Penyebab Satpam Waduk Jatiluhur Tewas Terborgol Dipastikan Dibunuh, Ada Motif Uang Pengganti BPJS?
Dedy Qurniawan July 29, 2026 12:03 PM

BANGKAPOS.COM - Penyebab tewasnya satpam bernama Sumarna yang ditemukan mengambang di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat dengan tangan terborgol kini dipastikan akibat tindak pidana pembunuhan.

Hasil autopsi menunjukkan bahwa Sumarna diduga dibunuh terlebih dahulu di darat sebelum akhirnya ditenggelamkan ke dalam waduk.

Kepolisian mengonfirmasi adanya masalah pribadi terkait uang pengganti BPJS Ketenagakerjaan yang diduga melatarbelakangi kasus pembunuhan tersebut.

Sejumlah luka parah ditemukan pada tubuh korban, termasuk luka di wajah, kepala bagian belakang, serta bekas jeratan di leher.

Teka-teki kematian satpam ini pun perlahan mulai terkuak seiring ditemukannya berbagai barang bukti di tempat kejadian perkara (TKP).

Hasil autopsi juga menyebut bahwa tidak terdapat lumpur di paru-paru Sumarna.

Lalu cuma ada sedikit volume air yang ada di paru-paru korban.

Dalam laporan pewarta Kompas TV, hasil autopsi korban menunjukan sejumlah luka ditemukan di tubuh Sumarna.

Kabarnya ada beberapa luka di wajah dan kepala belakang Sumarna.

Tak cuma itu, di leher Sumarna juga ditemukan luka jeratan.

Selanjutnya, polisi juga menemukan dua borgol di TKP pembunuhan.

Satu borgol terpasang di tangan korban, satu lagi terletak di TKP.

Polisi juga menemukan ponsel milik korban di sekitaran TKP.

Ditemukan 2 borgol yakni yang terpasang di tangan korban dan di sekitar TKP.

Selain itu, belakangan juga penyidik mengurai fakta baru bahwa Sumarna diduga memiliki masalah pribadi sebelum dibunuh.

Terkait permasalahan Sumarna itu dengan kaitan kematiannya tersebut tengah didalami pihak kepolisian.

Diwartakan sebelumnya, Sumarna ditemukan tak bernyawa dengan kondisi mengambang di Waduk Jatiluhur pada Jumat (24/7/2026).

Dari kasus tersebut, polisi menduga Sumarna tewas karena dibunuh.

Namun hingga kini polisi belum menetapkan tersangka ataupun menangkap pelakunya.

Kendati demikian, sudah ada 15 orang yang diperiksa kepolisian guna mengungkap kematian Sumarna.

"Kita sudah melakukan hipotesa atau beberapa kemungkinan. Sudah banyak kemungkinan yang kita kumpulkan itu kami dalami lebih lanjut," ungkap Kasat Reskrim Polres Purwakarta AKP I Made Purwantara dilansir dari Kompas TV, Selasa (28/7/2026).

Lebih lanjut, penyidik mengurai fakta baru soal kematian Sumarna.

Disinyalir sebelum dibunuh, Sumarna diam-diam menyimpan rahasia yakni terkait permasalahan keuangan.

"Terkait dengan permasalahan yang ada di korban (sedang didalami)," ujar AKP I Made Purwantara.

Namun, hingga kini belum diperoleh penjelasan polisi mengenai motif Satpam Waduk Jatiluhur tersebut dibunuh.

Perihal permasalahan keuangan yang dialami korban, kepala desa setempat sempat curhat ke Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Sang kades menyebut bahwa korban yakni Sumarna dipercaya memegang uang Dana Bagi Hasil Pajak (DBHP) sebagai pengganti uang Siltap guna pembayaran BPJS Ketenagakerjaan.

Sebab Sumarna adalah danton di Linmas.

"Uang BPJS itu dititip ke kalau Linmas ke Danton, saya umumkan bahwa uang itu udah dibayarkan, uang ganti BPJS Ketenagakerjaan itu udah dibayarkan tapi dititipkan ke kepalanya," ungkap kades.

Namun saat pembunuhan terjadi, Sumarna diketahui belum membagikan uang DBHP tersebut ke anggota Linmas.

"Uang yang dititipkan sama almarhum itu sudah dibagikan?" tanya Dedi Mulyadi.

