksa sedikitnya 15 saksi yang terdiri atas keluarga, rekan kerja, warga sekitar, serta pihak-pihak yang diduga mengetahui peristiwa tersebut.

Kasat Reskrim Polres Purwakarta AKP I Made Purwantara menegaskan informasi yang beredar di media sosial mengenai adanya pelaku yang telah ditangkap tidak benar.

"Belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka. Informasi yang beredar di media sosial itu tidak benar, belum ada yang kami amankan," ujarnya.

Selain memeriksa saksi, polisi juga mendalami rekaman CCTV di kawasan operasional Perum Jasa Tirta II, telepon genggam korban, sepeda motor, pakaian, sepatu, serta alat komunikasi milik Sumarna.

Penyelidikan masih terus dilakukan untuk mengungkap penyebab kematian korban serta memastikan pihak yang bertanggung jawab sesuai proses hukum yang berlaku.

Baca juga: Aksi Pembobolan ATM Bondowoso Gagal Total, Pelaku Kabur Usai Duel dengan Petugas Keamanan

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.