Bukan Cuma Timah, Babel Ternyata Simpan Harta Karun Strategis yang Diburu Dunia, Malaysia Menyalip
M Zulkodri July 29, 2026 12:03 AM

 

BANGKAPOS.COM--Indonesia menyimpan potensi besar logam tanah jarang (LTJ) atau Rare Earth Elements (REE), komoditas strategis yang menjadi bahan baku berbagai teknologi masa depan.

Namun, kekayaan sumber daya tersebut belum sepenuhnya mampu mengantarkan Indonesia menjadi pemain utama dalam industri LTJ dunia.

Ironisnya, di kawasan Asia Tenggara, Indonesia justru masih tertinggal dari Malaysia yang telah lebih dahulu membangun industri pengolahan logam tanah jarang.

Padahal, Indonesia memiliki sumber daya LTJ yang cukup besar, terutama yang berasal dari monasit sebagai mineral ikutan dalam aktivitas penambangan timah di Bangka Belitung.

Mantan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ridwan Djamaluddin, menilai keterlambatan Indonesia dalam mengembangkan industri LTJ terjadi karena komoditas tersebut belum menjadi prioritas nasional selama bertahun-tahun.

"Indonesia memiliki potensi sumber daya yang besar, termasuk dari monasit sebagai mineral ikutan penambangan timah di Bangka Belitung. Tetapi selama ini perhatian terhadap LTJ belum cukup sehingga kita tertinggal dari negara lain," kata Ridwan kepada Bangkapos.com, Minggu (26/7/2026).

Putra daerah Mentok, Bangka Barat, yang juga pernah menjabat sebagai Penjabat Gubernur Kepulauan Bangka Belitung itu mengatakan, pengembangan industri LTJ Indonesia saat ini masih berada pada tahap persiapan.

Menurutnya, Indonesia belum benar-benar memasuki fase industrialisasi LTJ secara menyeluruh.

Salah satu pekerjaan rumah terbesar yang harus segera diselesaikan adalah menyusun peta jalan atau roadmap nasional yang mengintegrasikan pengembangan industri dari sektor hulu hingga hilir.

"Saya belum melihat roadmap Logam Tanah Jarang dalam bentuk dokumen yang matang. Universitas Bangka Belitung bisa menginisiasi penyusunannya agar menjadi panduan bersama," ujarnya.

Babel Dinilai Bisa Jadi Pusat Industri LTJ Nasional

Baca juga: Kepuasan Publik Anjlok, Pengamat Dorong Prabowo Evaluasi Menteri Bidang Ekonomi, Politik dan Hukum

Ridwan menilai Bangka Belitung memiliki posisi strategis dalam pengembangan industri LTJ nasional.

Daerah ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu sentra utama produksi timah nasional.

Namun, di balik aktivitas pertambangan tersebut terdapat mineral ikutan seperti monasit yang berpotensi menjadi sumber bahan baku logam tanah jarang.

Karena itu, Ridwan berharap Bangka Belitung tidak hanya menjadi daerah penghasil timah, tetapi juga mampu berkembang menjadi pusat industri LTJ nasional.

"Harapan saya jauh lebih tinggi dibanding kondisi sekarang. Babel harus bergerak lebih cepat, menyiapkan sumber daya manusia, kawasan industri, dan seluruh kebutuhan pendukung agar siap menjadi lokasi industri LTJ," tegasnya.

Ia juga mendorong pemerintah daerah untuk mengambil peran lebih aktif dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi pengembangan industri tersebut.

Ridwan mencontohkan Malaysia yang dinilai lebih cepat mengambil peluang dengan membangun industri pengolahan LTJ melalui kerja sama dengan perusahaan asal Australia, Lynas Rare Earths.

Menurutnya, keunggulan Malaysia bukan semata-mata karena memiliki cadangan LTJ yang lebih besar, tetapi karena negara tersebut memiliki visi industri yang lebih jelas serta dukungan kebijakan yang konsisten.

"Malaysia lebih visioner. Industri digerakkan dengan dukungan para pakar dan kebijakan yang memberi kepastian kepada investor. Kita memang terlambat, tetapi jangan menambah beban administrasi yang justru menghambat pelaku usaha," katanya.

Indonesia terlambat membangun industri Logam Tanah Jarang (LTJ). Malaysia lebih dulu membangun industri pengolahan LJT.
Indonesia terlambat membangun industri Logam Tanah Jarang (LTJ). Malaysia lebih dulu membangun industri pengolahan LJT. (Bangkapos.com/Chat GPT)

China Masih Kuasai Industri LTJ Dunia

Baca juga: Keluarga Turis China yang Tewas Tenggelam di Pulau Kelor Sepakati Ganti Rugi, Dibayar Bertahap

Tantangan Indonesia semakin besar karena rantai pasok industri LTJ dunia masih didominasi China.

Dalam Seminar Nasional Logam Tanah Jarang yang digelar Universitas Bangka Belitung (UBB), Direktorat Jenderal Minerba ESDM memaparkan bahwa China menguasai sekitar 76 persen kapasitas pemurnian LTJ dunia.

