Netizen Bongkar 'Keanehan' Kasus Maling Ayam, Aldi Taher Balas dengan Cerita Perjuangan Lawan Kanker
Satrio Sarwo Trengginas July 29, 2026 02:53 PM

TRIBUNJAKARTA.COM - Kasus maling ayam di Tabanan, Bali, masih menjadi perhatian publik dan sejumlah artis.

Namun, ramainya perhatian terhadap kasus tersebut justru membuat seorang netizen mempertanyakan alasan para artis secara serentak ikut memberikan simpati.

Seorang pengguna Threads dengan akun @hanifah31hanifa bahkan menyebut ada kejanggalan dalam sorotan terhadap kasus maling ayam tersebut.

Ia membandingkannya dengan kasus kematian seorang satpam di Waduk Jatiluhur yang menurutnya juga semestinya mendapat perhatian serupa.

"JUJURR JANGGAL Kenapa para artis secara serentak beramai⊃2; bersimpati soal kasus maling ayam itu, padahal kasus⊃2; lain seperti satpam yg ditenggelamkan udh rame duluan kok gak dinotice," tulis @hanifah31hanifa.

Menurutnya, perhatian publik tidak seharusnya hanya tertuju pada satu kasus.

"Bukan hanya kasus satpam ditenggelamkan ini aja ya, kasus⊃2; lainnya juga harusnya sama diramaikan, dibahas dan ditindak sebagaimana kejadian pencurian ayam ini," lanjutnya.

Unggahan tersebut kemudian mendapat respons dari Aldi Taher.

Aldi memang belakangan aktif menyoroti kasus maling ayam di Tabanan sekaligus kasus kematian satpam di Waduk Jatiluhur.

Namun, respons Aldi kali ini justru membawa pembicaraan ke pengalaman pribadinya saat berjuang melawan kanker.

Aldi mengungkit masa ketika dirinya menjalani kemoterapi dan mengaku pernah berada dalam kondisi yang membuatnya merasa nyaris kehilangan nyawa.

"Ijin kak saya pernah mau mati di kemo kanker ALHAMDULILAH ALLAH kasih kesempatan hidup ke 2," tulis Aldi.

Setelah menceritakan pengalaman tersebut, Aldi menegaskan bahwa dirinya tidak membenarkan kejahatan.

"Gak ada TOLERANSI BUAT KEJAHATAN,,dan tidak dibenarkan MAIN HAKIM SENDIRI," tulisnya.

Aldi kemudian meminta agar berbagai bentuk kejahatan tetap diusut dan ditindak.

"USUT SEMUA KEBIADABAN," lanjut Aldi.

Ia juga menandai akun @manangsoebeti_official dalam unggahannya.

Respons tersebut sekaligus memperlihatkan posisi Aldi dalam polemik tersebut.

Di satu sisi, ia menegaskan tidak ada toleransi terhadap kejahatan.

Di sisi lain, Aldi juga menolak aksi main hakim sendiri terhadap seseorang yang diduga melakukan tindak pidana.

Kasus maling ayam di Tabanan sendiri sebelumnya menjadi sorotan setelah seorang pria yang diduga mencuri ayam menjadi korban pengeroyokan.

Peristiwa tersebut kemudian ramai dibahas di media sosial dan mendapat perhatian sejumlah figur publik.

Sementara itu, kasus kematian satpam di Waduk Jatiluhur ikut kembali disinggung dalam perbincangan netizen.

Disorot anggota DPR

Anggota Komisi XIII DPR dari Fraksi Partai Golkar, Bias Layar, mengkritik tragedi tewasnya pencurian ayam di Bali yang disebabkan oleh tindakan main hakim sendiri.

"Kita harus mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan supremasi hukum. Tidak boleh ada seorang pun yang kehilangan hak hidupnya karena dihakimi oleh massa. Indonesia adalah negara hukum, bukan negara yang membenarkan kekerasan sebagai bentuk penegakan keadilan," ujar Bias dalam siaran pers, Selasa (28/7/2026) dikutip Kompas.com. 

Dia mengingatkan, budaya main hakim sendiri justru merusak prinsip negara hukum serta berpotensi menimbulkan pelanggaran HAM yang lebih berat dibandingkan perbuatan yang dituduhkan kepada seseorang.

Hal tersebut Bias sampaikan dalam merespons kasus pencuri ayam yang tewas karena dikeroyok massa di Tabanan, Bali.

