Iran Ancam Inggris dan Prancis di Selat Hormuz, Kapal Penyapu Ranjau Bakal Jadi Target Sah Teheran
Dedhi Ajib Ramadhani July 29, 2026 02:42 PM

- Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan Teheran tidak akan mengizinkan Inggris dan Prancis mengirim kapal penyapu ranjau ke Selat Hormuz.

Iran bahkan memperingatkan seluruh aset militer kedua negara yang mendekati kawasan itu dapat menjadi sasaran serangan apabila tetap menjalankan misi tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Gharibabadi dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, Selasa (28/7/2026).

Gharibabadi mengatakan Iran telah menyampaikan peringatan langsung kepada Inggris dan Prancis.

Menurut dia, kapal perang maupun peralatan militer yang dikirim untuk membersihkan ranjau di Selat Hormuz akan dianggap sebagai target yang sah.

"Jika kapal perang Anda mendekati Selat Hormuz untuk tujuan ini, atau peralatan Anda, atau kapal apa pun milik Anda dengan tujuan membersihkan ranjau di dekat selat, maka mereka akan menjadi target yang sah untuk Republik Islam Iran," ujar Gharibabadi.

Ia menjelaskan Inggris dan Prancis sebelumnya berulang kali berkomunikasi dengan Iran terkait rencana pembentukan misi multinasional penyapu ranjau.

Namun, Teheran menolak seluruh rencana tersebut.

Menurut Gharibabadi, Iran tidak akan menerima kehadiran kekuatan militer asing di Selat Hormuz.

Selain itu, Iran juga menolak penggunaan jalur pelayaran selatan yang diusulkan Oman.

Ia mengatakan Iran hanya bersedia menerima skema yang memberikan kendali bersama antara Teheran dan Muscat.

"Kami tidak mengenali rute selatan dengan cara apa pun, bahkan tidak selama satu jam," ujar Gharibabadi.

Ia menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup apabila usulan Iran tidak diterima.

Bahkan, Iran membuka kemungkinan kembali terjadi konfrontasi militer.

"Jika rute yang kami usulkan tidak diterima, maka Republik Islam Iran tidak akan menerima formula lain," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Gharibabadi membantah Iran meminta pembicaraan dengan Amerika Serikat sejak konflik terbaru pecah.

Menurut dia, justru Washington yang mengirim pesan kepada Teheran untuk membuka dialog dan menghentikan eskalasi konflik.

"Kami tidak meminta negosiasi dengan Amerika Serikat," ujar Gharibabadi.

Pernyataan tersebut muncul di tengah belum adanya serangan militer baru antara Amerika Serikat dan Iran selama tiga hari berturut-turut.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump memerintahkan penghentian sementara operasi militer pada Jumat (24/7/2026).

Meski demikian, Washington tetap memperingatkan akan kembali mengambil tindakan militer apabila jalur diplomasi gagal mencapai kesepakatan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.