TRIBUNJATIM.COM - Suasana Timur Career Fest dan Bazaar di GOR Ciracas, Jakarta Timur, Selasa (28/7/2026), dipadati ribuan pencari kerja yang berharap membawa pulang peluang baru.
Di antara keramaian itu, perjuangan Apni Nelya (37), atau yang akrab disapa Evi, menjadi salah satu kisah yang mencuri perhatian.
Bertumpu pada sebuah tongkat, Evi berjalan dari satu stan perusahaan ke stan lainnya sambil membawa map berisi berkas lamaran kerja.
Di sampingnya, putra semata wayangnya yang masih berusia enam tahun setia menemani sepanjang pencarian kerja tersebut.
Baca juga: Ribuan Pencari Kerja Serbu Kediri Urban Job Fair 2026, Tersedia 4.500 Lowongan dari 63 Perusahaan
Kehadiran Evi di bursa kerja bukan sekadar mencari pekerjaan, tetapi juga memperjuangkan masa depan anaknya di tengah kondisi hidup yang penuh keterbatasan.
Sebelum kesehatannya terganggu, Evi pernah bekerja sebagai helper di sebuah perusahaan garmen di Depok, Jawa Barat, pada 2019.
Namun pada 2021, hidupnya berubah setelah didiagnosis mengidap penyakit autoimun.
Kondisi tersebut membuatnya harus menjalani perawatan intensif hingga akhirnya berhenti bekerja.
Kini, tongkat menjadi alat bantu yang selalu menemaninya beraktivitas.
Meski kondisi fisiknya tak lagi seperti dulu, semangatnya untuk kembali bekerja tidak pernah surut.
"Pemasukan hari-hari dari hamba Allah, terus ada yang dari yayasan, ada dari tetangga. Ya ala kadarnya aja sih. Kalau itu kan saya udah alhamdulillah ya, yang penting kita enggak sampai kelaparan banget gitu," kata Evi saat ditemui di GOR Ciracas, Selasa (28/7/2026).
Di balik perjuangannya mencari pekerjaan, Evi mengaku memiliki beban pikiran yang jauh lebih besar daripada sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ia ingin memastikan anaknya tetap dapat mengenyam pendidikan serta memiliki tempat tinggal yang layak dan nyaman.
"Tapi yang saya pikirin itu uang sekolah anak, tempat tinggal yang nyaman, yang tenang, itu yang benar-benar bikin harus, harus dapat kerjaan nih, harus," katanya.
Selama empat bulan terakhir, Evi bersama anaknya belum memiliki tempat tinggal tetap.
Mereka untuk sementara tinggal di masjid dan bertahan dengan bantuan dari sejumlah orang yang peduli terhadap kondisi mereka.
"Bukan kontrak, tapi di masjid, terus dibantu-bantu orang baik juga jadi ya enggak ada tempat tinggal, empat bulan terakhir, yang saya pikirin itu uang sekolah anak, tempat tinggal yang nyaman, yang tenang, itu yang benar-benar bikin harus dapat kerjaan nih," tuturnya.
Setelah fokus menjalani pengobatan selama beberapa waktu, Evi mulai kembali aktif mencari pekerjaan dalam dua tahun terakhir.
Ia mengirim lamaran ke berbagai perusahaan, terutama untuk posisi administrasi yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya.
Namun hingga kini, kesempatan bekerja yang diharapkannya belum juga datang.
Baca juga: Job Fair 2026 Gresik Sediakan Ribuan Kesempatan Kerja, Dari Lulusan SD hingga Sarjana
Persaingan dengan ribuan pelamar lain, termasuk para lulusan baru, menjadi tantangan tersendiri.
Meski demikian, Evi tetap berusaha mendatangi setiap perusahaan yang membuka lowongan dengan harapan ada satu kesempatan yang berpihak kepadanya.
Baginya, pekerjaan bukan hanya sumber penghasilan, melainkan juga cara untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi sang anak.
Evi juga mengungkapkan bahwa kehidupannya semakin berat setelah berpisah dengan suaminya sekitar dua tahun lalu. Sejak saat itu, seluruh tanggung jawab membesarkan anak berada di pundaknya.
"Kalau belum ada lowongan fokusnya ke pengobatan saja. Ke RSCM terus, karena kita rutin hampir tiap hari itu berobat. Nah ini abis dari sini kita langsung ke RSCM juga sih berobat, terapi," tuturnya.
Baca juga: 30 Perusahaan Ikut Job Fair Polinema 2026, Mahasiswa Bisa Dapat Kerja Sebelum Lulus
Di tengah perjuangannya, Evi berharap perusahaan dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk memperoleh pekerjaan.
Menurutnya, keterbatasan fisik seharusnya tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk berkarya dan hidup mandiri.
"Ya harapannya untuk perusahaan untuk dipermudah aja untuk para penyandang disabilitas. Apa pun kondisinya mohon diterima dengan baik tanpa ada intimidasi atau apapun," lanjut Evi.
Dengan tongkat yang selalu menemaninya dan anak yang setia berada di sisinya, Evi terus berusaha mengetuk pintu kesempatan.
Harapannya sederhana, memperoleh pekerjaan agar dapat memberikan kehidupan yang lebih layak dan rasa aman bagi buah hatinya.