Pasangkayu Rawan Gempa, Siswa SMPN 4 Bambalamotu Dilatih Cara Menyelamatkan Diri
Nurhadi Hasbi July 29, 2026 12:47 PM

 

TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU – Puluhan siswa-siswi SMP Negeri 4 Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu, mengikuti pelatihan kesiapsiagaan bencana yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pasangkayu, Rabu (29/7/2026).

Kegiatan tersebut difokuskan pada edukasi dan simulasi menghadapi gempa bumi sebagai upaya meningkatkan kesiapan siswa ketika terjadi bencana.

Pantauan Tribun-Sulbar.com di lokasi, para siswa terlebih dahulu dikumpulkan di ruang kelas untuk menerima materi kebencanaan dari tim BPBD Pasangkayu.

Baca juga: 300 Personel Gabungan Ikuti Simulasi Penanganan Bencana Gempa Bumi dan Tsunami di Polman

Baca juga: Pimpin Apel Simulasi Kesiapsiagaan di Majene, SDK: Penanganan Bencana Butuh Sinergi Lintas Sektor

Mereka tampak serius dan antusias menyimak penjelasan yang diberikan, mulai dari pengenalan jenis bencana yang berpotensi terjadi di wilayah Pasangkayu hingga langkah penyelamatan diri saat gempa bumi.

Usai pemberian materi, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi evakuasi gempa bumi.

Dalam simulasi tersebut, para siswa diminta membayangkan kondisi ketika gempa terjadi saat proses belajar mengajar berlangsung.

Begitu aba-aba diberikan, siswa langsung berlindung di bawah meja untuk melindungi diri dari kemungkinan benda yang jatuh.

Setelah kondisi dinyatakan aman, para siswa keluar dari ruang kelas secara tertib sambil menutupi kepala dan mengikuti jalur evakuasi menuju titik kumpul di halaman sekolah.

Petugas BPBD terlihat terus memberikan arahan agar siswa memahami langkah penyelamatan diri yang benar saat menghadapi situasi darurat.

BPBD Pasangkayu Dorong Budaya Sadar Bencana di Sekolah

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasangkayu, Arhamuddin, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun budaya sadar bencana di lingkungan sekolah.

Menurutnya, edukasi sejak dini menjadi langkah penting mengingat Indonesia, termasuk Kabupaten Pasangkayu, memiliki potensi bencana alam, salah satunya gempa bumi.

"Dengan pengetahuan dan latihan yang cukup, mereka tidak panik dan bisa menyelamatkan diri dengan benar sehingga dampak yang ditimbulkan dapat diminimalisir," ujar Arhamuddin.

Ia menjelaskan, sepanjang 2026 BPBD Pasangkayu telah melaksanakan sosialisasi dan simulasi kebencanaan di enam sekolah.

Menariknya, sebagian besar kegiatan tersebut terlaksana atas permintaan pihak sekolah setelah melihat dokumentasi sosialisasi yang dibagikan BPBD melalui media sosial.

"Setelah itu beberapa sekolah menghubungi kami dan meminta agar kegiatan serupa juga dilaksanakan di sekolah mereka," katanya.

Arhamuddin mengaku menyambut baik tingginya antusiasme sekolah terhadap program tersebut.

Menurutnya, keterlibatan sekolah sangat penting karena siswa merupakan kelompok yang perlu mendapatkan pemahaman mitigasi bencana secara berkelanjutan.

Ia berharap semakin banyak sekolah di Kabupaten Pasangkayu yang mengajukan permintaan serupa sehingga edukasi kebencanaan dapat menjangkau lebih banyak pelajar.

"Semakin banyak siswa yang memahami mitigasi bencana, maka semakin siap pula masyarakat kita menghadapi kondisi darurat," ucapnya.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 4 Bambalamotu mengatakan kegiatan tersebut sangat bermanfaat bagi peserta didik karena memberikan pengetahuan yang tidak selalu didapatkan dalam pembelajaran sehari-hari.

Menurutnya, Kabupaten Pasangkayu termasuk daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa bumi sehingga edukasi seperti ini menjadi kebutuhan bagi sekolah.

"Ini sangat penting karena anak-anak harus mengetahui langkah penyelamatan diri jika sewaktu-waktu terjadi gempa," katanya.

Ia menilai simulasi yang dilakukan secara langsung lebih efektif dibandingkan hanya memberikan teori di dalam kelas.

Melalui praktik lapangan, siswa dapat memahami tindakan yang harus dilakukan dalam situasi nyata, mulai dari berlindung, melakukan evakuasi, hingga berkumpul di titik aman.

Sebagai tindak lanjut, pihak sekolah berencana melaksanakan latihan kesiapsiagaan bencana secara mandiri setiap pekan agar pengetahuan yang telah diperoleh siswa tidak mudah dilupakan.

"Harapannya, ketika terjadi kondisi darurat, siswa sudah terbiasa dan tahu apa yang harus dilakukan," ujarnya.

Pihak sekolah juga berharap kegiatan edukasi kebencanaan tidak hanya berhenti pada simulasi gempa bumi, tetapi dapat diperluas pada jenis bencana lain yang berpotensi terjadi di wilayah Pasangkayu.

Dengan pembiasaan dan latihan berkelanjutan, sekolah berharap seluruh warga sekolah memiliki budaya siaga bencana sehingga mampu merespons secara cepat, tepat, dan aman ketika menghadapi situasi darurat. (*)

Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com, Taufan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.