Empat Peluru Bersarang di Tubuh Owa Ungko, BKSDA : Diduga Sengaja Diburu
Heri Prihartono July 29, 2026 01:04 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Seekor Owa Ungko (Hylobates agilis) ditemukan dalam kondisi mengenaskan di Desa Guru Baru, Kecamatan Mandiangin Timur, Kabupaten Sarolangun.

Primata endemik Sumatera yang dilindungi itu ditemukan dalam kondisi lemas dengan empat butir peluru bersarang di tubuhnya. Satwa tersebut diduga menjadi korban aksi pemburu.

Beruntung, laporan cepat dari warga membuat satwa tersebut berhasil diselamatkan. Setelah menjalani operasi pengangkatan peluru, Owa Ungko jantan yang diberi nama Asa itu kini mulai pulih dan dipersiapkan untuk kembali ke habitat alaminya.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, Himawan Sasongko, mengatakan informasi mengenai keberadaan Owa Ungko tersebut diterima melalui call center BKSDA sekitar 24 hingga 25 Juli 2026. Saat itu, masyarakat melaporkan satwa liar tersebut dalam kondisi lemas dan diduga sakit.

“Setelah menerima laporan, kami menurunkan tim dari Seksi KSDA Wilayah I untuk melakukan evakuasi. Satwa kemudian dibawa ke Tempat Penyelamatan Satwa (TPS) BKSDA Jambi untuk mendapatkan penanganan medis,” kata Himawan saat diwawancarai, Rabu (29/7/2026).

Selama dua hari, tepatnya pada 26 hingga 27 Juli 2026, tim medis melakukan observasi dan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi satwa. Hasil rontgen mengungkap penyebab kondisi Owa Ungko tersebut melemah.

“Ternyata ada empat butir peluru yang bersarang di tubuhnya,” ujarnya.

Temuan tersebut langsung ditindaklanjuti dengan operasi pengangkatan proyektil pada 28 Juli 2026. Operasi dilakukan oleh tim medis BKSDA Jambi dan seluruh peluru berhasil dikeluarkan.

“Alhamdulillah, seluruh proyektil berhasil dikeluarkan dari tubuh Owa Ungko. Sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik,” katanya.

Menurut Himawan, Owa Ungko yang diberi nama Asa merupakan satwa jantan berusia sekitar delapan tahun. Pascamenjalani operasi, satwa tersebut menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.

“Satwa kini sudah aktif, memiliki nafsu makan yang baik, dan mulai menunjukkan sifat-sifat liarnya kembali. Saat ini masih menjalani perawatan dan pemantauan intensif. Mudah-mudahan setelah dinyatakan pulih akan kami lepasliarkan kembali ke habitat alaminya,” ujarnya.

Dari hasil pemeriksaan, BKSDA menduga kuat Owa Ungko tersebut menjadi korban pemburuan.

“Kalau dilihat dari adanya empat peluru itu, dugaan kami memang sengaja diburu,” tegas Himawan.

Meski demikian, ia memberikan apresiasi kepada masyarakat Desa Guru Baru yang memilih melaporkan keberadaan satwa tersebut kepada petugas sehingga penyelamatan dapat dilakukan sebelum kondisinya semakin memburuk.

“Kami mengapresiasi kepedulian masyarakat yang telah melaporkan keberadaan satwa ini dan mendukung proses evakuasi. Terlepas dari adanya dugaan pemburuan, masyarakat sudah menunjukkan kepeduliannya terhadap satwa dilindungi di daerah tersebut,” katanya.

Himawan mengimbau masyarakat agar segera menghubungi BKSDA apabila menemukan satwa liar yang terluka, sakit, atau membutuhkan pertolongan sehingga dapat segera ditangani oleh petugas.

“Kami mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk segera melaporkan kepada BKSDA Jambi apabila menemukan satwa liar yang terluka atau membutuhkan pertolongan. Dengan begitu, kami dapat melakukan penanganan sekaligus mencegah tindakan yang melanggar hukum maupun yang membahayakan satwa dan masyarakat,” ujarnya.

Owa Ungko merupakan salah satu primata endemik Sumatera yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan, terutama sebagai penyebar biji berbagai jenis tumbuhan. Satwa ini termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Karena itu, segala bentuk perburuan, penembakan, maupun kepemilikan tanpa izin merupakan tindakan yang melanggar hukum.

Baca juga: Beruang Masuk Permukiman dan Bobol Rumah, BKSDA Jambi Pasang Perangkap

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.