ALDI TAHER MENANGIS - Aktor sekaligus penyanyi Aldi Taher tak kuasa menahan tangis saat menyoroti kasus tewasnya pria berinisial KD di Tabanan, Bali, yang diduga menjadi korban aksi main hakim sendiri usai dituduh mencuri ayam aduan. Aldi mengaku sedih melihat anak korban yang harus kehilangan sosok ayah.
ALDI TAHER MENANGIS - Aktor sekaligus penyanyi Aldi Taher tak kuasa menahan tangis saat menyoroti kasus tewasnya pria berinisial KD di Tabanan, Bali, yang diduga menjadi korban aksi main hakim sendiri usai dituduh mencuri ayam aduan. Aldi mengaku sedih melihat anak korban yang harus kehilangan sosok ayah. (Banglidaily IG dan Instagram Aldi Taher)

Bias mengatakan, negara harus hadir dalam memberikan hukum kepada para pelaku pengeroyokan pencuri ayam.

Bias menyebut, negara tidak boleh memberikan impunitas kepada pelaku kekerasan manapun.

"Negara harus hadir memberikan kepastian hukum. 

Siapapun yang terbukti melakukan tindak pidana harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Tidak boleh ada impunitas terhadap pelaku kekerasan," ucapnya.

Bias menyampaikan, peristiwa tersebut merupakan tragedi kemanusiaan yang tidak boleh dipandang sebagai kejadian biasa, dan harus diusut secara tuntas oleh aparat penegak hukum.

Menurutnya, sebagai bangsa yang menjunjung tinggi hukum dan hak asasi manusia (HAM), negara tidak boleh mentoleransi praktik main hakim sendiri dalam bentuk apapun.

"Apabila seseorang diduga melakukan tindak pidana, maka proses hukumlah yang harus menjadi jalan penyelesaiannya, bukan kekerasan yang menghilangkan hak hidup seseorang," kata Bias.

Lalu, Bias mengungkit hak untuk hidup merupakan hak asasi yang dijamin oleh Pasal 28A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta berbagai instrumen hukum nasional dan internasional yang telah diratifikasi Indonesia.

Oleh karena itu, tidak ada alasan yang dapat membenarkan tindakan kekerasan yang berujung pada hilangnya nyawa seseorang.

Bias turut meminta Polri mengusut kasus ini secara profesional, transparan, dan objektif.

Dia berpendapat, penegakan hukum yang tegas dinilai penting untuk memberikan keadilan bagi korban sekaligus menjadi pembelajaran agar peristiwa serupa tidak terulang.

Selain itu, kata Bias, Komisi XIII DPR mendorong lembaga-lembaga terkait, termasuk Kementerian Hak Asasi Manusia dan lembaga perlindungan korban, untuk memberikan perhatian terhadap keluarga yang ditinggalkan.

Bias menyebut, anak dan istri korban perlu memperoleh pendampingan psikologis, sosial, dan bantuan hukum apabila diperlukan, mengingat dampak kemanusiaan yang ditimbulkan dari peristiwa tersebut sangat besar.

5 Orang jadi tersangka

Polisi menetapkan lima orang tersangka dalam kasus digaan pengeroyokan pria pencuri ayam di Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali.

Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat, 24 Juli 2026. Korban berinisial KD dihakimi massa hingga tewas usai terpergok diduga mencuri ayam aduan.

Kapolres Tabanan, AKBP I Putu Bayu Pati, mengatakan bahwa polisi saat ini menangani dua perkara yang saling berkaitan.

Kasus tersebut yakni dugaan pencurian ayam, dan dugaan tindak pidana kekerasan secara bersama-sama yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

Menurut Bayu, penyidik telah memeriksa 18 saksi hingga Minggu, 26 Juli 2026.

Bayu menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya korban. Dia menyampaikan, penanganan kedua perkara dilakukan oleh Polres Tabanan dengan dukungan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Bali.

Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, korban semula diamankan warga karena diduga mencuri dua ekor ayam.

Polisi juga menyebut aksi korban diduga meresahkan warga setempat. 

Meski demikian, Bayu menegaskan bahwa aksi main hakim sendiri tidak dapat dibenarkan.

Berita terkait

  • Baca juga: Satu Video Mengubah Segalanya, Keluarga KD Terduga Maling Ayam di Tabanan Tempuh Jalur Hukum
  • Baca juga: Anak Korban Maling Ayam di Tabanan Sulit Tidur, Maia Estianty ke Pelaku: Tabur Tuai Akan Terjadi!
  • Baca juga: Ini 6 Tampang Diduga Pelaku Main Hakim Sendiri ke Maling Ayam di Tabanan, Polisi Didesak Bertindak

 
 
 
 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.