BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA- Kematian lebih dari 5.000 ekor ayam pedaging di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) akibat dugaan gangguan pasokan listrik menjadi perhatian Dinas Pertanian Kabupaten Banjar.
Kondisi tersebut dinilai perlu diwaspadai lantaran cukup banyak peternak ayam di Kabupaten Banjar yang menerapkan sistem kandang tertutup atau close house.
Sistem ini dinilai memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasokan listrik untuk menjaga sirkulasi udara di dalam kandang.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, drh. Lulu Vilavardi, Selasa (28/7/2026) mengatakan sejauh ini belum ada laporan ayam mati akibat pemadaman listrik di wilayah Kabupaten Banjar.
Baca juga: Warga Laporkan Kerusakan Elektronik Imbas Listrik Padam, Pemko Banjarmasin Sebut akan Ada Kompensasi
Meski demikian, pihaknya akan menelusuri kondisi peternakan setelah munculnya kasus kematian ribuan ayam di HST yang ramai diperbincangkan di media sosial.
"Kalau melihat video yang beredar, kejadiannya di kandang terturip atau close house. Di Kabupaten Banjar juga banyak peternak yang menggunakan sistem ini. Kemungkinannya bisa saja terjadi, tapi kita harus menemukan fakta di lapangan dulu," ujarnya.
Lulu menjelaskan, kandang close house mengandalkan kipas ventilasi untuk mengatur pergerakan dan sirkulasi udara. Ketika listrik padam, kipas akan berhenti beroperasi sehingga suhu di dalam kandang dapat meningkat dengan cepat.
Jika kondisi tersebut tidak segera diantisipasi, ayam bisa mengalami stres akibat panas.
Dalam kondisi tertentu, kurangnya sirkulasi udara juga dapat menyebabkan kadar oksigen di dalam kandang menurun dan berisiko memicu kematian ternak.
Menurut Lulu, peternak perlu melakukan tindakan manual ketika terjadi pemadaman listrik. Salah satunya dengan segera membuka tirai atau layar di bagian sisi kandang agar udara dari luar dapat masuk.
"Kalau mati lampu, kipasnya ikut mati. Seharusnya layar kanan-kiri dibuka supaya angin tetap masuk. Kalau terlambat dibuka, apalagi padamnya malam hari, ayam bisa kekurangan oksigen," jelasnya.
Dia mengibaratkan kondisi tersebut seperti ruangan berpendingin udara yang kehilangan aliran listrik.
Ketika AC berhenti bekerja, ruangan akan terasa semakin pengap sehingga pintu atau jendela perlu dibuka untuk membantu sirkulasi udara.
Meski memiliki risiko saat pasokan listrik terganggu, sistem tersebut tetap banyak dipilih peternak karena mampu menjaga kondisi suhu kandang lebih stabil dan mendukung produktivitas ayam.
Namun, menurut Lulu, penggunaan teknologi tersebut juga harus diimbangi dengan kesiapan menghadapi kondisi darurat, termasuk ketika terjadi pemadaman listrik dalam waktu lama.
Peternak diminta tidak hanya bergantung pada sistem otomatis. Saat listrik padam, langkah manual perlu segera dilakukan untuk menjaga sirkulasi udara sampai pasokan listrik kembali normal.
Dinas Pertanian Kabupaten Banjar juga akan memantau kondisi peternakan ayam di wilayahnya, terutama di tengah pemadaman listrik bergilir yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Sebelumnya, lebih dari 5.000 ekor ayam pedaging dilaporkan mati di sebuah kandang di Desa Aluan Sumur, Kecamatan Batu Benawa, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Jumat (24/7/2026).
Baca juga: Pelayanan di Kecamatan Banjarmasin Utara Terganggu Imbas Listrik Padam, Petugas Layani Berkas Manual
Kejadian tersebut viral di media sosial dan diduga terjadi setelah listrik padam selama lebih dari lima jam. Generator cadangan disebut mengalami kerusakan sehingga kipas blower tidak dapat beroperasi.
Akibatnya, suhu di dalam kandang meningkat drastis dan ribuan ayam dilaporkan mati. Kerugian pemilik peternakan akibat kejadian tersebut ditaksir mencapai sekitar Rp250 juta. (Banjarmasinpost.co.id/Nurholis Huda)