"Belum, Saya tahu belum itu begitu saya umumkan, mungkin teman-temannya itu mau ngambil ke pos, tapi ternyata enggak ada," ungkap kades.

"Berapa uangnya?" tanya Dedi lagi.

"Rp1.050.000 untuk 14 orang," ujar kades.

Sempat Tegur Aksi Vandalisme

Selain itu, seorang warga bernama Warta mengungkapkan bahwa sehari sebelum kejadian, Sumarna sempat memperingatkan sejumlah orang yang melakukan aksi corat-coret di kawasan Waduk Jatiluhur.

Menurut Warta, teguran tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab Sumarna sebagai petugas keamanan yang bertugas menjaga kawasan tersebut.

Ia menyebut aksi vandalisme pertama kali dilakukan pada malam Rabu.

Kelompok yang diduga sama kemudian kembali datang ke lokasi pada hari berikutnya hingga akhirnya bertemu dengan Sumarna.

Di tengah proses penyelidikan, muncul pula unggahan status WhatsApp yang diduga dibuat Sumarna sebelum meninggal dunia.

Dalam unggahan tersebut, terlihat kondisi jalan di area Waduk Jatiluhur yang dipenuhi coretan.

Beberapa tulisan yang tampak di antaranya adalah "RPM", "Pungli", serta sejumlah gambar tidak senonoh yang diduga merupakan bagian dari aksi vandalisme.

Sebelum ditemukan meninggal, Sumarna diketahui sempat menjalankan tugas piket malam.

Ia kemudian dilaporkan menghilang sekitar pukul 03.00 WIB.

Beredar informasi bahwa sebelum kejadian, Sumarna sempat menegur sejumlah pelajar SMP yang diduga hendak melakukan aksi vandalisme pada tembok di sekitar lokasi.

Nasib Anak Mendiang Sumarna

Di luar itu, Selebriti Sinyorita Esperanza mengurai kesedihannya setelah mengetahui kasus Sumarna, satpam yang tewas dibunuh di Waduk Jatiluhur.

Artis yang juga tenar sebagai penyiar radio itu penasaran dengan kondisi anak dari satpam Sumarna tersebut setelah sang ayah meregang nyawa.

Sebab viral di media sosial cuplikan momen yang merekam anak satpam tersebut.

Tak meronta-ronta atau menangis, anak satpam tersebut hanya terdiam saat didatangi Bupati Purwakarta maupun Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Kendati demikian, raut sedih tak bisa hilang di wajah bocah yang masih duduk di bangku kelas 4 SD tersebut.

"Apa kbr nasib anak2 Almarhum Pak Sumarna ya? Koq berasa kurang ke up ya," kata Sinyorita dalam akun thread-nya, Selasa (28/7/2026).

Selain Sinyorita, artis serba bisa Aldi Taher juga ikut menyoroti nasib anak satpam tersebut.

Dalam akun media sosialnya, Aldi bahkan meminta bantuan Dedi Mulyadi agar pembunuh Sumarna segera ditangkap.

"Pak anak satpam pak @dedimulyadi71 tangkap pelaku biadap cari," kata Aldi Taher dalam akun thread-nya, Selasa (28/7/2026).Selain itu Auditor Kepolisian Itwasum Polri Kombes Pol Dr. Manang Soebeti juga turut menyoroti nasib anak satpam tersebut.

Dalam akun Instagramnya, anggota Polri yang karib disapa Pak Bray itu membagikan postingan soal anak Sumarna.

"Hanya diam, inilah anak Sumarna satpam yang dibunuh di Waduk tangan diborgol," isi tulisan di unggahan Pak Bray.

Terkait dengan nasib anak satpam tersebut, istri Sumarna telah mengurai curhatan ke Dedi Mulyadi.

Anak-anak Sumarna rupanya telah mendapatkan santunan serta beasiswa dari pihak pengurus Waduk Jatiluhur.

Ia juga diberikan santunan berupa uang Rp25 juta dari Dedi Mulyadi.

Usai diberikan bantuan biaya, anak Sumarna terlihat langsung menyalami sang Gubernur.

"Yang kelas empat yang mana? oh ini dede. Sekolah ya sekolah," kata Dedi Mulyadi seraya mengusap kepala anak Sumarna. (Tribunnews Bogor/ Tribun Style/ Bangkapos.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.