Sementara itu, Malaysia berada di posisi berikutnya dengan sekitar 9 persen kapasitas pemurnian, sedangkan Amerika Serikat menguasai sekitar 7 persen.

Dominasi tersebut menunjukkan bahwa kekuatan industri LTJ tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya mineral yang dimiliki suatu negara.

Kemampuan menguasai teknologi pengolahan dan pemurnian justru menjadi faktor penting untuk mendapatkan nilai tambah terbesar dari komoditas strategis tersebut.

Ridwan menilai Indonesia setidaknya harus segera membenahi sejumlah aspek fundamental jika ingin mengejar ketertinggalan.

"Potensinya sangat besar. Upaya sudah dimulai, sekarang tinggal memastikan seluruh fondasi itu dibangun secara serius," katanya.

Menurutnya, fondasi tersebut mencakup ketersediaan data cadangan yang akurat, regulasi yang sederhana dan memberikan kepastian, penguasaan teknologi pengolahan, sumber daya manusia yang kompeten, pembangunan kawasan industri, serta kemampuan menarik investasi.

Potensi LTJ Indonesia Belum Dieksplorasi Maksimal

Koordinator Perencanaan Produksi dan Pemasaran Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Dr. Raden Yudi Pratama, mengatakan Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar untuk menjadi pemain penting dalam rantai pasok LTJ dunia.

Namun, peluang tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Salah satu persoalan utama adalah masih terbatasnya eksplorasi terhadap potensi LTJ nasional.

"Sekitar 70 persen potensi logam tanah jarang Indonesia masih belum dieksplorasi secara lengkap. Kita masih bermain dengan data yang belum lengkap. Seluruh data harus masuk dalam satu pusat data nasional agar dapat dianalisis secara komprehensif," kata Yudi dalam Seminar Nasional Logam Tanah Jarang di Universitas Bangka Belitung, Kamis (23/7/2026).

Yudi menegaskan, pengembangan industri LTJ tidak boleh hanya berorientasi pada seberapa besar cadangan mineral yang dimiliki Indonesia.

Menurutnya, nilai ekonomi terbesar justru dapat diperoleh melalui proses pengolahan mineral menjadi produk bernilai tambah tinggi.

"Kita harus mengubah pola pikir, bukan hanya berorientasi pada sumber daya, tetapi juga melihat kebutuhan pasar. Jangan lagi hanya menjual mineral mentah," ujarnya.

Ia menjelaskan, LTJ kini menjadi komponen penting dalam berbagai industri modern.

Komoditas tersebut digunakan untuk mendukung pengembangan kendaraan listrik, turbin angin, baterai, semikonduktor, telepon pintar, satelit, radar hingga industri pertahanan.

Seiring dengan semakin cepatnya transisi energi global, permintaan terhadap LTJ juga diproyeksikan terus meningkat.

"Permintaan logam tanah jarang akan terus meningkat. Kendaraan listrik dan turbin angin menjadi pendorong utama," katanya.

China Dominan, Indonesia Harus Manfaatkan Momentum

Baca juga: Sidang Tuntutan Korupsi Timah Rp 89,7 Miliar di Bangka Tengah Ditunda Lagi

Yudi menyebut rantai pasok LTJ global masih sangat terkonsentrasi di China.

Negara tersebut menguasai sekitar 51 persen produksi bahan baku dan sekitar 76 persen kapasitas pemurnian dunia. Pada sejumlah unsur LTJ tertentu, penguasaan China bahkan mencapai lebih dari 90 persen.

Malaysia berada di posisi berikutnya dengan sekitar 9 persen kapasitas pemurnian global, disusul Amerika Serikat sekitar 7 persen.

Kondisi tersebut, kata Yudi, memperlihatkan bahwa persaingan industri LTJ tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya cadangan mineral suatu negara.

Negara yang mampu menguasai teknologi pengolahan dan membangun rantai pasok dari hulu hingga hilir justru memiliki posisi lebih kuat dalam industri global.

"Pembatasan ekspor logam tanah jarang berat oleh China menjadi sinyal bahwa komoditas ini sangat strategis. Indonesia harus memanfaatkan momentum ini," ujarnya.

Selain persoalan teknologi dan data, pemerintah juga masih perlu menyempurnakan regulasi terkait pemanfaatan mineral ikutan.

Hal tersebut mencakup monasit, xenotim, sisa hasil pengolahan (SHP), hingga tailing timah yang berpotensi menjadi sumber bahan baku LTJ.

"Regulasi harus dipercepat, tetapi tetap sesuai aturan. Harus jelas siapa yang mengelola, bagaimana tata kelolanya, serta perlindungan lingkungannya," tegasnya.

Pemerintah telah menetapkan LTJ sebagai Mineral Kritis melalui Kepmen ESDM Nomor 296.K/MB.01/MEM.B/2023 dan sebagai Mineral Strategis melalui Kepmen ESDM Nomor 69.K/MB.01/MEM.B/2024.

