TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Pelataran Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyumas dipenuhi suasana haru pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Rabu (29/7/2026).
Sejak pagi hari, para orangtua mengantar anak-anak mereka yang akan tinggal di asrama dengan membawa tas berisi pakaian ganti, perlengkapan salat, alat mandi, hingga uang saku.
Di balik megahnya bangunan sekolah yang baru mulai beroperasi itu, tersimpan kisah-kisah pilu para siswa yang berasal dari keluarga prasejahtera.
Ada yang rela meninggalkan sekolah negeri demi meringankan beban ibunya yang sakit, ada korban perundungan yang sempat putus sekolah, hingga anak yang tumbuh di tengah kekerasan dalam rumah tangga.
Baca juga: Sehari usai Tribun Kejurnas Drift Purwokerto Ambruk, 40 Korban Masih Dirawat di 11 RS
Salah satu orangtua siswa, Dewi warga Desa Banteran, Kecamatan Sumbang, yang mengantar putranya, Kholidin, untuk kelas VII Sekolah Rakyat.
Sejak pukul 07.30, dia sudah tiba di sekolah dengan membawa berbagai kebutuhan anaknya selama tinggal di asrama.
"Saya membawa baju ganti, makanan, uang saku, dan kebutuhan lainnya," ujarnya.
Suasana serupa terlihat dari Sri Ningsih, warga Kecamatan Patikraja, yang mengantar putrinya, Zahwa Zahrotul, untuk menempuh pendidikan jenjang SMA.
Dia membawakan pakaian ganti, seragam lama, mukena, perlengkapan salat, perlengkapan mandi, sandal, hingga uang saku agar sang anak dapat beradaptasi dengan kehidupan di asrama.
Tinggalkan SMP Negeri Demi Sang Ibu
Di antara ratusan siswa baru, kisah Noval Dwi Saputra menjadi salah satu yang paling menyentuh.
Remaja asal Kelurahan Mersi, Purwokerto Timur itu tumbuh dalam kondisi keluarga yang penuh keterbatasan.
Ayahnya merupakan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), sedangkan ibunya bekerja sebagai pemulung dan kini dalam kondisi sakit-sakitan hingga sulit diajak berkomunikasi.
Selama ini Noval tinggal bersama ibu dan kakaknya yang masih duduk di bangku SMA.
Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kelurahan Mersi, Ayu Dewi mengungkapkan, Noval sebenarnya telah diterima di SMP Negeri 1 Purwokerto.
Namun Noval justru memilih masuk Sekolah Rakyat agar tidak membebani keluarganya.
"Anaknya sendiri yang minta pindah ke Sekolah Rakyat karena ibunya sakit-sakitan. Yang mengurus Noval selama ini ibunya."
"Dia juga berpikir ke depan soal biaya. Anaknya dewasa banget," kata Ayu.
Menurut Ayu, Noval juga kerap menyaksikan ibunya mengalami kekerasan dari sang ayah saat mereka masih tinggal bersama.
Meski hidup dalam keterbatasan, Noval memilih pendidikan berasrama agar tetap bisa melanjutkan sekolah tanpa menambah beban ekonomi keluarga.
• Kematian Sutrimo Masih Misteri, Sepekan Sebelum Ditemukan Tewas Sempat Pulang ke Banyumas
Pernah Putus Sekolah karena Dibully
Kisah mengharukan lainnya datang dari DC (11), siswa yang diantar neneknya, Wartiah (52).
Menurut Wartiah, cucunya merupakan anak yatim yang sejak kecil telah menghadapi berbagai cobaan hidup.
Saat berusia sekira 2,5 tahun, DC pernah tersengat listrik hingga koma sebelum akhirnya sadar kembali.
Memasuki usia sekolah, dia menjadi korban perundungan karena pendiam dan berstatus sebagai anak yatim.
DC sempat bersekolah di SD Negeri Mersi 4, tetapi akhirnya putus sekolah saat duduk di kelas III SD.
"Dia dibully karena pendiam. Setelah putus sekolah, ya di rumah saja," ujar Wartiah.
DC juga pernah tinggal di asrama Yatim Mandiri. Namun, karena beberapa kali kabur, dia akhirnya kembali diasuh oleh keluarganya.
"Kalau di sini semoga bisa dibimbing. Saya selalu kasih nasihat supaya punya masa depan, harus berkembang dan semangat. Memang anaknya pendiam sekali," tuturnya.
MPLS Dimulai Lebih Awal
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyumas, Siti Isbandiyah mengatakan, operasional sekolah dipercepat satu hari karena seluruh sarana dan prasarana telah dinyatakan siap.
Semula pembukaan dijadwalkan pada 30 Juli 2026, namun dimajukan menjadi Rabu (29/7/2026).
"Setelah opening, dilanjutkan dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada hari berikutnya sehingga diharapkan awal pembelajaran dapat dimulai 1 Agustus 2026," jelasnya.
Selain MPLS, para siswa juga akan mengikuti Program Bakti Taruna yang melibatkan Taruna Akademi Militer (Akmil), Akademi Kepolisian (Akpol), dan akademi lainnya sebagai bagian dari pembentukan karakter, kedisiplinan, serta mental selama menjalani pendidikan berbasis asrama.
Hingga saat ini, Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyumas menampung 299 siswa dari jenjang SD hingga SMA.
Jumlah tersebut terdiri atas 249 siswa baru dan 50 siswa eksisting.
Baca juga: Bupati Sadewo Pastikan Seluruh Fasilitas Siap, Sekolah Rakyat di Banyumas Mulai Gelar MPLS Besok
Awalnya sekolah menargetkan menerima 270 siswa baru. Namun karena kuota jenjang SD belum terpenuhi, sebagian alokasi dialihkan ke jenjang SMP dan SMA.
"Jumlah siswa sampai hari ini dari SD sampai SMA sebanyak 299 orang, terdiri atas 249 siswa baru dan 50 siswa eksisting."
"Data ini masih bergerak karena masih ada penjangkauan untuk pemenuhan alokasi peralihan kuota dari SD ke SMP dan SMA," ungkap Siti.
Dia menambahkan, proses pembekalan siswa dilakukan secara bertahap melalui pra-MPLS, MPLS, hingga matrikulasi akademik yang dijadwalkan berlangsung sampai 30 September 2026.
Sementara itu, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menilai, fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyumas telah siap digunakan.
"Ini sekolah rakyat, tapi luar biasa, gedungnya megah sekali. Tadi sudah dicek semua fasilitasnya."
"Listrik dan air sudah siap, kemudian dapur untuk sementara menggunakan sistem katering," ujarnya.
Sadewo juga mengajak masyarakat yang masuk kategori desil 1 dan desil 2 agar tidak ragu menyekolahkan anak-anaknya di Sekolah Rakyat.
"Untuk orangtua yang masuk desil 1 dan 2 yang anak-anaknya belum mendapatkan sekolah, selama di sini masih ada kursi, monggo jangan ragu-ragu."
"Ini sekolah yang luar biasa, fasilitasnya sangat baik dan guru-gurunya berkualitas," katanya. (*)