Sarat Makna Budaya, Begini Suasana Peringatan Hari Jadi ke-222 Klaten
Hari Susmayanti July 29, 2026 11:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN – Upacara Peringatan Hari Jadi ke-222 Klaten di Alun-alun Klaten, Selasa (28/7/2026), tampil beda dari upacara pada umumnya.

Seluruh rangkaian acara, mulai dari aba-aba hingga pembacaan riwayat, disampaikan dalam bahasa Jawa.

Ribuan peserta dari berbagai unsur dan lapisan masyarakat hadir mengenakan busana lurik sesuai ketentuan panitia.

Pria mengenakan surjan lengkap dengan jarik, blangkon gaya Solo, dan selop, sementara perempuan tampil dengan kebaya lurik berbawahan jarik lurik atau batik.

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, yang bertindak sebagai inspektur upacara, tampil mengenakan surjan bernuansa merah cokelat.

Ia berdiri berhadap-hadapan dengan ribuan peserta upacara, sementara jajaran Forkopimda dan tokoh masyarakat duduk di tenda kehormatan tepat di belakangnya.

"Memaknai di Hari Jadi ke-222 ini, kita sebagai sebuah kabupaten bisa terus menjaga toleransi antar umat beragama, menjaga persatuannya, bagaimana kemudian juga kita menjaga kesenian kebudayaannya," ujar Hamenang saat doorstop usai upacara.

Baca juga: Bukan Satelit, Begini Cara Kabel Bawah Laut Mengirim Data Internet Antarnegara 

Ia menyebut penggunaan bahasa Jawa dalam upacara sebagai salah satu wujud nyata menjaga warisan budaya tersebut. 

"Sehingga harapannya ke depan, ketika kita membangun Kabupaten Klaten lebih maju tidak meninggalkan warisan-warisan dari leluhur kita, baik seni maupun budaya," katanya.

Suasana upacara turut dimeriahkan penampilan Tari Saman Gayo oleh 9 mahasiswa asal Aceh, Tari Payung Juwiring, hingga tari kolosal fragmen Hadeking Klaten yang mengisahkan asal mula berdirinya kabupaten ini. Pertunjukan ditutup dengan formasi angka 222 yang dibentuk para penari.

Kehadiran Tari Saman dan Tari Payung Juwiring sekaligus menjadi simbol eratnya hubungan Klaten dengan Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, yang turut hadir sebagai tamu kehormatan bersama Bupati dan Wakil Bupati Klaten terdahulu serta pimpinan daerah se-Solo Raya.

Peserta upacara mulai memadati Alun-alun Klaten sejak pukul 07.00 WIB, sementara rangkaian inti dimulai sekitar pukul 08.00 WIB. Upacara mengusung tema "Sahita Hamemayu Raharja" yang bermakna ajakan bergotong-royong merawat dan memajukan Klaten, dan ditutup dengan pemotongan tumpeng oleh Bupati Hamenang serta penyerahan santunan bagi 222 anak yatim piatu. (*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.