Pengaturan tersebut kemudian diperkuat melalui PP Nomor 39 Tahun 2025 yang membuka pemanfaatan LTJ dari mineral utama maupun mineral ikutan untuk mendukung pengembangan industri strategis nasional.

Babel Punya Modal Besar Jadi Pusat LTJ

Di tengah persaingan industri LTJ dunia, Bangka Belitung dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi salah satu pusat pengembangan industri tersebut di Indonesia.

Data yang dipaparkan menunjukkan Indonesia memiliki sumber daya sekitar 136,20 juta ton bijih dengan kandungan sekitar 118,65 ribu ton logam. Potensi tersebut tersebar di sejumlah wilayah, terutama Sulawesi Barat dan Bangka Belitung.

Bangka Selatan tercatat memiliki potensi sekitar 56,33 juta ton bijih dengan kandungan 27,66 ribu ton logam. Sementara itu, Belitung memiliki sekitar 10,79 juta ton bijih dengan kandungan 5,54 ribu ton logam.

"Potensi logam tanah jarang Indonesia berada di Sumatera Utara, Bangka Belitung, dan Sulawesi Barat. Khusus Bangka Belitung, sumber utamanya berasal dari monasit sebagai mineral ikutan penambangan timah," kata Yudi.

Potensi tersebut membuat Bangka Belitung dinilai memiliki modal awal yang kuat untuk membangun industri LTJ.

Namun, keberhasilan pengembangan industri tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan bahan baku.

Diperlukan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, BUMN, pelaku industri, dan investor untuk membangun ekosistem industri dari hulu hingga hilir.

Jangan Sampai Babel Hanya Jadi Penonton

Rektor UBB, Prof. Ibrahim, menilai Bangka Belitung menghadapi persoalan klasik dalam pengelolaan sumber daya alam.

Selama ini, provinsi tersebut dikenal sebagai penghasil sekitar 90 persen timah nasional.

Namun, nilai tambah dari komoditas tersebut dinilai masih banyak dinikmati pihak lain karena pengembangan industri hilir di daerah belum optimal.

"Kita menghadapi paradoks. Bangka Belitung menghasilkan timah dalam jumlah besar, tetapi hilirisasinya hampir tidak ada. Jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton di negeri sendiri," ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya menilai pengembangan industri LTJ harus dimulai dengan memastikan data cadangan yang akurat.

Selain itu, regulasi terkait pemanfaatan mineral ikutan dan tailing hasil penambangan timah juga perlu segera diselesaikan.

Sementara itu, Deputi Bidang Riset dan Pengembangan Teknologi Badan Industri Mineral (BIM), Prof. Yogi Wibisono Budhi, mengingatkan bahwa tantangan terbesar dalam pengembangan LTJ bukan hanya persoalan ketersediaan bahan baku.

Menurutnya, Indonesia juga harus mampu menguasai teknologi untuk memisahkan 17 unsur logam tanah jarang yang memiliki karakteristik kimia yang hampir serupa.

"Penguasaan teknologi menjadi kunci. Indonesia tidak boleh mengulang kesalahan ketika kehilangan nilai tambah pada sektor gas alam karena lemahnya struktur industri hilir," katanya.

Komitmen untuk mendorong hilirisasi LTJ juga disampaikan PT Timah, PT PERMINAS, BRIN, serta kalangan akademisi.

Mereka menilai Bangka Belitung memiliki modal yang relatif lengkap untuk dikembangkan sebagai pusat industri LTJ nasional, mulai dari potensi bahan baku, sumber daya manusia, hingga keberadaan institusi pendidikan dan riset.

Namun, seluruh potensi tersebut harus diikuti dengan pembangunan teknologi, riset, investasi, sumber daya manusia, dan regulasi yang berjalan secara terpadu.

Seminar Nasional bertajuk "Logam Tanah Jarang dan Mineral Strategis Lainnya" yang digelar UBB kemudian menghasilkan Deklarasi "Mineral untuk Negeri".

Deklarasi tersebut menjadi komitmen bersama pemerintah, DPR RI, BUMN, perguruan tinggi, lembaga riset, dan pelaku industri untuk mempercepat hilirisasi mineral strategis.

Deklarasi itu juga menegaskan tekad para pemangku kepentingan untuk membangun tata kelola mineral strategis yang transparan, berkelanjutan, berbasis teknologi, serta mampu memperkuat kedaulatan ekonomi Indonesia.

Bagi Bangka Belitung, momentum tersebut menjadi peluang untuk mengubah wajah industri pertambangan daerah.

Jika selama puluhan tahun timah menjadi komoditas utama, maka logam tanah jarang dari mineral ikutan seperti monasit dapat menjadi pintu masuk menuju industri strategis bernilai tambah tinggi.

Namun, peluang itu tidak akan datang dua kali. Ketika negara-negara lain telah lebih dahulu menguasai teknologi dan rantai pasok LTJ, Indonesia harus bergerak cepat agar kekayaan mineral yang ada di tanah sendiri tidak kembali berakhir sebagai bahan mentah yang nilai tambahnya dinikmati negara lain.(*)

(Bangkapos.com/Erlangga)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.